
Dok .... dok.... dok .... dok .... dok....
Terdengar ketukan kasar di pintu kamar. Donie sudah bisa menebak siapa yang akan masuk ke kamar. Ia berdoa dalam hati, semoga saja mereka berdua bisa melewatinya dengan baik.
Ceklek.....
“DASAR UBUR-UBUR........!!!”
Bug...bug...bug...
Tas kecil Bela berkali-kali mendarat di tubuh Donie yang hanya memakai kaus putih tanpa lengan dan celana pendek. Bekas pukulan itu pun meninggalkan tanda kemerahan di tubuhnya.
“Bel.... Bela.... stop sayang....” Donie mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Ia merasakan sakit menerima pukulan dari tas Bela.
“Dasar playboy.....!!!”
“Sayang, please.... stop it. Sakit, sayang.” Kata Donie lagi dengan sedikit memohon.
Bela menghentikan aksinya ketika ia melihat pukulan terakhir yang dilontarkannya meninggalkan sedikit goresan di
lengan Donie. Kemudian ia menghempaskan tubuhnya di kasur.
“MAS.... AAAAAA.....KAMU PLAYBOY CAP KAMPAK.” Teriak Bela. Ia melemparkan tas kecilnya sembarangan.
“Bela.... apa yang bisa aku lakukan untuk memperbaiki semuanya?” Tanya Donie bingung.
Bela berbicara lagi dengan keras, “Mas, dengar ya, bisa tidak kamu bayangkan sebagai aku? Aku yang mendengar bahwa ternyata kamu pernah tidur dengan sahabatku. Bukan hanya sekali.... berkali-kali. Dan yang lebih parah lagi, kamu sering datang ke kafe tempatku bekerja. Terakhir kali kamu datang memarahiku karena menumpahkan minuman ke baju Arini. Walaupun waktu itu Arini tidak marah dan membelaku, kamu .... kamu tetap marah-marah dan membuatku hampir dipecat oleh manajer hotel. Oh Tuhan.......”
Donie sangat terkejut mendengar perkataan Bela. Ia mengingat kembali kejadian saat itu. Seorang pelayan wanita
berbaju coklat gemetar karena ia marahi. Sikapnya saat itu sangat arogan demi untuk membela Arini. Sekarang keadaan terbalik, ia yang kini dimarahi oleh gadis pelayan itu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa gadis itu sekarang berada di hadapannya. Dunia sangat sempit. Entah kenapa semua jadi saling berhubungan. “Maaf sayang. Maaf...... Itu masa laluku yang salah. Tolong maafkan aku, Bela.”
Bela tidak menangis. Ia hanya diam dan membulatkan matanya terus menerus menatap ke arah Donie. Pandangan matanya seolah ingin menelannya hidup-hidup. Donie pun tidak tahan dengan sikap Bela kali ini.
Donie berdiri hendak mendekati Bela. Tapi ia mengurungkan niatnya karena dilihatnya pancaran kemarahan dari mata Bela belum juga reda. Yang ia takutkan, apabila mendekati Bela kemarahannya akan makin menjadi-jadi. Ia bingung, harus bersikap seperti apa.
“Bel....Bela.... kamu mau marah lagi.”
Bug....bug....
Kali ini bantal-bantal menghantam ke arah Donie. Lalu gadisnya itu menelungkupkan wajahnya di kasur, tangannya
memukuli kasur, dan berteriak-teriak. Tak jelas apa yang ia katakan karena mulutnya tertutup dengan permukaan kasur. Donie tidak berani mendekat, ia membiarkan Bela.... masih bingung harus bersikap seperti apa. Ia menghela nafas panjang, berharap ketegangan ini segera berakhir.
Bruk....bruk....bruk... kali ini sepatu sneakers itu dilepas dengan kasar dan dilemparkan ke arah sembarangan.
Gubrak.....
Bela menutup pintu kamar mandi dengan kasar. Tak lama kemudian terdengar suara kucuran air dari shower di
Astaga, Bela sayang, ....ternyata kamu bar-bar sekali.....
Bela mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Ia berharap kucuran air ini dapat membantunya mengurangi kekesalan yang dihadapinya hari ini.
Untung saja Arini tadi tidak membahas tentang mas Donie. Walaupun tidak membahas tentangnya, tetapi aku cukup yakin Arini mengerti apa yang terjadi antara aku dengan mas Donie. Aku tahu, Arini pasti hanya ingin menjaga perasaanku. Arini gadis baik, ia tidak ingin menghancurkan persahabatan ini hanya gara-gara bos ubur-ubur itu. Ia terlihat sangat menjaga untuk tidak membicarakan mas Donie di depanku. Dulu, Arini pernah bercerita kepadaku tentang teman dekatnya yang berasal dari Jakarta dan hanya sesekali datang ke Jogja. Aku ingat sekali rona wajah Arini yang menunjukkan kebahagiaan saat bercerita tentang teman dekatnya. Katanya teman dekatnya itu sangat royal kepadanya. Sering kali membelikan Arini pakaian dan barang-barang mahal. Tetapi aku sama sekali tidak membayangkan bahwa orang itu adalah mas Donie. Akh..... menyebalkan sekali.
