My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 57



Hari ini adalah weekend pertama di bulan yang baru. Weekend kali ini Bela menikmati di rumahnya sendirian. Abangnya sedang berkencan dengan kekasih yang telah dipacarinya selama dua tahun belakangan. Dian pun sedang ke luar kota karena ada kegiatan bersama teman-teman kampusnya selama beberapa hari ke depan. Kini saatnya ia mulai membersihkan rumah. Telah lama Bela tidak melakukan kegiatan membersihkan rumah secara menyeluruh. Biasanya ia hanya membersihkan sekenanya sebelum berangkat ke kantor.


Bela mulai dengan membersihkan kamarnya yang penuh dengan poster aktor Korea kesayangannya, Hyun Bin. Sekarang poster-poster itu tidak sebanyak dulu. Ia merupakan fangirl yang setia mengikuti kegiatan idolanya melalui medsos. Tapi akhir-akhir ini kegiatannya itu tersita karena kini pikirannya telah dipenuhi oleh Donie, kekasihnya. Ia teringat permintaan Donie untuk memajang fotonya di kamar Bela.


Aku belum sempat mencetak salah satu foto mas Donie. Nanti siang aku cetak salah satu foto yang ada di ponselku.


Setelah lebih dari setengah jam berkutat di kamar, ia beranjak ke ruang tamu. Dibersihkannya setiap sudut ruangan dengan teliti. Kemudian ia beralih ke ruang makan dan dapur. Agaknya acara membersihkan dapur agak lama karena banyak yang harus dibersihkan di sana. Ketika ia membuka salah satu laci yang digunakan untuk


menyimpan sendok dan garpu, ia menemukan sebuah foto lama. Foto yang sudah bertahun-tahun tidak dilihatnya. Bela mengambilnya dan mengamati. Dalam foto itu terlihat Ayah, ibu, Benny, dan dirinya. Saat itu Bela duduk di bangku sekolah dasar, sedangkan Benny telah duduk di sekolah menengah pertama. Dian waktu itu belum hadir bersama mereka. Selama ini foto yang dipajang di dinding rumah mereka adalah foto ibu, Benny, Bela, dan Dian. Tidak ada sosok ayah di sana. Mereka semua membenci sang ayah yang meninggalkan luka untuk mereka.


Ingatan Bela kembali ke masa-masa itu.


Irwan Sanjaya adalah seorang wirausahawan yang mempunyai usaha di bidang transportasi. Ia memiliki beberapa mobil angkutan dalam kota. Waktu itu kehidupan mereka sangat cukup. Semuanya berjalan baik-baik saja sampai suatu saat sifat ayahnya mulai berubah. Ia mulai tenggelam dalam kegiatan berjudi bersama teman-temannya dan


sering pulang dalam keadaan mabuk. Lama kelamaan usaha yang telah ditekuninya merugi. Hal itu membuatnya keras terhadap keluarganya. Ia mulai melakukan kekerasan di dalam rumah tangganya. Bukan hanya kepada istrinya, namun juga kepada kedua anaknya. Terakhir kali, ketika ibunya sedang dalam keadaan hamil adiknya, sang ayah memukul ibunya dan pergi dari rumah. Setelah ayahnya pergi, ada badai lain yang menimpa mereka. Ternyata perusahaan yang dijalankan ayahnya mempunyai hutang dan terus menerus mengalami kerugian karena kesalahan dalam manajemen keuangan. Akhirnya ibu memutuskan untuk menjual seluruh aset perusahaan untuk melunasi hutang-hutangnya. Ternyata hasil penjualan tidak mencukupi untuk melunasi hutang-hutangnya. Ibu menjual semua perhiasan dan barang-barang miliknya yang sekiranya bisa menghasilkan uang untuk melunasi


hutang yang ditinggalkan ayah. Mereka juga mulai hidup sangat sederhana dan hemat. Hal itulah yang membuat Benny, Bela, dan Dian terbiasa untuk hidup sederhana dan gigih dalam bekerja. Beruntung ketiga anaknya adalah anak-anak yang cerdas sehingga mereka sering mendapatkan beasiswa untuk mengurangi biaya pendidikan.


Tok...tok....tok...


Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunan Bela. Ia segera berjalan menuju ke ruang tamu untuk membukakan pintu. Bela bertanya-tanya siapa yang datang. Tamu yang datang ke rumah mereka tidaklan banyak dan biasanya yang ingin bertamu sudah lebih dulu mempunyai janji dengan salah satu dari Benny, Bela, atau Dia. Rasanya tidak


mungkin Benny atau Dian datang sepagi ini. Ini masih jam 10 pagi.


