My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 48



Donie terkejut merasakan sentuhan dingin dari tangan kekasihnya yang tiba-tiba saja terduduk di lantai, “Sayang,


kamu kenapa? Sakit?” Ia ikut berjongkok memeriksa keadaan Bela. Dilihat bulir-bulir keringat di dahi dan leher Bela. Tanpa banyak bertanya lagi, Donie segera membopong tubuh Bela dengan kedua tangannya.


“Reino, kita ke rumah sakit.” Doni menatap ke arah sahabatnya.


“Tidak usah, mas. Aku tidak sakit. Hanya sedikit tidak enak badan. Kamu tidak usah repot-repot membawaku ke rumah sakit. Aku hanya perlu tidur.” Bela tahu, kadang kekhawatiran Donie bisa di atas normal. Ia bisa melakukan hal-hal aneh di rumah sakit jika terlalu khawatir. Maka dari itu Bela berusaha untuk menenangkan Donie. Kemudian Bela turun dari gendongan Donie dan bersuaha berdiri dengan kuat. Ia hanya memegang tangan Donie agar tidak terjatuh nantinya.


Donie meneliti pandangan Bela. Ia ingin tahu apakah kekasihnya ini berbohong mengenai keadaannya. “Kamu lemas seperti ini. Tidak mungkin baik-baik saja.”


Sekali lagi Bela berusaha meyakinkan Donie, “Benar mas, aku tidak apa-apa. Coba periksa saja dahiku, tidak panas. Aku tidak demam. Mungkin hanya karena kurang darah saja.”


Donie memeriksa suhu tubuh Bela  menggunakan punggung tangannya dan suhu tubuhnya terasa normal.


“Tapi kamu mau pingsan, Bel.” Cecar Donie lagi.


“Sudahlah mas. Bawa saja aku ke kamar. Aku mau istirahat.”


Setelah berdebat agak lama, Donie berusaha mempercayai penjelasan gadisnya itu, kemudian ia memapah Bela ke kamarnya untuk beristirahat. Reino juga terlihat menyusul mereka berdua dari belakang.


Bela membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ketika Donie berada di dalam kamar mandi, Reino bertanya, “Bela, apakah ini ada hubungannya dengan Albert?”


Bela tidak menyangka Reino mencurigainya, “Iya pak. Mohon tidak memberi tahu siapapun. Aku tidak ingin membuat khawatir.”


“Kamu tidak ingin Donie tahu?” Tanyanya ingin tahu lebih jauh.


Bela menjawab dengan lesu, “Iya pak. Kalau sampai mas Donie tahu, mungkin ia akan membatalkan kerja sama ini. Padahal ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kinerjanya. Ini hanya berhubungan dengan masa laluku.”


“Ok. Jika kamu perlu teman untuk bercerita, aku siap mendengarkan.” Kata Reino lagi.


 “Baik pak.” Bela menjawab. Mungkin suatu saat ia perlu bercerita kepada Reino mengenai hal ini.


Reino bermaksud meninggalkan kamar mereka, “Don, gue cabut dulu. Kalau ada perlu apa-apa, hubungi gue.”


“Oke.” Jawab Donie dari dalam kamar mandi. Reino pun meninggalkan ruangan.


Bela menarik selimut menutupi tubuhnya sampai ke leher dan ia terlelap ke dalam dunia mimpi. Jauh di dalam hatinya ia sangat berharap tidak bermimpi bertemu dengan pria tua yang menyebalkan itu.


***


Bela menggeliat di atas kasur. Badannya terasa jauh lebih baik. Ia mengerjapkan matanya, mengumpulkan


kesadarannya. Ia mendapati dirinya terbaring di kasur, di samping Donie yang juga berbaring. Donie berbaring miring menatap ke arahnya.


“Hemmmm... sudah bangun, sayangku?” Tangan Donie terulur membelai pipi Bela.


“Iya mas.” Bela menangkap tangan Donie yang berada di wajahnya. Digenggamnya tangan Donie dengan hangat.


“Kamu kenapa Bel, tiba-tiba sakit begini?” Tanya Donie.


Bela menggelengkan kepalanya, “Mungkin masuk angin, mas.”


“Apakah karena kemarin di pantai sampai malam, tidak pakai jaket, jadi kamu kedinginan ya?”


“Mungkin juga.”


“Bagaimana sekarang?”


Bela mengulurkan tangannya ke arah meja kecil di samping tempat tidurnya. Ia mengambil ponselnya dan memeriksa waktu, “Sudah jauh lebih baik. Lama juga aku tertidur ya mas?”


”Iya. Kamu tadi mengigau. Lalu menangis.” Jawab Donie mengalihkan pandangannya menatap langit-langit kamar.


“Masa sih mas? Aku bicara juga?” Bela sedikit khawatir apabila ia mengatakan hal yang tidak tidak. Lebih takut


lagi jika Donie akan mengetahui sesuatu yang seharusnya tidak diketahuinya.


“Entahlah... kamu merancau tidak jelas. Aku tidak bisa menangkap kata-kata yang kamu ucapkan.” Kata Donie


mengingat-ingat.


