My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 62



Sehari setelah Thomas memberikan pengakuan kepada Donie, Thomas ditangkap. Namun salah satu rekannya yang kerap membantunya kini melarikan diri. Sedangkan beberapa anak buah yang turut serta membantunya telah ditangkap.


Perusahaan tentu saja goncang dengan peristiwa penangkapan Presiden Direktur. Banyak berita yang mencuat di media maupun intern di dalam perusahaan sendiri, tetapi sebenarnya tidak ada yang tahu tentang keadaan yang sebenarnya. Pihak Grup Sinar Wijaya pun tidak menjelaskan apa yang terjadi. Yang terlihat adalah usaha perusahaan untuk meredam berita-berita yang semakin liar itu.


Donie sampai hari ini masih berharap apa yang ia ketahui ini bukanlah kebenaran, terutama kenyataan bahwa ia adalah anak dari Thomas. Pikirannya berputar-putar dan tidak fokus dalam mengahadapi pekerjaannya. Wajahnya kusut dan rambutnya acak-acakan. Hari ini ia tidak masuk kerja dan mengurung diri di dalam apartemennya. Reino


dan Andri mendatangi apartemannya sore ini.


“Hei bro.... apa yang terjadi? Astaga, elo minum-minum lagi. Lain kali ajak gue dan Andri kalau mau minum-minum. Jangan sendirian begini.” Teriak Reino.


Kedua sahabat itu menemukan apartemen yang berantakan dan terlihat kaleng-kaleng bekas minuman berserakan di lantai. Hari ini Donie tidak membiarkan Sari pembantu maminya untuk datang sekedar membersihkan rumah dan menyiapkan makanan, seperti yang biasa dilakukannya. Mami juga tampaknya tidak mengetahui akan kekalutan


yang dihadapi anak semata wayangnya itu. Donie hanya ingin tidak diganggu hari ini. Dan ketika kedua sahabatnya datang ke apartemen, ia masih berbaring di sofa ruang utama. Ia tidak tidur, tetapi tidak juga bergeming melihat


kedatangan teman-temannya.


Reino mendekati Donie di sofa, “Bro.... ingat .... jaga kesehatan. Jangan begini dong. Ini namanya menghancurkan diri lo.”


“Seharian ini udah makan belum lo?” Tanya Reino lagi.


Donie, orang yang ditanya hanya mematung dan kembali memejamkan matanya menghindari pertanyaan Reino.


“Kita makan di sini aja. Gue pesan delivery aja. Lo mau pesan apa Ndri?”


Andi memutar bola matanya sejenak, “Gue lagi pengen masakan padang aja. Rendang, ayam sayur, atau apalah. Pokoknya dari Rumah Makan Padang.”


“Ngidam lo?” Reino tertawa.


“Haha.... yaelah perut gue gede begini dikira ngidam.” Sambil mengusap perutnya yang agak menonjol.


“Don.... elo mau apa?” Tanya Reino kepada Donie.


“Hei....bangun bro...” Lanjut Reino lagi. “Seperti tidak makan tiga hari aja lo sampai lemas begini.” Ia tak melanjutkan pertanyaannya. “Gue pesenin sama aja yah.” Donie tidak menjawab.


Reino memesan makanan melalui ponselnya. Andrianto membuka laptopnya dan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tertunda. Mereka berdua lebih cepat datang ke apartemen Donie tadi, ketika waktu jam kantor belum selesai. Sehingga masih ada pekerjaan yang belum diselesaikan olah Andrianto.


Setelah memesan makanan, Reino duduk di sebelah Donie yang masih berbaring.


“Wah, panas badan lo bro. Elo demam ternyata. Ngapain sih lo , menyiksa diri begini. Ayo, bangkit. Tidak akan selesai masalahnya kalau ditinggal minum begini. Elo nggak makan dari kemarin, tapi minum aja ya?” Kata Reino lagi. Kedua sahabatnya ini memang sama cerewetnya, walaupun maksudnya baik.


Mendengar bahwa Donie kurang sehat, Andrianto menutup laptopnya dan mendekati mereka berdua.


“Dokter Rangga perlu dipanggil, No?”


“Ia sepertinya.” Reino menyetujui usulan Andri.


“Gue telponin deh.” Kata Andri.


“Harusnya dibuatin bubur ya pasiennya ini Ndri. Nggak bisa buat tapi gue.” Kata Reino mengacak rambutnya dengan bingung. “Kasih tahu mami ya?”


“Jangan.... jangan bilang mami. Mami nggak tahu gue hari ini nggak masuk.” Tiba-tiba saja Donie menanggapi perkataan Reino.


“Akhirnya, buka suara juga lo. Gue kira pita suara elo juga rusak, jadi nggak ada suaranya. Sebenarnya elo mikir apaan sih? Masa gara-gara pak Thomas elo jadi begini? Yang jahat dia, kenapa elonya jadi menyiksa diri?” Reino sangat heran dengan sikap Donie yang aneh.


“Nanti gue telponin Bela sekalian, biar dia kesini. Biar dia aja yang merawat Donie nanti malam. Pasti dia lebih ngerti kan cara merawat pasien manja seperti ini...hehe.” Tawa Andri menggoda sahabatnya.


