My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 37



Hari ini suasana kantor sangat riuh. Kesibukan terlihat di sana sini. Sebagian karyawan berseliweran masuk dan keluar ruang pertemuan di Lantai 5. Bermacam dekorasi telah disiapkan, juga meja dan kursi sudah ditata dengan apik. Nanti malam merupakan acara ulang tahun perusahaan, sehingga semua karyawan disibukkan untuk menyiapkan acara tersebut.


Bela baru saja hendak duduk di kursinya, namun ia melihat dokumen yang ada di mejanya. Ia membuka dan meneliti dokumen itu. Ada beberapa catatan di sana yang ditandai dengan stick note. Donie berarti telah memeriksa dokumen yang tadi pagi diletakkan di meja kerjanya sehingga sekarang Bela harus merevisi dokumen itu. Kemudian ia duduk dan menyelesaikan beberapa dokumen yang telah dikoreksi oleh bosnya itu.


Kurang dari 30 menit, Bela telah menyelesaikannya kemudian ia bermaksud akan memberikannya kepada Donie. Ia berdiri dan mendekati pintu ruangan Donie. Tetapi ia ragu saat hendak mengetuk pintu. Ia teringat akan  kekesalan Donie tadi malam karena banyaknya poster Hyun Bin di kamarnya. Hari ini ia belum bertemu dengan Donie. Bahkan ia pun tidak tahu kedatangan bosnya itu tadi pagi. Hal itu karena ia sibuk mempersiapkan acara ulang tahun perusahaan sehingga Hilda yang lebih sering berada di ruangan. Saat ini Hilda yang menggantikan Bela untuk ikut persiapan acara perusahaan.


Mas Donie masih marah kah? Sepanjang hari ini aku belum melihatnya.


Tanpa sadar, sejak tadi Bela menyederkan tubuhnya di pintu sembari melamun.


Ceklek


Bruuuggg......


Pintu dibuka dari dalam dan Bela hilang keseimbangan karena sejak tadi ia menyenderkan tubuhnya di pintu. Bela pun jatuh tersungkur dengan dokumen yang telempar berantakan.


Donie terkejut melihat Bela, “Kenapa bisa begini Bel?”


“Ah, maaf pak. Tadi saya hendak masuk ke ruangan Bapak.” Bela berusaha membereskan berkas-berkas yang berantakan di depannya dan hendak bangun. Donie membantunya dengan memegang lengan kanannya.  Sebenarnya Donie sangat heran, kenapa Bela sampai bisa terjatuh saat ia membuka pintu.


“Maaf pak.” Kata Bela lagi.


Donie tidak jadi keluar dari ruangannya. Ia kembali berjalan menuju meja kerjanya. “Berkas apa itu?”


“Berkas yang tadi di atas meja saya, pak. Sudah direvisi.”


Donie mengambil berkas dari tangan Bela sebelum sempat diletakkan di meja. Ia melihat sekilas berkas itu dan meletakkannya di atas meja.


“Kamu tidak apa-apa, tidak ada yang sakit?” Donie lebih khawatir dengan keadaan Bela dibandingkan keinginannya untuk memeriksa berkas tadi.


Bela menggelengkan kepalanya. “Saya tidak apa-apa pak.”


“Duduk di situ Bel.” Donie meminta Bela duduk di kursi yang berhadapan dengan meja kerjanya.


“Ada yang bisa saya bantu pak?”


“Bagaimana jadwalku hari ini, apakah ada rapat atau pertemuan dengan klien?”


Bela membuka buku yang ia bawa dan memeriksanya, “Tidak ada, pak.”


“Baiklah, Ikut aku keluar sebentar.”


“Kemana pak?”


“Ikut saja. Ayo.....”


“Perlu saya panggilkan Supri, pak?”


“Tidak usah.” Donie berdiri dan menarik tangan Bela agar mengikutinya. Ketika mereka berdua keluar dari pintu ruangan, Hilda yang baru saja sampai di ruangan melihat pemandangan aneh di depannya. Ia menjadi sangat intens melihat Donie ang menggandeng Bela. Donie tidak perduli dengan kehadiran Hilda. Lain halnya dengan Bela yang


berusaha mengalihkan pandangannya agar tidak bertatapan dengan Hilda.


“Mas, ini di kantor. Kalau ada yang melihat bagaimana?” Bela berbisik.