Ceklek....


Seorang pria tua memakai topi berdiri di depan pintu. Bela terbelalak melihat apa yang ia lihat. Pria ini adalah orang yang sangat tidak ingin ditemuinya. Deru nafasnya memburu menahan amarah.


“Bela, kamu baik-baik saja?” Pria itu bertanya kepada Bela.


Bela menarik tangannya dan meletakkan di pinggangnya. Ia berkacak pinggang menghadapi pria di depannya. “Untuk apa anda bertanya seperti itu? Anda bukan siapa-siapa.”


“Bela, aku khawatir dengan keselamatanmu.”


“Aku mengingatkanmu, Bela. Jangan mendekati Donie Wijaya. Itu bisa membahayakan keselamatanmu.”


“Sekali lagi aku tanya, siapa anda mengkhawatirkan saya?”


Buk....


Pintu ditutup dengan kasar. Bela segera mengunci pintu rumahnya.


Ah, aku lupa, kenapa tidak kutendang saja pria menjengkalkan itu, seperti janjiku pada abang kemarin?


Bela mengintip dari balik tirai jendela. Pria itu sudah tidak berada di depan pintunya lagi. Ia jadi merasa ragu, apakah yang terjadi tadi benar-benar kenyataan atau hanya khayalannya saja karena terlalu lama memandang foto keluarga lama miliknya. Ia teringat akan foto itu, cepat-cepat diambilnya foto itu dan disembunyikan di dalam lemarinya.


Apa yang dipikirkan ayah, setelah apa yang dilakukannya? Senenaknya saja dia datang ke rumah dan bertanya apakah aku baik-baik saja? Kenapa baru sekarang? Dari dulu dia ke mana? Mana pernah mengkhawatirkan kami. Dan lagi kenapa dia memintaku untuk menjauhi mas Donie? Apa hubungannya dengan mas Donie? Kenapa dia tahu dengan mas Donie, juga hubungan ku dengannya? Huft.... membingungkan. Dia membuat hariku menjadi tidak bersemangat.


Ia menarik nafas dalam-dalam, menenangkan hatinya yang sedang kacau. Setelah agak tenang, ia berfikir hendak menghubungi abangnya. Tapi diurungkan niatnya karena mungkin dirasa akan mengganggu abang. Abang sedang berkencan, tidak mungkin Bela menganggu mereka dengan berita menjengkelkan ini. Biarlah nanti ia akan


berbicara langsung dengan abangnya.


Sudahlah, aku tidak mau membuat suasana hari ini menjadi buruk. Lebih baik aku menyelesaikan memberskan rumah, kemudian memesan makanan online sembari berlama-lama mandi.


***


Di waktu yang berbeda, di tempat yang lain, dua orang pria sedang bertengkar. Si pria kecil menuduh pria besar telah melakukan hal buruk kepada anaknya beberapa hari yang lalu. Si pria besar tidak terima dengan kemarahan yang diarahkan kepadanya. Ia berkata bahwa ia mempunyai alasan untuk melakukannya. Si pria kecil semakin


meradang. Mereka berdua terlibat perkelahian. Namun akhirnya perkelahian mereka terhenti oleh suara bel di pintu.


“Pak, ada kabar buruk.” Anak buah itu melapor kepada bosnya. “Laporan ke polisi sudah masuk. Bapak bisa jadi tersangkanya. Labih baik bapak menghindar dan pergi dari sini secepatnya.”


“Aaapa? Donie berani melakukan itu? ANAK KURANG AJAR! TIDAK TAHU TERIMA KASIH.”


Mendengar laporan dari anak buahnya, si pria besar tampak kebingungan. Ia tidak menyangka keponakannya itu akan bertindak terlalu jauh. Pada awalnya ia hanya memperkirakan bahwa Donie hanya akan melaporkannya secara internal di perusahaan mereka. Sangat gusar ia mendengar berita ini. Ia mengepalkan tangannya, pancaran matanya sangat marah dan siap menerkam siapa saja yang berada di hadapannya. Mengetahui hal itu, sang anak buah segera berpamitan undur diri dari hadapan si bos. Tanpa ia sadari pula, si pria kecil telah meninggalkan ruangan itu, entah menuju ke mana.