
BAB 14
**di kamar Bela**
Apaan sih? Rasanya kok gini amat yah. Malu, seneng, nagih.... ehmmmm pak Donie ngapain sih berbuat gitu ke gue? Ntar gue jadi suka lagi. Padahal gue ini siapa sih? Nggak level lah dibandingin dengan pak Donie. Apa pak Donie sering begitu sama cewek? Apa Pak Donie belum punya pacar? Gue sih belum pernah denger gosip tentang pacarnya pak Donie. Bawa cewek aja nggak pernah. Yang gue liat, kemana-mana perginya sama pak Reino dan pak Andrianto.
Bela melihat dirinya di cermin. Dia mengusap bibirnya, mengingat-ingat rasanya bibir Donie...
Akh.....
Bela menutup wajahnya dengan malu. Walaupun tidak ada siapa-siapa di kamarnya.
**di apartemen Donie**
Donie berjalan mondar mandir di kamarnya. Ia teringat peristiwa tadi.
Gue harus bilang apa ke Bela soal perbuatan gue tadi. Gue sendiri belum yakin dengan perasaan gue. Apa bener gue jatuh cinta dengan Bela. Gue menyesal, sebelum memastikan perasaan gue, seharusnya gue tidak bertindak bodoh dengan menciumnya. Kalau sampai dia salah paham gimana. Apa Bela marah? Apa yang harus gue lakukan?
**di kantor**
“Bela.... tumben deh.Lain bajunya.”
“Ah, biasa aja mbak.”
“Coba sini.....? Woooo.... ini pasti mahal banget.”
“Ih, mbak Hilda apaan sih.”
Hilda menyelidiki baju yang dipakai oleh Bela. Bela diminta berputar dan berjalan bolak-balik di depannya. Bela tidak suka, tapi karena Hilda adalah seniornya di perusahaan ini, dia bisa apa.
“Baju dikasih kok mbak. Ini dari bosku yang dulu.”
“Bos kamu yang dulu cowok?”
“Bukan mbak, bos cewek... Udah deh liat akunya. Liat file di depan itu dulu. Nanti mbak jatuh cinta lho sama aku kalo diliatin terus.”
“Hahaha.... kamu. Tapi aku penasaran lho Bel.”
Bela tersenyum. Ia segera tenggelam dengan pekerjaannya. Hari ini cukup banyak tugasnya.
**di sebuah hotel**
“Udah dua malam ini elo gelisah terus. Kenapa bro?” Tanya Reino melihat Donie yang uring-uringan tidak bisa tidur. “Kita ke bar aja yok.... bosen gue.”
“Elo aja. Gue nggak minat.”
“Sakit Don?”
“Gak enak aja rasanya. Mau ngapa-ngapain gak enak.”
“Kan proyek kita berhasil bro? Mikir apa Lo?”
“Nggak ada hubungannya sama kerjaan.”
“Eh bentar...bentar.... elo udah punya pacar ya? Seinget gue, tempo hari elo lagi di rumah cewek. Elo lagi sakit kangen?”
“Pacar dari mana bro? Elo pernah, liat gue jalan sama cewek?”
“Terus....rumah cewek yang elo datengin siapa?”
“Bela.”
“What? Elo rindu sama Bela?”
“Gue nggak bilang rindu, kampret. Gue bilang gue mampir ke rumah Bela, nganteri dia habis lembur.”
“Hahaha.....iya sih. Tapi gue yakin....elo rindu sama Bela. Coba liat wajah elo..... hahaha.... iya elo suka sama Bela. Mana bisa bohong lo ke gue.... hahaha....”
Donie tidak menjawab. Ia berlalu dari hadapan Reino. Ia tidak menggubris olok-olok sahabatnya itu. Kemudian ia masuk ke kamar mandi.
“Don.... Donie.... gue keluar. Jangan lupa, telepon tuh si Bela. Kalo mau dapat, elo mesti gerak cepat. Ntar keburu diambil orang baru tau rasa lo. Hahaha.....”
Donie mendengar teriakan Reino.
Pukul 01.00
Donie masih belum bisa memejamkan mata. Dia masih berkutat dengan laptopnya mengalihkan perhatiannya
yang sangat ingin menelepon Bela.
Akhirnya....
