
Hari ini Bela memindahkan pakaiannya ke apartemen Donie. Ia dibantu oleh sopir Donie. Lemari yang yang berada di kamar Donie telah dikosongkan separuh, tentu saja untuk diisi dengan pakaian Bela. Selain pakaian, Bela juga membawa beberapa barang pribadinya seperti tas, sepatu, dan buku-buku. Tidak banyak memang, tapi cukup
untuk memenuhi apartemen Donie yang tidak terlalu besar.
Sepanjang hari ini Bela penasaran dengan Donie. Kekasihnya itu tidak menjawab pesan darinya yang menanyakan tentang rapat pemegang saham yang berlangsung di kantor. Tapi Bela tetap berharap apapun yang akan terjadi, Donie akan siap menerimanya. Walaupun ia tidak berhasil menjadi presiden Direktur. Beberapa pesan yang
dikirimkan Bela tidak ada satupun yang dibuka oleh Donie. Jadi Bela berpikir, mungkin Donie masih sibuk dan tidak bisa diganggu.
Untuk sedikit mengalihkan rasa penasarannya, ia mencoba beberapa resep masakan yang bahannya tersedia di internet. Nanti sore ia dapat menyantapnya bersama calon suaminya. Selain menyiapkan makanan berat, ia juga menyiapkan dessert sederhana dan makanan ringan untuk menemaninya menunggu Donie pulang. Sejak tadi ia merasakan agak melilit perutnya karena melewatkan makan siang. Membereskan barang-barang tadi telah melupakan keinginannya untuk makan siang.
Namun Bela tidak dapat menghentikan rasa penasarannya lagi ketika waktu menunjukkan pukul 3 sore. Akhirnya diputuskannya untuk menghubungi Hilda rekannya.
“Mbak Hilda, bagaimana kabarnya keadaan di kantor?”
“Kamu pasti pensaran ya dengan hasilnya? Pak Donie belum memberi kabar ya?”
“Iya mbak, pesanku tidak dibaca. Apa masih sibuk ya mbak?”
“Iya, pak Donie langsung rapat dengan dewan direksi yang lain. Ini belum selesai rapatnya. By the way, selamat yah pak Donie berhasil menjadi Presiden Direktur.”
“Syukurlah mbak. Aku lega. Tidak sia-sia kita lembur beberapa hari ini.”
Bela bernafas lega. Ia membayangkan pasti Donie sangat bahagia mencapai prestasinya sekarang.
Waktu menunjukkan pukul 5 sore. Bela telah selesai berbenah merapikan barang-barang pribadinya. Rencananya besok pagi ia dan Donie akan berpindah ke sebuah hotel untuk mempersiapkan pernikahannya. Sementara menunggu kedatangan Donie, yang berjanji akan pulang sebelum malam menjelang, ia masuk ke ruang tidur tamu yang terletak bersisian dengan kamar tidur Donie. Ia melihat sebuah piano. Kemudian dibukanya tutup piano dan mulai menekan tuts piano itu. Rasanya rindu ingin memainkan kembali. Akhirnya, ia duduk dan mulai memainkan piano itu.
Entah mengapa, saat ini yang diingatnya adalah lagu yang liriknya diciptakan oleh seorang pujangga Sapardi Djoko Damono, Aku Ingin.... Bibir mungilnya pun turut menyanyikan lagu itu dengan lirih, diiringi dentingan piano dari jari-jari lentiknya yang menari di atas tuts piano.
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Ternyata suaranya bagus. Baru kali ini aku mendengar suara merdunya. Hatiku berbunga-bunga mendengarnya menyanyikan lagu ini. Semoga saja lirik lagu itu merupakan cerminan hatinya. Mungkin ditujukan untukku? Aku
berharap begitu.
Bela tidak menyadari beberapa saat yang lalu pintu apartemen terbuka dan seorang lelaki tampan berdiri menyenderkan tubuhnya di dinding dengan melipat kedua tangan di dadanya sembari memperhatikannya bernyanyi dan memainkan piano.