“Biar saja.” Donie terus menggandeng tangan Bela dan membawa Bela menuju lift. Sementara beberapa karyawan yang memergoki mereka, melihat dengan keheranan. Tak perlu waktu lama untuk membuat gosip betebaran dari mulut karyawan tentang Donie dan Bela. Mungkin tidak sampai seminggu, seluruh karyawan kantor akan bergosip


tentang mereka berdua.


“Mas, itu dua pengawal itu bakal selalu ngikuti kamu?” Bela keheranan melihat mobil yang mengikuti mereka, mobil yang dilihatnya semalam di depan rumahnya.


Donie mengusap wajahnya dengan tangan kanannya, “Sementara saja sampai semuanya tenang.”


“Ada apa sih mas? Ada yang membahayakan keselamatanmu?”


“Entahlah. Masih belum jelas, Bela.” Donie menjalankan mobilnya keluar dari tempat parkir.


Lima belas menit kemudian, mereka sampai di sebuah butik. Butik yang sangat eksklusif bagi Bela. Seumur-umur, baru kali ini ia menginjakkan kaki di tempat seperti ini.


Seorang pegawai butik yang cantik datang menghampiri Donie dan menyapa, “Selamat siang pak Donie. Ada yang bisa saya bantu?” Dari caranya menyapa, bisa diartikan bahwa Donie merupakan pelanggan di tempat ini.


Bela melihat baju-baju cantik yang tergantung rapi di rak-rak unik. Rak-rak unik itu tentunya membuat pakaian yang ada di dalamnya semakin cantik, membuat Bela terpesona. Selain itu ada pula deretan sepatu, high heels, dan tas di sisi lain dari ruangan itu.


“Mbak, tolong pilihkan gaun yang bagus, yang tidak terlalu seksi untuk dipakai pacar saya ini. Sekalian dengan sepatunya, ya mbak.”


“Baik pak. Silahkan ibu, ikuti saya.”


Bela sedikit terkejut dengan ucapan Donie. Ia tidak menyangka Donie akan mengajaknya membeli pakaian. Mungkinkah untuk acara nanti malam? Pikir Bela.


Pegawai butik memilihkan dua jenis dress simpel, kemudian menyrahkannya kepada Bela. “Silahkan dicoba terlebih dahulu, bu.” Ucapnya dengan sopan.


Bela mencoba gaun yang berwarna hijau lumut menjuntai sampai ke mata kaki, dengan bunga berwarna gold di bagian dada. Dress ini tidak berlengan. Bela keluar dari kamar ganti dan menunjukkannya kepada Donie.


Bela melepas gaun itu dan menggantinya dengan dress berwarna merah marun sepanjang mata kaki, berlengan pendek, bagian bawah membentuk huruf A sehingga jika dipakai berjalan tidak terlalu merepotkan. Gaun ini sangat bagus. Bela menyukainya dan ia merasa cocok dengan badannya. Namun ada satu yang pasti membuat Donie


mengurungkan niatnya untuk membelinya, yaitu bagian punggung agak terbuka, memperlihatkan hampir setengah dari punggung Bela.


Kalau mas Donie tahu bagian punggung terbuka seperti ini, pasti aku disuruh pilih yang lain. Lebih baik aku tidak usah berputar, cukup dia melihat dari depan saja. Aku malas harus mencoba baju yang lain lagi.


Bela keluar dari ruang ganti dan menunjukkan baju yang ia pakai kepada Donie, hanya dari depan. Donie mengangguk setuju.


Selanjutnya pegawai butik mengantar Bela memilih sepatu atau sandal yang cocok dipakainya.


Ada sebuah high heels yang menarik di mata Bela. Warnanya kuning keemasan dipadu dengan merah marun, serasi dengan dress yang dipilihnya tadi. Ia mencoba sepatu itu dan merasa cocok, walaupun ternyata cukup tinggi, 12 cm. Belum perna Bela memakai high heels setinggi ini.


“Ada yang mau kamu beli lagi Bela? Boleh kamu pilih dua atau tiga lagi untuk koleksi.” Kata Donie sembari memasukkan ponsel ke dalam saku celananya.


“Cukup mas. Ini untuk diapakai pada acara ulang tahun perusahaan nanti malam kah?”


“Iya. Aku ingin kamu tampil cantik.” Donie mengusap punggung Bela. Lagi-lagi Bela merasakan sengatan listrik dari sentuhan Donie.


“Semuanya dua puluh satu juta rupiah, pak.” Kasir menghitung belanjaan Bela dan mengemasnya dalam paper bag. Bela yang sedang memakai sepatunya terkejut mendengar ucapan kasir. Ia segera berlari menuju kasir dan  meninggalkan sepatunya di sana.