Ddrrtt.....ddrrtt....ddrrtt....
HP Bela berbunyi. Dengan malas Bela mengambil teleponnya. Ia menerima telepon tanpa melihat siapa yang menelepon.
“Hallo....” jawab Bela dengan suara serak.
“Kamu sudah tidur Bela?”
Bela terkejut mendengar suara yang sangat dirindukannya dalam tiga hari ini. Cepat-cepat ia duduk di tepi tempat tidurnya.
“Pak Donie? Eh, iya pak. Saya baru saja terbangun. Ada yang bisa saya bantu pak?”
“Apa pak?”
“Saya lagi sakit rindu.... sama kamu.”
Gleg.... Bela terdiam tidak bisa berkata-kata. Lidahnya menjadi kaku. Jantungnya berdegup keras mendengar kata-kata dari bosnya.
“Bel.....Bela.... kamu masih di sana? Kok diem?”
Bela memukul tangannya. Ia tidak yakin, ini mimpi atau bukan. Tapi sakit rasanya. Berarti ini bukan mimpi.
“Bela, saya tutup teleponnya. Saya mau video call.”
Ah, si bapak, malah mau video call tengah malem gini. Aduh, gimana ini?
Bela menyalakan lampu kamarnya dan tak lama kemudian teleponnya berbunyi lagi. Dilihatnya video call dari Donie. Bela mengangkatnya.
“Hallo pak....” Bela menyapa Donie dengan berusaha tersenyum. Ia merasa berantakan, baru bangun tidur, tidak sempat merapikan rambut ataupun mencuci muka. Tempat tidurnya pun berantakan, bantal, guling dan selimut acak-acakan.
“Hallo..... hmmm.” Donie tersenyum.
Ambyar gue pak. Lesung pipimu.... oh.... tampan sekali kamu pak.
Bela, kamu cantik. Bangun tidur, tidak pakai make up, rambut acak-acakan, tetapi kamu masih tetap cantik. Tanpa kacamata bahkan kamu terlihat lebih cantik.
“Apa kabar Bel?”
“Baik pak. Sehat. Bapak bagaimana kabarnya?”
“Saya? Langsung sehat liat kamu.”
“Hmmm.” Bela tertunduk malu.
“Jangan nunduk, nggak keliatan mukanya.” Donie mulai berbicara informal kepada Bela.
“Iya pak.”
“Kamu nggak kangen saya?”
“Bapak.... saya malu.” Iya sih, gue kangen banget pak.
“Hahaha..... saya suka liat ekspresi kamu. Gimana di kantor? Ada yang perlu saya dengar?”
“Hhmmmm.” Bela berpikir sejenak. “Itu pak, pengganti pak Sugi sudah ada. Pemuda sekitar dua puluh tahunan, namanya Supri. Tadi dia sudah dibriefing oleh mbak Hilda tentang tugas-tugasnya dan kebiasaan Bapak.”
“Besok sore saya sampai Jakarta. Minta dia jemput saya di bandara. Besok saya kirim jadwal nya. En... besok sore saya jemput kamu di kantor.”
“Mau ke mana pak?”
“Ke hatimu.”
“Hehe....bapak becanda aja.”
“Mau ngajak kamu ke suatu tempat.”
“Eh iya pak.”
“Selamat tidur ya. Mimpiin saya.” Donie mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum.
“Selamat tidur juga pak. Sampai ketemu besok.”
Tut....
“Cie.... asyiknya video call. Gue pulang aja nggak tau. Nelpon siapa lo jam segini?”
“Huhhh.... Tumben udah pulang lo?” Donie mengalihkan pembicaraan.
“Nggak asyik. Jadi pulang aja gue. Mending liat elo daripada di sana tadi.”
“Hah.... jadi udah berubah selera lo?”
“Kayaknya iya, gue jatuh cinta sama elo.”
Bug.... Donie melempar bantal ke arah Reino.
Reino tertawa keras dan melemparkan tubuhnya ke tempat tidur.
HALLO READERS, JIKA KALIAN SUKA, JANGAN LUPA YA BERI :
· Komentar
· Like
· Favorit
· Tip
SELAMAT MEMBACA
SILAKAN
MAMPIR KE NOVELKU YANG LAIN “LOVE AFFAIR”