My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 32



Donie memberikan setumpuk berkas kepada Bela. “Tolong pisahkan berkas ini berdasarkan penggolongan seperti yang telah aku tulis ini. Beri tanda warna sesuai catatan ini dan beri catatan singkat di setiap berkasnya. Pisahkan menjadi 3 bagian ke dalam map.” Donie mengarahkan Bela sambil menunjuk ke arah berkas-berkas di depan Bela.


“Apa ini mas? What.... ini catatan penggunaan dana perusahaan yang ilegal?” Bela membaca berkas satu per satu dengan teliti.


“Yap, benar. Aku akan memproses orang yang melakukannya.” Jawab Donie. Ia membuka laptop dan memulai


pekerjaannya. Bela tak lagi bertanya-tanya. Ia pun memulai pekerjaannya.


Suasana hening, tidak ada percakapan apapun. Sayup-sayup terdengar suara siaran di televisi dengan suara yang sangat kecil. Mereka berdua tenggelam dalam pekerjaannya masing-masing.


Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Mereka berdua masih berkutat dengan pekerjaannya.


Mata Bela mulai terasa lelah. Ia mengerjapkan matanya, tanpa sadar ia berdiri, menarik kedua tangannya ke atas, meluruskan tubuhnya. ”Akh.....” Tapi ia segera tersadar bahwa sekarang ia berada di dalam ruangan bersama bosnya. Pelan-pelan ia kembali duduk, sembari berharap Donie tidak melihat kelakuannya. Tapi terlambat......... Donie sudah bangkit dari duduknya dan berjalan ke arahnya.


“Sayang, kamu menggoda aku.” Donie menghampiri Bela lalu menatap wajahnya dari dekat, sangat dekat sampai Bela merasakan hembusan nafas dari hidung Donie. Bela merasakan pipinya memanas. Donie menempelkan dahinya di dahi Bela. Tangannya memegang kedua lengan Bela..... dan hap..... Donie mencium bibir Bela dengan lembut. Bela memejamkan matanya merasakan lumatan-lumatan lembut dari Donie yang disertai dengan gigitan-gigitan kecil. Semakin lama ciuman itu semakin dalam. Bela yang tadinya hanya menikmati, kini mulai membalas ciuman Donie. Sebentar kemudian mereka berhenti untuk mengatur nafas, dan kembali melanjutkan ciuman itu.


Akh..... gue tidak bisa menahan diri. Bela sangat manis untuk dinikmati.


Donie merapikan ikatan rambut Bela yang berantakan. Bibirnya masih menempel di bibir Bela. “Bela, aku minta lebih.” Bisiknya pada Bela.


Bela merinding mendengarnya. Ada gelenyar aneh di dadanya saat Donie membisikkan kata-kata itu. Jantungnya makin berdetak keras. Dengan lembut Donie menurunkan ciumannya ke telinga Bela, kemudian turun ke leher Bela dan meninggalkan beberapa kissmark di  sana. “Eemmmhhh.” Bela mengerang. Lututnya lemas, rasanya tak sanggup menopang tubuhnya. Namun Donie menahan tubuhnya dan memeluknya erat. “Mandilah sayang, sudah sore.”


“Uhmmm iya mas.” Bela tersadar dan segera meninggalkan Donie dengan canggung.


Donie menarik nafas panjang. Akh..... junior gue bangun. Ia berusaha menenangkan dirinya sembari menunggu Bela selesai mandi.


Di dalam kamar mandi, Bela mengguyur tubuhnya dengan shower. Agak lama ia menenangkan diri di bawah pancuran air. Jantungnya masih dag dig dug. Kemudian ia mengeringkan diri dan mengenakan pakaiannya. Saat berdiri di depan cermin hendak menata rambutnya, ia terheran-heran dengan tanda-tanda kemerahan di lehernya. Apa ini? Bela menggulung rambutnya ke atas dan berteriak dari dalam kamar mandi. “ AAAAA...... MAS DONIE..... INI APA? APA YANG KAMU BUAT TADI?”


Donie terkejut mendengar Bela yang berteriak dari dalam kamar mandi. Ia menduga ada sesuatu yang buruk. Segera ia menghampiri pintu kamar mandi. “Ada apa Bela?” Donie mengetuk pintu kamar mandi yang masih tertutup.