“Hah....mas, mahal sekali. Tidak usah ya. Kita cari yang lebih murah saja.” Bela menarik tangan Donie yang hendak mengulurkan credit card kepada kasir.


“Tak apalah.”


“Mas.... tidak usah.” Kata Bela lagi mencengkeram tangan Donie.


“Maaf ya mbak, pacar saya agak udik.” Kata Donie sambil tersenyum kepada kasir di depannya. Dan mbak kasir itu terkekeh geli melihat pasangan di depannya ini.


Donie kembali mengulurkan credit card nya dengan tangan kanan, sementara tangan yang satunya memegang erat tangan Bela sehingga Bela tidak lagi dapat mencegah Donie. Bela pun pasrah melihat Donie membayar baju dan sepatunya.


“Ayo kita makan.” Ajak Donie. Mereka berdua keluar dari butik dan menuju ke restoran padang di samping butik.


“Mas, itu tadi berlebihan. Terlalu mahal. Itu sama saja dengan biaya hidupku berapa bulan. Kenapa kamu  memboroskan uangmu untukku?” Bela mengikuti langkah Donie masuk ke dalam restoran.


“Astaga Bela..... mana sepatumu?” Donie melihat Bela yang berjalan tanpa alas kaki. Entah apa yang dipikirkan gadisnya ini sampai-sampai ia tidak menyadari sepatunya tertinggal.


“Ya ampun.... aku lupa, mas. Sepatunya tertinggal di butik. Sebentar mas, aku ambil dulu.” Bela berlari kembali ke arah butik. Donie menggeleng-gelengkan kepalanya. Donie menunggu sampai Bela datang.


Mereka memilih duduk di ruang VIP yang terletak di ujung utara bangunan. Dua orang pelayan langsung menghidangkan makanan ala restoran Padang dan menanyakan minuman apa yang akan mereka pesan.


Setelah memesan minuman dan kedua pelayan itu pergi, Donie menatap Bela yang ada di depannnya. Ia mengacak-acak rambut keriting Bela. “Dengar ya, kamu pacarku. Terima saja. Aku senang memanjakan kamu. Apa kamu tidak senang memakai pakaian tadi?”


“Bu...bukan begitu mas. Aku senang sekali dengan pakaiannya, tapi terlalu mahal. Tidak ada pakaianku yang harganya sefantastis itu.”


“Nikmati saja. Itu karena aku sayang kamu, Bela.”


Blus...... pipi Bela merona merah.


“Selamat makan sayang, jangan bengong begitu.”


Bela segera mengambil nasi dan beberapa lauk ke atas piringnya. Mereka berdua menikmati makan siang dengan diam sampai piring keduanya kosong.


“Nanti malam sudah tahu tugasmu?”


“Iya mas, mbak Hilda sudah kasih briefing ke aku. Aku siap kok. Sudah kuhafalkan tamu-tamu yang kira-kira nanti akan kamu temui. Semoga tidak salah.” Ucap Bela.


“Pokoknya nanti malam, jangan jauh-jauh dari aku. Aku tidak mau salah-salah menyapa tamu-tamuku.”


“Baik pak bos. Siap.” Bela mengepalkan tangan kanannya di depan wajahnya.


Donie tersenyum.  “Oh ya, aku ingin mengenalkan kamu kepada mami.”


Deg.... Jantung Bela seperti mau copot.


“Mami mas Donie juga datang?”


“Iya, beliau juga termasuk pemegang saham.”


“Ehmm.... mami kamu orangnya bagaimana mas?”


“Sebenarnya aku tidak terlalu dekat dengan mami, lebih dekat dengan papi, sangat dekat sampai papi meninggal saat aku di bangku SMA. Tapi akhir-akhir ini aku dan mami jadi lebih dekat. Aku diadopsi oleh papi Steven dan mami Lidya saat aku berumur 5 tahun. Sebelumnya aku berada di panti asuhan. Tetapi aku tidak punya ingatan


sama sekali tentang kehidupan sebelum berada di kediaman keluarga Wijaya. Mami itu orangnya pendiam, tidak banyak bicara, dan tidak mudah dekat dengan orang lain. Jangan khawatir, ada aku. Pasti mami setuju dengan pilihanku.”


Baru kali ini Bela mendengar tentang kehidupan Donie. Agak sedih juga mendengar penuturan Donie. Berati ia tidak punya orang dekat selain mainya. “Tetap saja, mas. Aku jadi gugup.”


“Jadilah dirimu sendiri.... santai saja.”