
Donie dan Bela menyelesaikan makan malam mereka. Karena hari semakin malam, mereka memutuskan berjalan ke arah utara menuju hotel. Mereka berjalan bergandengan tangan sembari menikmati suasana di Jl. Malioboro. Donie sering menghabiskan malam dengan berjalan-jalan di sekitar Malioboro, dulu sekali ketika ia masih sering mengunjungi Jogja. Sementara Bela sangat menikmati suasana Jl. Malioboro yang meninggalkan kesan mendalam baginya. Tanpa terasa perjalanan yang cukup jauh itu pun mereka lewati dengan hati gembira. Kini mereka berdua telah sampai di sekitar hotel.
“Mampir mall sebentar ya Bel.” Donie mengajak Bela masuk ke dalam mall yang dekat dengan hotel. Bela pun mengangguk mengikuti langkah Donie.
Donie sangat memanjakan Bela. Ia membelikan beberapa potong pakaian untuk Bela. Walaupun sebenarnya Bela
bukanlah tipe gadis yang suka berbelanja pakaian, apalagi pakaian-pakaian yang tidak perlu. Di lemarinya tidak banyak stok pakaiannya. Pakaian yang tidak sering dipakai akan diberikannya kepada orang lain. Bela lebih suka membeli buku. Agaknya Donie belum mengetahui bahwa Bela senang mengoleksi buku-buku.
Donie membawakan dua kantung belanjaan yang berisi pakaian Bela dan makanan.
Bela menatap Donie dengan pandangan memelas, “Sudah mas, aku capek. Kakiku tidak kuat lagi.”
“Sebentar, kucari obat pereda pegal-pegal.”
“Aku duduk di sini aja, mas.” Bela menghempaskan pantatnya pada kursi kayu panjang yang terletak di depan toko
retail farmasi. Sedangkan Donie masuk mencari obat-obatan yang dimaksud.
Baru saja Bela hendak meluruskan kakinya dan menyandarkan punggungnya, ia mendengar namanya dipanggil, “ABEL.......ABEL.”
Siapa lagi yang biasa memanggilnya dengan nama itu selain...... Trendy. Yah, Tendy mantan pacarnya. Bela mencari sumber suara itu, ternyata seorang lelaki yang berdiri di sebelah kanan berjarak sekitar meter dari tempat
duduknya. Manik mata coklat itu.... mata yang sangat dikenalnya. Sosok itu menghampirinya, mengambil tempat duduk di sampingnya.
“Trendy.....” Bela terkesiap menatapnya.
Lelaki tersenyum, itu mengulurkan tangannya ke arah Bela. Mereka saling bersalaman.
Abel, kamu semakin cantik. Tidak banyak berubah, hanya sekarang terlihat lebih memperhatikan penampilannya.
Sial, kenapa aku jadi grogi begini? Sementara Trendy terlihat tenang saja. Ia terlihat jauh lebih dewasa dengan
kumis tipisnya. Pesonamu tidak berubah, Trendy. Bahkan sekarang terlihat semakin dewasa.
“Apa kabar Abel?”
“Kabar baik. Kamu sendiri bagaimana?”
“Seperti kelihatannya. Aku baik-baik saja.”
“Sudah lama ya Bel....” Trendy memberi jeda perkataannya, “Bukannya kamu tinggal di Jakarta?”
“Iya, aku di sini beberapa hari, ada pekerjaan. Kamu, kenapa ada di sini?”
“Itu.... aku bekerja di sana.” Jawabnya dengan menunjuk Toko Retail Farmasi di depan mereka.
“Oh....” Bela merasa gugup, tidak tahu lagi harus berbicara apa.
“Ehm... kapan kamu kembali ke Jakarta?”
“Kemungkinan hari Rabu.”
“Menginap di......?”
“Hotel sebelah.” Jawab Bela lagi. “Sudah lama bekerja di sini Tren?”
“Tiga tahun mungkin. Sebelumnya aku kerja di Semarang, di perusahaan yang sama. Kemudian karena ada posisi lowong di sini, aku mengajukan mutasi ke sini. Bagaimana dengan pekerjaanmu?” Trendy menjelaskan lagi.
“Baik, lancar.”
“Abel, nomor ponselmu masih sama?” Tanya Trendy dengan sedikit berharap.
“Masih.”
Sejenak ia berpikir sebelum bertanya, “Ehm.... boleh aku menghubungimu?”
“Boleh, kita kan berteman. Awalnya berteman dan sekarang tetap berteman. Begitu kan?”
Sial, siapa lelaki yang duduk di sebelahnya? Kenapa mereka berbicara begitu dekat?