“Ah, sudahlah... kalian tidak usah merepotkan Bela. Gue bisa sendiri. Nanti kalau sudah diobati dokter Rangga, gue pasti sembuh.”


“Nggak bisa gitu Don.... Nanti kalau elo nggak sadar bagaimana, malah minum-minum lagi, nggak makan, obat nggak diminum. Mending ada yang ngawasin elo.” Lanjut Andri.


“Ada hal yang belum bisa gue ceritakan kepada kalian berdua. Hal itu yang bikin gue tertekan. Gue hanya ingin tidur yang lama.”


“Ya elah..... udah deh tidurnya. Sepertinya elo udah tidur dari kemaren. Lihat mata lo itu....dah kayak mulut celengan. Kalau nggak ada yang ngawasin, jangan-jangan elo bunuh diri lagi.” Reino menimpali lagi.


Donie menarik nafasnya dalam, “Sampai segitu elo mikirnya. Nggak mungkinlah gue bunuh diri. Terlalu berharga hidup gue ini.”


“Cie.... itu ngerti kalau berharga. Tapi kenapa nyiksa diri begini?”


Mendengar ucapan sahabatnya itu, Donie melemparkan remote tv ke arah Reino.


“Sabar bro.... “ Kata Reino menyeringai.


Beberapa menit kemudian Andrianto menghubungi dokter Rangga. Dokter Rangga menyanggupi untuk datang tiga puluh menit lagi. Sedangkan Bela sedang dalam perjalannan pulang ke rumahnya sehingga ia tidak mengangkat ponselnya yang berbunyi.


sembuh, gue aja yang nggantikan ya?”


“Dasar lo.... buaya darat...” Donie akhirnya bangkit dan duduk di sofa.


“Nah, gitu dong.... semangat sedikit. Giliran ngomongin pernikahahn aja, langsung segar. Berati benar, No.... obatnya Bela aja. Nggak perlu yang lain.” Andri tersenyum senang melihat Donie yang telah duduk. Ia melirik tipis ke arah Reino. Dan Reino tertawa mendengar candaan Andri.


Donie memijat pelipisnya dengan tangan kanannya.


“Persiapannya gimana bro? Sudah beres?”


“WO semua yang mengurus. Acaranya tidak ada resepsi, sederhana saja. Apalagi suasana perusahaan sedang seperti ini.” Kata Donie.


“Ini dokumen apa Don?” Andri melihat amplop coklat di atas meja.


“Itu dokumen  yang dikirim Wiliam. Tambahan berkasnya om Thomas.”


“Oh....” Andri tidak bertanya lebih lanjut karena mangetahui masalah ini yang membuat kacau sahabatnya.


Kedua orang sahabat itu telah tentang kejahatan yang telah dilakukan omnya, yaitu penggelapan dana perusahaan dan pembunuhan terhadap papinya, adik papinya, dan saudaranya. Namun keduanya belum mengetahui bahwa Thomas adalah ayah kandung Donie. Hanya Bela dan Wiliam yang mengetahuinya.


Ada hal yang masih memebuat khawatir, yaitu orang kepercayaan Thomas, yang sering dipercaya untuk mengeksekusi kejahatannya sampai saat ini belum diketemukan. Ia melarikan diri dari tempat persembunyiannya pada hari ketika Thomas ditangkap. Dan yang membuat Donie sangat khawatir adalah tempat tinggal orang itu berada di sekitar rumah Bela, kekasihnya.


Setelah pengakuan Thomas, Donie segera meminta Wiliam untuk menyelidiki juga tentang asal-usulnya. Terutama tentang keberadaan ibunya yang menurut Thomas sudah meninggal bertahun tahun yang lalu. Donie sangat penasaran seperti apakah ibunya, orang yang mengandung dirinya dan orang yang telah disia-siakan oleh


lelaki yang bernama Thomas. Semakin hari ia memikirkan hal itu semakin bertambah pula rasa bencinya kepada Thomas.


***


Ddrrtt.....ddrrtt....


Andrianto calling


Bela baru saja hendak memasuki rumahnya, tetapi ponselnya bergetar. Lalu ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas, dilihatnya nama Andrianto di sana.


“Hallo.”


“Hallo sayangnya Donie. Bisa minta tolong nggak?”


“Iya pak. Ada yang bisa saya bantu?”


“Malam ini, saya minta tolong kamu jadi perawat yah... untuk calon suami.”


“Maksudnya bagaimana pak?”


“Begini, calon suami kamu sedang sakit, butuh perawatan.”


“Mas Donie sakit?”


“Iya. Datang ya ke apartemennya. Soalnya dia mengigau nama kamu terus. Saya khawatir. Mungkin karena tidak ketemu kamu seharian ini, dia jadi demam rindu sama kamu.”


Andrianto tertawa tawa karena berbohong kepada Bela.


“Berlebihan banget sih lo, Ndri....” Kata Donie dengan cemberut.


“Halah.... yang penting sayangnya elo mau datang.” Ia kembali terkekeh melihat reaksi Donie.


“Nggak usah lebay gitu juga dia pasti datang.”


“Wui.... percaya diri banget lo....haha....”


***


UNTUK PARA PEMBACA,


AUTHOR MENGUCAPKAN SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI


MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN.


HAPPY HOLIDAY GUYS....


STAY AT HOME, STAY SAFE, AND HEALTHY