Ups.... kenapa aku lupa membawa baju ganti?
Donie membereskan barang-barang yang dilempar oleh Bela tadi. Setengah jam telah berlalu, namun Bela belum juga keluar dari kamar mandi. Donie mulai merasa khawatir.
“Sayang, sudah selesai belum? Jangan lama-lama.... nanti kamu masuk angin. Bel.... sudah dong, keluar sayang.”
Gubrak.... pintu terbuka. Bela keluar dengan lilitan handuk dan wajah cemberut. Ia masih menatap Donie dengan
tatapan marah. Didorongnya tubuh Donie dengan kedua tangannya ketika ia mendapati pria itu berdiri di depan pintu kamar mandi.
“Sayang, aku harus bagaimana agar kamu mau memaafkan aku?” Donie mendekati Bela yang sedang berjongkok mengaduk-aduk isi koper guna mencari pakaian ganti. Bela tetap diam dan mengacuhkan Donie.
Donie berlutut di belakang Bela, kemudian memeluk gadis yang sedang berjongkok itu dari belakang. Diletakkan
kepalanya pada bahu polos Bela. Ia menghirup aroma sabun dari tubuh gadisnya. “Sayang, bukan begini caranya. Kamu bicara, aku mendengarkan. Atau aku bicara, kamu mendengarkan. Lalu selesaikan bersama-sama. Bagaimana?”
“Okay, sekarang ceritakan tentang Arini. Dimana kamu mengenalnya, berapa lama, hubungan seperti apa yang kalian jalani?” Tanya Bela dengan posisi yang sama, tidak bergerak. Lagi-lagi bayangan kotor terlintas di kepalanya. Gambaran ketika Donie dan Arini menghabiskan malam panjang mereka di atas tempat tidur. Sangat
menjijikkan....., batin Bela. Ia menggelengkan kepala mencoba menghapus bayangan kotor itu.
“Aku dan Arini bertemu di bandara Adisucipto. Kami berkenalan karena tasnya tersangkut di koper Reino. Ia
mengenal kami sebagai Oni dan Rei. Kemudian saat aku dan Reino mencari taksi untuk ke hotel, Arini menawarkan untuk mengantarkan kami karena ia dijemput oleh kakaknya. Sejak saat itu, aku sering bertemu dengannya kalau aku bertugas di Jogja. Agak sering kami bertemu karena hampir setiap bulan aku ke sini. Yang aku tahu, dia adalah seorang mahasiswi di salah satu kampus di Jogja. Arini menemaniku ketika pekerjaan kantorku selesai. Aku tidak mengira sama sekali bahwa kita pernah bertemu di tempatmu bekerja dulu, Bela. Hubungan kami tidak berdasarkan cinta. Sekitar delapan bulan aku bolak balik ke Jogja. Setelah itu baru kali ini lagi aku ke sini. Hubungan itu sudah lama berakhir. Baru kali ini aku bertemu dengannya kembali. Aku tidak
berpacaran dengannya, Bela. Waktu itu aku juga sudah punya pacar yang lebih serius di Jakarta. ”
“Oh God.... kamu selingkuh juga. Bukan main hidupmu, mas. Kamu selalu melakukan itu mas? Tidur dengan perempuan yang kamu inginkan, bahkan ketika kamu sudah mempunyai pacar?”
“Itu dulu, Bela. Tolong mengertilah. Semua sudah lama berakhir.” Donie berusaha menjelaskan.
Donie melanjutkan lagi, “Sayang, lihat aku.” Bela membalikkan badannya menghadap ke arah Donie yang kini berlutut di depannya. Sementara Bela masih berjongkok dengan lilitan handuk di tubuhnya. “Aku tidak bisa mengubah masa lalu. Maafkan masa laluku. Bela, aku mencintaimu, sungguh. Aku berjanji tidak akan pernah mengulanginya lagi. Aku sangat berharap kamu bisa mempercayaiku, sayang.” Donie memegang kepala Bela dengan kedua tangannya, diciumnya wajah Bela, dahi, mata, hidung, pipi, dan terakhir bibirnya.
Bela memejamkan mata. Walaupun hatinya masih kesal, tapi perlakuan Donie ini berhasil meluluhkan hatinya.
“Buktikan mas, kalau aku tidak salah mempercayaimu.” Kata Bela perlahan.
“Terima kasih, sayang. I love you.” Donie memeluk Bela dengan hangat. “Sebaiknya kamu berpakaian dulu, sayang. Aku bisa tergoda.”
Bela beranjak ke kamar mandi membawa pakaiannya.
Tuhan, apakah dia yang akan menjadi suamiku kelak? Aku merasa ilfil hummmfffttt.