My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 63



Dokter Rangga telah datang dan memeriksa Donie. Setelah ia meninggalkan obat untuk pasiennya itu, ia pun segera untdur diri. Kini tinggallah Reino dan Andri yang menunggui Donie.


“Makan Don... terus obatnya dimakan. Masa harus gue suapin sih?” Kata Reino tampak frustasi melihat Donie yang tidak berselera, melihat bungkusan nasi yang ada di hadapannya.


“Nanti aja gue makannya. Gue mau makan roti dulu.” Kata Donie. Ia pun bangkit berdiri mengambil beberapa potong roti dari dalam di kulkas.


“Dia nungguin sayangnya, No.... Elo kayak nggak peka aja.” Kata Andri sembari melahap makanan kesukaannya.


“Haha.... mungkin yah. Nggak laku rayuan gue sekarang.” Reino berdecak sebal.


Donie duduk di kursi yang berada di pantry dan memakan roti untuk mengganjal perutnya. Rasanya perutnya perih seperti diiris-iris. Penyakit gastritisnya ini kambuh mungkin karena ia  minum minuman beralkohol sejak kemarin. Ia memang telah lama mengidap penyakit radang lambung ini karena kebiasaannya minum minuman beralkohol. Ingin sekali ia berhenti dari kebiasaannya ini, namun setiap kali godaan itu muncul tatkala ia sedang banyak pikiran.


Ting tong.....


Bel berbunyi


“Cie... itu pasti si sayang sudah datang.” Kata Andri beranjak ke arah pintu.


Ceklek...


“Selamat datang sayangnya Donie....” Sapa Andri dengan ramah. “Ayo makan sekalian.”


“Terima kasih pak. Saya sudah makan tadi sebelum datang kemari. Bagaimana dengan keadaan mas Donie, pak?”


“Belum mau makan. Menungu gadis cantik kesayangannya, sepertinya.”


Wajah Bela terasa panas. Andri memang paling bisa menggombal di depan wanita.


“Stop Ndri.... jangan lo gangguin calon istri gue.” Kata Donie yang tiba-tiba saja telah berdiri di samping Andri walaupun dengan tubuh yang lemah.


"Ah, nggak asyik lo." jawab Andri kesal.


“Mas....” Sapa Bela kepada lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya ini. Ia memeluk Donie dan cipika cipiki sejenak. “Sakit apa mas?”


“Biasa, radang lambungnya kambuh.” Kata Donie.


“No, waktu kita untuk kabur nih. Biar mereka berdua leluasa dokter-dokteran.” Andri kembali menggoda Donie. Sementara wajah Bela semakin merona.


“Apaan sih lo... dokter-dokteran. Emang elo??” Kata Donie meringis.


“Ya udah Don, gue dan Andri pulang dulu. Cepet sehat ya. Jaga kondisi. Kalau ada yang perlu diceritakan, gue siap jadi pendengar setia.” Di dalam hatinya, Reino sangat tahu bahwa Donie mempunyai sesuatu yang ingin  iceritakan, namun ia cukup sabar. Pada saat nya nanti pasti Donie akan bercerita. Seperti sebelumnya, Donie akan bercerita jika ia bisa mengendalikan emosinya.


“Terima kasih ya bro.” Donie menepuk pundak Reino dan Andri sebagai ungkapan rasa terima kasih.


Setelah keduanya pergi. Bela mulai membereskan keadaan apartemen yang berantakan. “Mas, aku buatkan bubur ya.” Ia melihat Donie yang tampaknya enggan membuka nasi bungkus di hadapannya.


“Bolehlah...” Jawab Donie. Ia pun masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian.


Saat membereskan  barang-barang yang berantakan, Bela menemukan banyaknya kaleng minuman yang


telah dihabiskan Donie. Ia pun memperkirakan bahwa calon suaminya ini kambuh penyakitnya karena minuman itu. Ia juga tahu Donie masih sering mengkonsumsi minuman beralkohol.


“Mas, ini buburnya.” Bela membawa nampan yang berisi semangkuk bubur dan gelas air minum. Ia meletakkannya di samping tempat tidur Donie. Donie terlihat tengah duduk berselonjor, dengan wajah pucat.


“Kamu suapin yah....” Kata Donie tersenyum memamerkan lesung pipinya.


Oh Tuhan, aku selalu meleleh melihat senyum manis berlesung pipi ini, walaupun sudah sering melihatnya. Kamu membuatku diabetes, mas.


Bela menyuapi Donie dengan sabar, sesekali mereka mengobrol. Bela berusaha mengalihkan perhatian Donie dari permasalahan yang dihadapinya dengan membicarakan hal-hal ringan. Ia sangat tahu apa yang sedang dipikirkan Donie.


“Bagaimana di kantor? Mereka tidak berani menyakitimu lagi kan?” Tanya Donie tiba-tiba.


“Mana berani mas. Aku aman di kantor. Lagi pula dua hari ini ada berita lain yang lebih mendapat perhatian mereka. Sementara ini mereka pasti mengabaikan aku.” Bela berhenti, tidak ingin membahas berita menghebohkan ini.


“Pasti mereka syok dengan berita pak Thomas.” Donie mengatakannya dengan perlahan. Saat menyebut nama itu hatinya terasa sakit. Mungkin memang benar bahwa ia adalah anak kandungnya.


“Mas.... sudah, tidak usah memikirkan itu lagi. Makannya dihabiskan yah.”


