
Tiga pria tampan itu terlihat memancing di sebuah dermaga kecil yang terletak di pinggiran danau hijau.
Andri : “Dengan kumpulan bukti-bukti ini seharusnya kita bisa dengan mudah menjatuhkan Pak Thomas dari posisi Presiden Direktur, Don.”
Donie : “Tapi tidak semudah itu Ndri.... Tampaknya Om Thomas tahu dengan tindak-tanduk gue. Inget nggak lo, waktu ada orang yang masuk ke ruangan gue dan dipergoki Bela? Perkiraan gue, Om Thomas sudah mulai curiga dengan gue.”
Reino : “Gue khawatir dia bakal pake jurus mengancam, Don.”
Andri : “Bisa jadi itu. Tahu sendirilah bagaimana dia kalau sudah punya ambisi.”
Donie : “Ada yang bikin gue khawatir juga. Kemarin dia ngobrol sama mami. Ada sesuatu yang disembunyikan. Sepertinya tindakan kriminal. Dan mami juga sangat terkejut.”
Andri : “Wo wo....elo harus hati-hati Don. Kita sebaiknya sewa detektif untuk membuktikan kecurigaan perbuatan kriminal Pak Thomas.”
Donie : “Gue juga berpikir seperti itu. Nanti gue hubungi William. Dia pasti bisa bantu.”
Mereka berhenti sejenak karena Reino merasa pancingnya bergerak-gerak. Ia segera menarik gagang jorannya. Tak lama kemudian, Donie dan Andri juga mendapatkan ikan. Sehingga box tampungan ikan mereka terisi hampir setengahnya. Tiga cowok ini memang punya hobby mancing, walaupun biasanya mereka bingung. Ikan hasil angkapan tidak akan diolah mereka. (Ya iyalah....nggak mungkin trio ubur-ubur ini ngubek di dapur) Biasanya mereka mengantar hasil pancingan ke rumah Hendra, salah satu teman nongkrong yang berprofesi sebagai Chef.
Andri : “Besok elo jadi berangkat sama Reino ke Kalimantan?”
Andri membereskan joran, melipatnya sampai ke lipatan terakhir sehingga dapat dimasukkan ke dalam tasnya. Reino membereskan pelampung pancing dan timah pemberat yang berserakan. Sedangkan Donie menutup box ikan hasil tangkapan mereka.
Donie : “Iya. Sama Reino aja. Agak alim. Kalo sama elo, ketularan buas gue.”
Andri : “Hahaha.....kampret men.....”
Reino : “Jangan lupa awasi pak Thomas, Ndri....”
Andri : “Gue lebih tertarik ngawasin si sayang hahaha.....”
Donie : “Dasar lo....!!”
Donie meninju bahu sahabatnya itu. Yang ditinju justru merasa senang karena gurauannya mengena di hati Donie.
Andri : “Rela lo, si sayang nggak diajak?”
Donie : “Eit...kenapa elo ikut-ikutan manggil sayang sih?”
Reino : “Don, Pak Thomas kira-kita tahu nggak hubungan elo sama Bela?”
Donie : “Hanya kalian berdua yang tau. Mungkin juga keluarganya Bela dan dua teman Bela.”
Reino : “Lebih baik elo jangan terang-terangan sama Bela di kantor. Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Bela bisa aja dijadikan senjata, Don. Kalo mami elo kayaknya nggak mungkin karena sodara.”
Andri : “Tenang Don, entar gue jagain, sepenuh hati. Gue tempel terus si sayang. Sampe toilet juga.”
Donie : “Awas bro.... jangan main-main sama gue.”
Andri : “Sorry..... bencanda gue.”
Matahari hampir terbenam ketika mereka mengantarkan ikan ke rumah Hendra. Biasanya seusai memancing, mereka berkumpul di rumah Hendra menikmati ikan hasil tangkapan sembari minum dan ngobrol. Tapi kali ini mereka langsung pulang ke rumah masing-masing karena harus beristirahat. Besok Donie dan Reino harus berangkat ke Kalimantan.
***
Hari ini adalah hari ketiga Reino dan Donie bertugas di Kalimantan.
Ddrrtt.....ddrrtt.....ddrrtt.....
“Hallo pak.” Bela menjauhkan diri dari Hilda agar Hilda tidak mendengar percakapan mereka berdua.
tulisannya ‘To William’. Ingat kan?”
“Baik pak. Ada lagi yang harus diambil pak? Pak, rumit juga yah tempat menyimpan kuncinya hihi....”
“Iya, mungkin serumit orangnya, Bela. Cukup itu saja yang diambil. Kamu tahu kan password pintu apartemenku?”
“Iya ma......eh iya pak.” Hampir saja Bela keceplosan. Ia melirik, melihat Hilda yang menatap curiga ke arahnya.
“Ada di mana sayang?”
“Di kantor, pak.”
“Ohya sayang, biar kamu diantar sama Supri ya.”
“Baik pak.”
Tut....tut....tut....
“Siapa Bela, pak Donie?”
“Iya mbak.”
“Ada apa?”
“Saya mau ambil berkas di apartemennya, mbak.”
Hmmm. Aneh ya, Bela baru beberapa bulan bekerja di sini tapi sudah sering bolak balik ngambil berkas di apartemennya Pak Donie. Aku.....tahu alamatnya aja enggak. Nasib deh....
Hilda bergumam sambil memperhatikan gerak gerik Bela yang tergesa-gesa meninggalkan ruangan.
***
“Pak Supri, temani saya naik ke atas.” Bela mengajak sopir menemaninya ke apartemen.
“Baik bu.” Jawab Supri. Kemudian ia mengunci mobil dan mengikuti langkah Bela menuju apartemen Donie yang berada di lantai 6.
Ting..... pintu lift terbuka di lantai 6. Bela dan Supri menuju pintu apartemen Donie. Supri berjalan di belakang Bela. Setelah Bela berhasil membuka pintu apartemen, ia masuk disusul Supri.
“Astaga.....apa yang terjadi?” Bela terkejut dengan ruangan yang acak-acakan, dan meja kerja Donie pun terlihat seperti dibongkar paksa. Bela menggigit bibirnya ketakutan. Untung saja ia mengajak Supri ke atas.
“Tenang bu, sebaiknya kita lapor penjaga apartemen, dan ibu mengabarkan kejadian ini kepada pak Donie. Saya lapor kepada penjaga dulu ya bu....” Supri minta izin untuk keluar dari apartemen.
Bela masih diam saja. Ia gemetar dan merasa lemas. Dibiarkannya pintu apartemen terbuka. Ia segera menelepon Donie.
“Hallo sayang, sudah ketemu berkasnya?” Donie menjawab panggilan dari kekasihnya.
“Mas....anu .... mas.... aku takut....ada yang masuk ke apartemen kamu, mas.” Bela menjawab dengan gemetar sembari melihat ke sekeliling apartemen Donie.
“Apa?” Donie terkejut sekali dan menjambak rambutnya mendengar penuturan dari Bela.
“Eh.... ini pak Supri sedang laporan ke bagian security gedung. Mas....aku takut.”
“Sebentar Bela, biar aku hubungi orang-orang yang bisa membantu. Kamu tenang dulu.” Donie mencoba menenangkan Bela yang sedang ketakutan.
“Iya mas.” Telepon ditutup. Ponsel dimasukkannya ke dalam tas kecil yang tergantung di bahu kirinya.
Bela berdiri menyandar di luar ruangan, dekat dengan pintu masuk. Kakinya gemetar dan lemas serasa tak mampu berdiri.