
Lidya Wijaya telah tinggal di rumah ini lebih dari tiga puluh tahun. Ia merasa sangat betah di rumah ini. Walaupun kini, ia hanya tinggal sendiri bersama dengan beberapa orang pegawai yang membantunya di rumah. Dulu, ketika masih muda, Lidya bekerja di sebuah bank, namun ketika sudah menikah, ia meninggalkan pekerjaannya dan
membantu perusahan suaminya.
Kini kegiatan Lidya setiap hari adalah mengurusi yayasan sosial milik keluarga. Setelah umurnya semakin tua, ia tidak lagi berhubungan dengan teman-temannya yang sosialita itu. Ia lebih memilih mengurusi sendiri dan taman yang berada di halaman rumahnya yang luas. Sehingga jika dilihat, sekarang taman itu tampak lebih indah dan asri. Sejak Thomas tidak lagi tinggal di kediaman keluarga Wijaya, Lidya hanya tinggal dengan beberapa pelayan yang telah lama bekerja di rumah itu. Akhir-akhir ini pun ada beberapa orang yang turut tinggal di rumahnya, yaitu
petugas keamanan yang disewa oleh Donie untuk menjaga Lidya.
Malam semakin larut, tetapi Donie dan Lidya masih mengobrol. Ibu dan anak itu seolah-olah ingin menghapus waktu mereka yang hilang. Mereka berdua duduk di teras samping rumah.
“Mami tidak merasa kesepian, tinggal di sini sendiri, setelah om Thomas tidak lagi tinggal di sini, maksudku?” Donie membuka pembicaraan. Sejak pertengkaran antara Lidya dan Thomas, pamannya itu tidak pernah datang lagi ke rumah ini. Mungkin ia tinggal kembali di apartemennya. Donie pun tidak pernah menanyakan kepada
pamannya itu jika bertemu di kantor. Pembicaraan mereka hanya sebatas urusan pekerjaan saja.
Lidya menghela nafasnya. “Ya, mau bagaimana lagi. Atau kamu yang mau tinggal di sini? Mami senang kalau kamu mau tinggal di sini.”
“Iya aku akan pulang ke sini kalau tidak sedang banyak pekerjaan, mam. Bela juga ya mam, tinggal di sini ?”
“Menikah dulu, Don. Mami tidak keberatan kamu dan Bela tinggal di sini. Tapi nikahi dulu. Anak orang lho itu. Kamu serius dengannya?”
“Hehe iya mam, aku serius. Secepatnya aku akan menikahinya. Mam, pengalaman kehidupan mami selama
menikah dengan papi bagaimana?”
“Pengalamannya seperti orang lain. Ada bahagianya, ada sedihnya. Pengalamannya tidak akan sama dengan yang dirasakan oleh orang lain. Sehingga cara untuk menghadapinya juga tidak akan sama. Apa yang kami hadapi, belum tentu sama dengan yang akan kamu hadapi. Satu hal yang pasti kalian harus menjaga dan mempertahankan cinta yang kalian punya. Karena hanya dengan cinta, semua pasti bisa dihadapi. Pernikahan itu janji di depan Tuhan, komitmen di depan Tuhan. Jangan sekali-kali kamu meremehkan kesakralan pernikahan.” Banyak yang Lidya sampaikan kepada anaknya untuk menambah wawasan Donie mengenai pernikahan, tentunya berdasaran
pengalamannya saja. Apabila berdasarkan teori, tentulah Donie bisa mencari sendiri di buku ataupun di media sosial.
“Kapan kamu akan melamarnya?” Tanya Lidya lagi.
“Kalau dalam beberapa hari ini bagaimana mam?”
“Yakin, secepat itu ? Kamu sudah mempersiapkan segala sesuatunya?”
“Iya mam. Hanya perlu mami yang menemani aku ke sana. Aku sudah 30 tahun lho, mam. Ini bukan sesuatu yang terburu-buru.”
“Iya, tanpa mami sadari kamu sudah dewasa. Apa kamu sudah pernah bertemu dengan kedua orang tuanya?”
“Orang tua Bela sudah tidak ada, mam. Aku hanya perlu melamar ke abangnya.”
“Oh.... mami setuju saja. Mami mendukungmu. Kapan harus ke sana, mami siap.”
Donie mengambil cangkir kopinya dan menyesapnya lagi. “Mam.... aku ingin sekali mami bisa menceritakan tentang aku.”
“Hemm?? Maksudmu?”
“Asal-usulku, mam. Itu kalau mami tidak keberatan.”
“Apa yang ingin kamu ketahui?”