Donie mengangguk seperti anak kecil yang dinasehati oleh ibunya. Ia pun menghabiskan bubur hangat yang disuapkan ke mulutnya. Kemudian Bela mengambil obat-obatan yang ditinggalkan dokter Rangga dan membantu Donie untuk meminum obatnya.


“Tidur mas, supaya lebih baik.”


Donie mengubah posisi untuk tidur. Perutnya terasa lebih enak sekarang. Bela membenahi selimut Donie.


“Oh, SKB ya mas.”


“Apa itu?”


“Syarat dan ketentuan berlaku.” kata Bela dengan senyum manisnya.


“Uhuk....” Donie tersedak. “Terserah sayang, aku terima syarat darimu, yang penting kamu temani aku.”


Setelah memastikan Donie tertidur, Bela keluar dari kamar dan menyelesaikan membereskan ruang utama. Melihat bungkusan nasi yang tidak disentuh Donie, membuatnya merasa lapar. Ia pun menyantap nasi bungkus itu wlaupun ia telah makan sebelum datang ke apartemen.


Setelah menyelesaikan makannya, dilihatnya ada amplop coklat. Diambilnya amplop tersebut hendak dipindahkan ke dalam kamar, namun ada sebuah foto terjatuh. Ia mengambil foto itu dari lantai dan melihat dengan seksama. Deg.... Ia sangat terkejut melihatnya.


Astaga.... ini foto ayah bukan? Kenapa ada di sini? Apa maksudnya ini? Apakah aku boleh membuka isi amplop ini?


Dengan gemetar Bela  segera memasukkan foto itu kembali ke dalam amplop dan meletakkannya di dalam ruang tidur Donie.


“Sayang, tidur di sini.” Ucap Donie dengan lirih.


“Astaga mas, kamu manja sekali kalau sedang sakit.” Bela naik ke tempat tidur dan merebahkan dirinya di samping Donie. Ia pun membelai kepala Donie sembari memeriksa suhu tubuhnya yang dirasakan semakin membaik.


“Aku tidak bisa menerima bahwa aku anaknya Thomas.” Donie berkata lagi.


“Mas, kita tidak bisa memilih, akan terlahir menjadi anaknya siapa. Aku atau kamu, tidak bisa memilih. Semua sudah ditentukan oleh Yang Maha Kuasa. Namun dalam perjalanan waktu, kita sendiri yang memilih jalan hidup kita, mau di jalan yang lurus atau berbelok. Bukan Tuhan yang menentukan. Dan kita sendiri yang harus  bertanggung jawab atas jalan yang kita pilih. Begitu juga dengan pak Thomas. Dia memilih sendiri jalannya dan dia harus bertanggung jawab dengan jalannya. Apa yang telah dilakukan pak Thomas itu adalah tanggung jawabnya sendiri karena dia yang memilih. Kamu , walaupun anaknya pak Thomas, tapi Tuhan punya rencana dengan


menitipkan kamu di keluarga baik-baik yaitu papi dan mami.”


Donie mendengarkan perkataan calon istrinya ini. Ia merasakan jari-jari mungil Bela menyentuh pipinya, hidungnya, lalu bibirnya. Perasaannya menjadi lebih tenang sekarang.


“Sayang, apakah kamu melihat kemiripan antara aku dan om Thomas? Secara fisik dan tingkah laku,


mungkin?”


“Iya, kalau aku perhatikan. Kamu adalah pak Thomas versi mudanya.”


“Apanya yang mirip?”


“Hidungnya, matanya, alisnya, dan cara berjalannya.”


“Mami pernah bilang kalau hobiku juga mirip dengan hobinya.”


 “Mami tahu tentang ini mas?”


“Tidak. Aku tidak sampai hati mengatakannya. Dan aku juga bingung jika harus mengatakannya, caranya bagaimana.”


“Kalau kamu sudah merasa lebih baik, kamu harus mengatakannya kepada mami. Jangan sampai mami tahu dari orang lain. Itu bisa membuatnya semakin syok, mas.”


“Iya. Akan kukatakan pada waktu yang tepat.”


“Bagaimana mas, sudah lebih baik rasanya?”


“Kamu memang dokter terbaik, sayang. Aku merasa sangat sehat.”


“Ehmmm mas, sebaiknya minum-minumnya dikurangi deh, supaya sakitmu tidak bertambah parah.” Bela teringat dengan kaleng minuman yang ia temukan di apartemen Donie.


“Baiklah sayang. Aku menurut saja. Yang penting kamu selalu ingatkan aku nantinya.”


“Jangan marah ya mas, kalau suatu saat aku ingatkan.”


“Tidak sayang. Aku tidak akan marah. Bel, setelah menikah nanti, kamu mau kalau kita  tinggal di rumah mami? Kasihan mami, tidak ada temannya. Mungkin sesekali saja kita ke apartemen.”


“Terserah saja mas, yang penting sama kamu.”


“Ya jelaslah.... harus dengan aku. Beberapa hari lagi Bela, kita akan menjadi suami istri.”


Mendengar sebutan ‘suami istri’ membuat wajah Bela terasa panas. Perutnya terasa geli, mungkin ada kupu-kupu beterbangan di perutnya. Ia tidak tahu lagi , warna wajahnya pasti tampak seperti udang rebus.


“Sayang, wajahmu memerah. Jangan-jangan kamu berpikiran kotor ya?”


“Ah, apaan sih. Aku pindah nih, tidur di kamar depan saja.”


“Eit.... jangan ngambek sayang.... di sini saja. Aku tidak akan menggoda kamu lagi.” Kemudian Donie mencium bibir Bela dengan hangat. Merekapun terlelap ke alam mimpi seraya berpelukan.