Plok plok plok.... terdengar suara tepuk tangan ketika Bela mengakhiri lagu pertamanya. Ia sedikit terkejut dan mengarahkan pandangannya ke pintu. Dilihatnya Donie tersenyum manis.
“Sayang, aku suka dengan suaramu. Suaramu merdu. Boleh main sekali lagi? Aku juga akan ikut bernyanyi bersamamu.”
Donie menempatkan tubuhnya duduk di samping Bela. Bela kembali menekan tuts piano dan menyanyikan kembali lagu yang tadi dinyanyikannya. Mereka berdua bernyanyi bersama. Keduanya bernyanyi sembari sesekali tersenyum dan saling menatap bahagia.
“Baru kali ini aku mendengar kamu menyanyi, mas. Menyanyi dengan serius. Biasanya kamu hanya bergumam nana nana tak jelas. Suaramu bagus lho mas.”
“Suaraku hanya untuk didengarkan orang-orang tertentu....hehe.”
“Aku senang mas, menyanyi bersama kamu. Lain kali sering-sering kita duet ya mas.”
“Ok sayang.”
Bela menutup piano dan duduk menghadap Donie. Ia berkata, “Mas, selamat ya. Kamu sudah berhasil. Tidak sia-sia perjuanganmu selama ini.”
“Mana hadiahnya?” tanya Donie dengan lirikan menggoda.
Cup....cup.... Bela mencium bibir Donie dengan mesra, lalu memeluknya.
“Nyonya Presiden Direktur, malam ini kita rayakan dengan makan di luar ya.” Donie melepaskan pelukannya.
“Ehmm......” Bela tak jadi mengucapkan sesuatu karena didengarnya ponsel Donie berbunyi. Kemudian Donie beranjak berdiri dan menerima telepon dengan berdiri sedikit menjauh dari Bela.
(Donie ) “Ya, hallo mam.”
(Lidya) “Donie, tadi mami cari setelah rapat, tapi kamu sudah pulang. Mami belum sempat mengucapkan selamat. Selamat ya nak, akhirnya kamu berhasil.”
(Lidya) “Apa? Kamu masih mau keluar malam ini? Besok kamu menikah, Done. Tidak boleh. Kamu harus di rumah saja. Jangan ke mana-mana lagi. Besok juga tidak boleh ke mana-mana.”
Donie tertegun mendengarkan ocehan maminya. Ia menggaruk-garuk kepalanya.
(Donie ) “Apa harus begitu mam?”
(Lidya) “Eh, pamali kalau kamu masih keluar. Bahkan seharusnya kamu dipingit, tidak boleh bertemu dengan Bela. Tapi mami dengar malah Bela sudah tinggal di apartemenmu sejak beberapa hari ini ya? Dasar anak muda.”
(Donie ) “Iya mam. Beberapa hari yang lalu Bela mengurus aku yang sedang sakit. Selain itu juga dia banyak pekerjaan membantuku menyiapkan acara hari ini. Jadi kuminta menginap di tempatku saja. Aku jadi lebih mudah berdiskusi, mam. Lagipula kalau sampai dipingit, tidak bertemu mana kuat aku mam. Bisa sakit lagi aku, mam.”
(Lidya) “Tapi ingat lho, nak. Dia belum jadi istrimu. Besok kalian baru sah sebagai suami istri. Jangan berbuat yang tidak – tidak.”
(Donie ) “Janji mam.... aku tidak berani macam-macam dengan calon istriku. Percayalah mam, aku ini anak mami yang baik, playboy insyaf, mam.”
(Lidya) “Hahaha.... dasar anak muda. Oke silahkan istirahat yang cukup supaya besok acaranya lancar.”
(Donie) “Baik mam. Terima kasih.”
“Sayang, kita tidak boleh keluar rumah sampai besok. Pamali, kata mami.”
“Aku juga mau bilang begitu mas, karena aku sudah masak tadi siang, untuk makan malam kita. Sekarang kamu mandi dulu gih....”
