
HALLO READERS, JIKA KALIAN SUKA, JANGAN LUPA YA BERI :
· Komentar
· Like
· Favorit
· Tip
SELAMAT MEMBACA
BAB 23
**di halaman kantor Grup Sinar Wijaya**
Kenapa malah hujan deras gini sih? Gimana gue bisa pulang?
Bela menangis. Hatinya terasa sakit. Ternyata seperti ini rasanya jika disakiti oleh seorang pacar. Pacar pertama Bela, yang belum genap dua bulan berpacaran menyakiti Bela. Bela memandang lurus ke depan, melihat hujan dengan mata nanar.
Mungkin langit juga sedih, liat gue nangis. Langit ikut-ikutan menangis. Baru aja gue ngerasain bahagianya orang pacaran, udah harus sedih begini. Gue nggak tahan lagi, pengen teriak. Gue pengen maki-maki Donie bos ubur-ubur itu.
Bela berjalan ke arah hujan. Ia tidak perduli lagi jika bajunya akan basah kuyup.
****
Donie berjalan dengan tergesa-gesa ke arah lift. Para karyawan yang melihat Direktur Donie terburu-buru, memberikan jalan dan menunduk hormat ke arah Donie. Bahkan karyawan yang hendak menggunakan lift pun tidak jadi masuk lift. Mereka membiarkan Donie menggunakan lift sendiri.
Sesampainya di lantai satu, Donie melihat ke arah luar.... hujan deras. Ia menelepon Bela.... namun teleponnya tidak aktif.
Donie berjalan ke luar dan dilihatnya sosok Bela yang berada di luar pagar halaman kantor. Dilihatnya gadis mungil itu berdiri di tepi jalan seolah tidak memperdulikan hujan.
Astaga Bela.... kamu ngapain?Donie bergumam sendiri.
Dengan khawatir, Donie keluar dari kantornya dan berteriak kepada Bela...
“Belllaaaaa.....!!!”
“Isssaaabbbeeellllaaaa.......!!!”
Tampaknya Bela tidak mendengar panggilan Donie. Yah, dia tidak memperdulikan apapun. Dia hanya sedang peduli dengan kepedihan hatinya.
Penjaga di pos satpam datang menghampiri Donie.
“Perlu saya panggilkan ke sini pak, mbak Isabelanya?”
“Iya, ajak ke sini pak. Pakai payung. Kalau tidak mau, paksa ke sini.”
“Baik pak.”
Tak lama kemudian, sebuah mobil Brio hitam menghampiri Isabela. Kemudian Bela masuk ke dalam mobil itu.
Donie tertegun melihat Bela yang masuk ke mobil itu. Ia terdiam agak lama di halaman kantor, sampai penjaga menghampirinya dan mengagetkannya.
“Pak. Mbak Isabelanya sudah dijemput.”
Donie berlalu dari depan penjaga yang terheran-heran itu. Ia berjalan menuju ke tempat parkir dan menjalankan mobilnya menuju ke arah rumah Bela.
****
“Vir.... huhuhuhu....”
“Aih.... nangis pula. Ya udah deh... nangis dulu. Entar ceritanya. Gue nganter dokumen dulu ke kantor yah, bentar aja. Nanti pasti gue anterin ke rumah.”
“Huhuhuhu..... Virnie.....”
“Cup...cup....cup.... anak manis. Tarik nafas... tiga kali.”
Virni memarkirkan kendaraannya di tempat parkir di halaman kantornya. Bela masih menangis tersedu-sedu di dalam mobil.
Mungkin memang gue seperti pungguk merindukan bulan. Ah... entahlah pepatah apa yang tepat. Yang jelas gue ngerasa nggak pantas dengan mas Donie. Dia tuh salah satu direktur di perusahaan tempat gue kerja. Pewaris tunggal Grup Sinar Wijaya. Nggak mungkin kan gue yang hanya seorang karyawan kantor itu, dapat cinta dari mas Donie? Hallo....gue ini siapa sih....? Apalagi dibandingkan dengan Stefanie Hotman.... ratu pesta yang super
tajir dan cantik itu. Uh...gue nggak ada apa-apanya. Tau diri dong Bel.....
***
Sambil mengendarai mobil, Donie kembali menelepon Bela, namun tidak aktif. Entah sudah berapa kali Donie menghubungi Bela. Rasa khawatir menyeruak di dada Donie. Apalagi tadi dilihatnya Bela masuk ke dalam mobil. Perasaan Donie, itu bukan taksi online.
Donie sampai di halaman rumah Bela.
Dengan berlari-lari kecil Donie menuju ke arah pintu rumah Bela. Hujan belum reda. Baju Donie sedikit basah.
Tok....tok....tok....
Tok....tok....tok....
Ceklek
Pintu dibuka dari dalam. Keluar sosok gadis muda. Donie memperkirakan ia adalah adik Isabela.
“Selamat sore.”
“Selamat sore. Anda siapa ya?”
“Eh... saya Donie, atasan Bela. Saya ke sini mencari Bela.”
“Kak Bela belum pulang pak.”
“Oh... belum sampai rumah? Tapi dia sudah dari tadi menginggalkan kantor.”
Dian mengrenyitkan dahinya.
“Sebentar pak, saya hubungi kak Bela dulu. Silahkan masuk pak.”
“Terima kasih. Saya menunggu di teras saja.”
Donie duduk di kursi rotan di teras rumah Bela.
Tak lama kemudian Dian keluar menyuguhkan teh hangat kepada Donie.
“Silahkan diminum, pak. Saya Dian, adiknya kak Bela. Saya sudah menghubungi kak Bela, tapi sepertinya ponselnya tidak aktif pak. Mungkin bateray nya habis belum dicharge.”
“Terima kasih. Boleh saya menunggu di sini sampai Bela pulang?”
“Silahkan pak. Saya tinggal ke dalam dulu ya Pak.”
“Ya.....”
Wah, kak Bela punya bos ganteng banget. Perhatian pula. Sampai segitunya ditungguin. Hehe.... pantes mbak Bela kelihatan semangat banget sekarang. Rupanya ada orang ganteng di kantornya. Nanti aku mau godain kak Bela aja deh.