“Ingin mengetahui siapa orang tuaku. Hanya menghapus rasa penasaran dalam diriku, mam. Karena aku tidak pernah mempunyai ingatan sebelum aku ke rumah ini.” Donie tidak pernah ingat tentang masa lalunya di panti asuhan. Walaupun ia telah berusaha mengingat-ingatnya, tidak ada yang ia dapatkan. Ia penasaran dengan
orang tua kandungnya, apakah masih hidup dan mengapa mereka menempatkannya di panti asuhan.
“Kalau kamu menemukan orang tua kandungmu, apa yang akan kamu lakukan?” Ada pancaran kekhawatiran dari sinar mata Lidya. Bagaimanapun, sekarang hanya Donielah orang terdekatnya. Ia pun tidak ingin hidup dalam kesendirian.
“Belum tahu, mam. Mami... aku tidak ingin bengubah apa yang telah terjadi. Aku tetaplah anak mami. Apapun kenyataannya, aku tidak akan pernah meninggalkan mami. Aku berjanji, mam.” Donie berusaha meyakinkan maminya. Ia tahu akan kekhawatiran Lidya.
“Kamu kami adopsi dari panti asuhan Sayang Ibunda. Panti asuhan itu berada di Bandung. Mami rasa papi pernah mengajakmu ke sana ketika papi menyampaikan sumbangan.”
Sejenak Donie mengingat-ingat, “Oh... iya, mam. Aku ingat, pernah ke sana beberapa kali.”
“Mami ke panti asuhan itu dan bertemu denganku?”
“Tidak , bukan begitu ceritanya. Kami berdua hanya menerima informasi dari Thomas. Dia yang mencarikan anak untuk diadopsi bagi kami. Dia yang mendatangi panti asuhan itu. Dia pula yang memilih kamu. Kami tidak ingin ada masalah di kemudian hari, jadi kami juga mengurus surat adopsi untukmu.”
“Om Thomas yang mencarikan?”
“Iya. Dia prihatin melihatku yang selalu bersedih karena teringat dengan Donita.”
“Jadi yang menemukanku di panti asuhan itu om Thomas?”
“Iya. Dia juga yang mengurus surat menyurat agar proses adopsi berjalan dengan lancar. Kami berdua hanya datang beberapa kali ke pengadilan untuk mengurus surat adopsi.”
“Mami dan papi langsung percaya begitu saja tanpa melihat aku terlebih dahulu?”
“Iya, kami percaya saja.”
“Apakah mami pernah menyelidiki tentang latar belakangku? Tentang orang tuaku?”
“Tidak pernah. Kami hanya tahu bahwa kamu berasal dari panti asuhan Sayang Ibunda.”
“Lalu datanglah kamu ke rumah kami. Melihatmu waktu itu, bukan membuatku melupakan Donita, justru itu semakin mengingatkan aku pada anak itu. Ada beberapa kemiripan juga yang aku temui pada dirimu. Akhirnya papilah yang lebih dekat denganmu. Maafkan mami, Don.”
“Tidak apa-apa mam. Semua sudah berlalu.”
“Awal datang kamu itu penakut. Tidak berani melakukan ini itu. Belajar sepeda, berenang, main di playland, semuanya kamu tidak berani. Perlu waktu lebih dari satu tahun lho untuk membuatmu berani mulai melakukan aktivitas yang seharusnya disukai anak-anak seusiamu. Tapi kamu sangat suka memancing. Karena papi tidak ada
waktu untuk aktivitas seperti itu, jadi dia lebih sering mempercayakan kamu kepada om Thomas. Kebetulan hobby om Thomas juga memancing. Saat di rumah, ada mbak Tari yang mengurusmu. Dia mengajarimu naik sepeda dan berenang di kolam renang belakang.”
“Aku begitu penakut waktu itu. Masih ingat rasanya diajari berenang oleh mbak Tari. Menakutkan.”
“Iya, dan perlu waktu yang lama untuk menghilangkan ketakutanmu.”
“Mam, aku ingin tahu latar belakangku lebih jauh. Aku ingin menyelidikinya.”
“Berusahalah, Don. Mami mendukungmu. Mungkin itu bisa menjadi obat rasa penasaranmu.”
***
Malam itu, Donie menghubungi Wiliam.
“Hallo....”
“Hallo Don”
“Aku perlu bantuan kamu lagi Wil.”
“Jangan sungkan.”
“Wil, tolong selidiki tentang latar belakangku di panti asuhan Sayang Ibunda Bandung.....”
“Ok.... baiklah....”
***
Keesokan paginya Donie bertemu dengan pengacaranya, menyelesaikan laporan dan menyampaikannya
kepada pihak kepolisian. Kini ia tinggal menunggu saja tindakan dari pihak kepolisian.