Dari dalam kamar mandi, Bela membuka pintu kamar mandi dan membantingnya dengan kasar. “Mas..... ini apa? Apa yang kamu buat?” Bela menunjuk ke arah leher di depan Donie yang keheranan.


“Ayo sini.” Bela menarik Donie ke dalam kamar mandi dan menunju ke cermin besar, ia menunjuk kissmark lehernya. “Ini apa? Lihat..... ada empat. Kamu .....jahat.”


Buuggg...... Bela memukul dada Donie dengan kedua tangannya.


“Sayang, sabar.....” Donie memeluk Bela menghentikan pukulannya. “Dua hari hilang, Bela. Tidak akan jadi tanda seumur hidup. Mungkin lain kali lebih baik kuberi tanda di tempat yang tidak terlihat ya.”


“Aaaaa..... kamu mas. Bagaimana besok kalau aku ke kantor? Kalau diplester.....ada empat, pasti menimbulkan pertanyaan, mas. Kamu mas.....” Bela mencubit perut Donie. Sementara Donie hanya tersenyum gemas melihat Bela.


“Aku pikir ada apa Bela.....Nanti oleskan lotion di lehermu, semoga cepat menghilang.” Donie mengacak-acak puncak kepala Bela. Donie segera keluar dari kamar mandi. Ia takut tidak kuat menahan hasratnya melihat Bela yang baru saja selesai mandi dengan keadaan rambutnya tergelung ke atas menunjukkan leher jenjangnya.


“Mas mau ke mana?” Tanya Bela. Ia keluar dari kamar mandi dengan memasang wajah cemberut.


“Pertemuan di restoran bawah. Tidak jauh. Nanti ada pelayan yang akan mengantarkan makan malam untukmu. Juga ada banyak makanan yang kita beli tadi, makan saja kalau lapar. Maaf ya, kamu makan malam sendiri.”


“Aku tidak boleh ikut? Kejam sekali, aku ditinggal sendiri di kamar. Bukannya kamu yang tadi minta ditemani?” Tanya Bela.


“Tidak boleh ikut. Kamu mau bilang apa kalau Wiliam, Andri dan Reino melihat leher kamu?”


“Ugh....ini hasil perbuatanmu, mas. Dasar ubur-ubur.“ Bela memajukan bibirnya.


“Apa kamu bilang?” Samar-samar Donie masih mendengar perkataan Bela.


“Ah, tak apa-apa mas.”


“Kamu perlu dihukum, Bela.” Donie mendekat ke arah Bela lagi dan meraih tengkuknya, diciumnya lagi leher Bela dengan sedikit gigitan.


“Ah....” Bela mengerang dan mendorong tubuh Donie menjauhinya.


“Itu hukuman. Jadilah anak baik ok?”


“Mas.... ini jadi lima.... huhuhu.....” Bela cemberut mengusap lehernya.


“Dan jangan pergi ke mana-mana.” Donie berkata sebelum menghilang di balik pintu.


Dasar tukang perintah. Sama pacar sendiri juga main perintah.


Bela memeriksa kembali pakaian yang dibeli oleh Donie tadi. Ia tersenyum, mencobanya satu persatu.


Hemmm. Bagus juga. Ternyata siapapun bisa terlihat jadi lebih cantik dengan baju mahal. Pasti mbak Hilda kepo besok kalau aku pakai baju ini. Tapi bekas gigitan mas Donie ini terlihat sekali. Bagaimana aku menutupinya ya? Mungkin dengan syal ini..... Ah iya, lebih baik begini.


Kemudian Bela kembali menekuni pekerjaannya. Nah, selesai sudah tugas yang diberikan pak bos. Menjelang pukul 7 malam pelayan hotel mengantarkan makan malam ke kamarnya. Bela menyantap makan malamnya seorang diri.


Ah, kenapa perutku rasanya tidak enak ya? Astaga, tanggal berapa sekarang? Harus kucek, apakah aku sekarang sedang haid?


Bela segera ke kamar mandi untuk mengecek.


Ups, aku tidak menyiapkan pembalut. Biar aku turun sebentar mencari pembalut di minimarket dekat hotel.


Bela bergegas keluar dari kamar.