Donie menatap Bela dengan takjub. Ia tidak menyangka Bela sudah menyiapkan makan malam. “Jadi begini yah rasanya, bahagia. Pulang ke rumah, makan malam sudah disiapkan oleh istri tercinta.”
“Tapi makannya seadanya ya mas. Aku masak bahan-bahan seadanya dari kulkas.”
“Oke. Aku mandi dulu.”
Donie meninggalkan Bela dan bergegas untuk membersihkan diri. Bela beranjak dari hadapan piano dan menuju pantry. Ia menyiapkan kudapan ringan di sebuah piring dan membuatkan teh jahe untuk menemani mereka berdua di sore hari ini. Bela membawa makanan dan minuman itu dengan sebuah nampan dan meletakkannya di meja
yang berada di ruang utama. Ia mengambil remote televisi dan menyalakannya. Ketika dilihatnya tidak ada acara yang menarik, ia mengalihkannya menuju folder-folder yang berisi film. Dipilihnya sebuah film lama yang dirasa akan cocok ditonton sore hari ini, menghibur mereka berdua. Film My Stupid Boss 2 yaitu sebuah film drama komedi.
Tak lama kemudian Donie bergabung dengan Bela. Ia duduk di sebelah Bela. “Kamu buat makanan apa, sayang?” dilihatnya Bela tengah mencelupkan makanan putih bulat ke dalam mangkuk keciil berisi cuka dan memakannya. Donie melihat dengan penasaran karena bentuknya tidak seperti pempek. Makanan yang sering dimakan dengan kuah cuka.
“Oh ini. Coba dulu mas.”
Donie mengikuti Bela dengan mengambil makanan dan mencelupkannya ke dalam cuka.
“Bagaimana rasanya?”
“Hemmm enak. Ini bukan pempek ya?”
“Bukan, mas. Kamu belum pernah makan yang seperti ini?”
“Belum. Baru kali ini. Tapi ini enak, enak sekali.... ada rasa khasnya.”
“Ini namanya cireng, mas. Aku kasih bumbu ketumbar. Supaya rasanya berbeda dengan yang lain. Heran yah, makanan seperti ini belum pernah nyoba. Padahal makanan ini banyak ditemui di pinggir jalan.”
“Enak banget, Bela. Serius. Aku mau, kamu makannya jangan banyak-banyak.”
“Dih.... ampun deh kamu mas. Aku yang bikin lho kenapa malah aku nggak boleh makan banyak. Kalo kamu doyan, lain waktu aku bikinkan lagi.”
Donie langsung melahap beberapa cireng sekaligus. Mungkin karena Bela yang membuat atau memang perutnya terasa lapar atau karena suasana yang begitu pas, sehingga makanan sederhana itu terasa sangat mewah di mulutnya.
“Sayang, kamu berhenti kerja saja. Di rumah, bikin makanan.”
“Bosan dong mas.... di rumah nggak ada kerjaan. Masak juga hanya sebentar.”
“Kamu bikin usaha jualan makanan saja. Masakanmu enak-enak lho. Buka toko online, atau kalau mau jualan yang langsung bertemu dengan pelanggan, aku buat restoran atau kafe untuk kamu.”
“Halah... dasar aja nggak takut kalo aku jadi pengawas di kantor. Takut nggak bebas. Iya kan?” Bela mencubit perut Donie.
“Bukan begitu sayang. Aku hanya ingin kamu punya waktu lebih banyak di rumah. Mengurus aku dan nanti mengurus anak-anak kita. Kamu masak apa untuk makan malam?”
“Udang asam manis, tahu goreng, dan sayurnya cah bokcoy teri nasi. Lumayan lho mas, daripada makan di luar. Lebih hemat.”
“Pintar sekali kamu sayang. Aku pria yang sangat beruntung mendapatkan kamu. Terima kasih ya sayang, sudah bersedia bersamaku. Aku yang jauh dari sempurna ini.”
“Hus.... ngomong apa sih kamu mas. Aku juga tidak sempurna, mas.”
Mereka pun menikmati kudapan sore dengan rasa bahagia ditemani film komedi.