“Sayang, ayo kita kembali ke hotel.” Donie menghampiri Bela yang dilihatnya sedang mengobrol dengan seorang lelaki.
“Ayo mas. Tren, aku tinggal dulu.” Bela segera berdiri dan menyalami Trendy.
dengan sebutan ‘sayang’. Mungkin suaminya atau juga kekasihnya, batin Trendy lagi. Trendy masih ingin berbincang dengan Bela, wanita yang pernah menemani hari-harinya dengan penuh kebahagiaan. Bahkan sampai hari ini pun, tidak ada yang bisa menggantikan posisi Bela di dalam hatinya. Namun ia selalu saja terhalang restu
dari kedua orang tuanya.
***
Bela duduk di sofa menonton tv. Ia tak banyak bicara sejak dari mall tadi. Donie tahu, ada yang tidak beres dengan gadisnya ini. Donie hanya menduga-duga saja. Dibukanya laptop dan diceknya email yang masuk.
“Bel, kamu melamun. Acara di tv begitu kamu tonton?” Donie terheran-heran melihat Bela menonton pertandingan
bola. Donie sudah tahu, pasti Bela tidak menikmati apa yang dia tonton.
“Ah..... Kakiku pegal, capek.” Bela mengalihkan pembicaraan.
Donie beralih duduk di samping Bela dengan membawa krim pereda pegal. “ Sini kakinya, aku pijit.” Dengan lembut
Donie mengoleskan krim sembari memijat kaki Bela.
“Mas.... mau cerita.”
Donie menghentikan pijatannya. Ia menggeser duduknya mendekati Bela. “Apa? Cowok tadi ya? Siapa dia?”
Bela berdehem. “Iya. Dia mantan pacar aku.”
“Hemmm.... aku sudah duga sih.” Donie menatap pandangan mata Bela, mencoba menerka apa yang sedang dipikirkan gadisnya ini.
Bela mengernyitkan dahinya, “Kenapa kamu nggak nanya?”
“Aku tahu, kamu bakal cerita sendiri. Terus kenapa, kamu jadi ngelamunin dia?”
“Teringat aja mas, kenangan enam tahun yang lalu. Tidak mungkin aku lupa kan, dia pernah jadi orang terdekatku.
Dan kami pisah juga baik-baik. Seharusnya tetap menjadi teman baik seperti sebelum pacaran, seperti hubunganku dengan Erna.”
“Kenapa kalian putus?”
“Orang tuanya tidak setuju. Mereka mencari menantu yang memenuhi kriteria bibit, bebet, dan bobot. Mas, mami kamu tidak seperti mereka kan?” Terbersit di pikiran Bela bahwa keluarga Donie akan mencari pasangan yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan. Mungkin seperti mencari pekerjaan, ada standar tertentu yang harus dipenuhi.
Donie terperangah dengan pikiran Bela. Mengapa dia kini disamakan dengan keluarga mantan kekasihnya. “Kok jadi aku? Tidak mungkinlah mami seperti itu. Aku juga hanya cari seorang yang bisa buat aku bahagia. Itu sudah cukup, yang lain tidak penting.”
Sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “Berapa lama kamu pacaran dengan dia?”
“Sekitar dua tahun.”
“Selama dua tahun itu, kamu pernah diapain?”
“Mas.... apaan sih. Memangnya kamu? Trendy itu sopan, nggak pernah macem-macem. Mana pernah tangannya *****-*****. Please deh mas, mikirnya jangan horor.”
“Wih.... belain mantan pacar. Maksudnya aku yang sering *****-*****? Sakit hatiku .....hiks.” Donie pura-pura meringis kesakitan memegangi dadanya. (Oh, jadi namanya Trendy, batin Donie).
“Halah.... lebay kamu.....” Tangan Bela mendorong bahu Donie.
“Bener lho Bel. Coba pegang sini..... sakit di sini.” Donie menangkap tangan Bela dan meletakkan di dadanya.
“Dasar pengen dipegang kan?”
“Sayang, kamu jangan dekat-dekat dengan lelaki lain, dong. Mana ada persahabatan antara lelaki dan perempuan.
Padahal tadi hanya kutinggal sebentar, tidak sampai 20 menit, kamu sudah CLBK.”
“Apaan sih. Seenaknya bilang CLBK. Sudahlah.... tidak akan selesai kalau dibahas terus.” Bela menjawab.
“Ayo tidur. Besok kerja.... kerja....” Donie masih jengkel sebenarnya, tapi ia merasa sangat mengantuk.
“Iya pak bos.”
“Goodnight, beibie.”
“Goodnight, pak bos.”