Hening.... tidak terdengar suara apapun di dalam ruangan. Sejenak Donie dan Bela larut dalam ketenangan suasana kamar.


Tiba-tiba Donie memberi pernyataan yang membuat Bela terkejut, “Bel, kita harus cepat-cepat menikah. Sepulang dari sini, aku dan mami mau melamar kamu. Minggu depan kita menikah.” Katanya. Tangannya membelai anak rambut Bela.


“A...Apa secepat itu mas? Apakah kamu sudah membicarakannya dengan mami?” Cepat-cepat Bela menyahut pernyataan Donie. Ia tidak tahu, apakah Donie serius dengan ucapannya.


“Belum. Tapi kurasa mami akan setuju saja dengan keputusanku.” Jawabnya lagi dengan yakin.


Sejujurnya Bela masih menyangsikan apa yang baru saja didengarnya, “Apa yang ada di pikiranmu sampai harus secepat itu?”


“Aku hanya tidak ingin kehilangan kamu.” Katanya lagi dengan memencet ujung hidung Bela.


“Aku tidak kemana-mana, mas.”


“Aku ingin kamu selalu ada di sebelahku. Terutama ketika tidur. Beberapa hari ini aku jadi terbiasa tidur dengan memelukmu. Aku kecanduan, Bela.” Guraunya.


Donie mengubah mimik mukanya menjadi sangat serius, “Sayang, aku serius. Aku tidak ingin kamu jauh dariku. Aku takut sesuatu yang buruk akan menimpa kamu lagi seperti kejadian beberapa hari yang lalu. Kamu harus selalu bersamaku. Bahkan setelah pulang dari sini, agar lebih aman, kamu sebaiknya tinggal denganku.”


“Apa? Aku tinggal di apartemenmu? Sebenarnya ada apa mas?” Bela terkejut. Ia bertanya-tanya apa sebenarnya yang sedang di haadapi Donie. Mulai dari apartemennya yang dimasuki orang, pengawalan dari tim keamanan, dan yang terakhir ada seseorang yang berusaha mencelakai Bela ketika ulang tahun perusahaan.


“Aku akan menceritakannya tetapi tidak sekarang.”


“Baiklah. Akan kupikirkan.”


Bela memeriksa email melalui ponselnya, “Mas, tadi mbak Hilda menelepon, katanya ada satu pertemuan lagi


besok. Diusahakan pagi sebelum kita chek out. Perwakilan dari perusahaan yang di Solo itu akan menemui mas di sini. Filenya sudah dikirim mbak Hilda. Nanti aku pindah ke laptop supaya kamu bisa memeriksanya, mas.”


“Baik. Nanti malam kita kerjakan. Sekarang, ayo kita keluar. Aku akan mengajakmu membeli oleh-oleh sebelum


pulang.”


“Ehmmm.... pak Reino?”


“Tidak usah mengkhawatirkan dia. Pasti dia sudah pergi sedari tadi.”


***


Ting...


(Trendy) Selamat sore, Abel. Ini aku, Trendy. Kamu masih di Jogja?


....


Sejak pertemuannya dengan Bela malam itu, Trendy selalu terbayang-bayang wajah Bela. Senyuman manis yang selalu dirindukannya, yang membuat dia bahagia hanya dengan melihatnya, tergambar jelas. Ia tidak lagi dapat menghalau sosok Bela dari pikirannya, bahkan setelah enam tahun berlalu. Bahkan setelah beberapa wanita pernah hadir dalam hidupnya. Tetap saja sosok itu yang membuatnya paling bahagaia, hanya dengan melihat


senyumannya. Yah.... senyum manis itulah yang awalnya memikat hatinya.


Kali ini rendy mencoba untuk memulai kembali komunikasi dengan Bela. Sejujurnya di dalam hatinya ia masih memendam harapan kepada Bela. Ia ingin memastikan apakah Bela masih sendiri. Apabila masih, tentu harapan itu tidak akan sia-sia.


Sudah lebih dari satu jam Trendy mengirimkan wa kepada Bela, namun belum juga dibalas. Bahkan belum ada


tanda-tanda bahwa pesan darinya dibaca.


***


Kedua tangan Bela dan Donie penuh membawa tas berisi barang belanjaan. Berkali-kali Bela menolak ketika Donie


membelikan barang-barang yang disentuh Bela. “Mas, apakah perlu sebanyak ini?”


“Tak apa-apa. Aku senang kalau kamu mau menerima semuanya.” Donie menggelang, tersenyum memamerkan lesung pipinya.


“Tapi kan aku hanya ambil satu-satu untuk Dian, Bang Ben, Virnie, dan Tommy. Cukup empat saja, mas.” Kata Bela.


“Yah, tidak apa-apa. Aku senang. Kamu juga harus beli untuk dirimu sendiri.”


“Mas, aku tidak pernah lho, beli oleh-oleh di toko seperti ini. Biasanya aku beli di pasar Beringharjo, murah meriah, dapat banyak.” Bela mencoba menghitung berapa banyak uang yang dihamburkan untuk membeli barang-barang itu. Ia membandingkan apabila ia membeli di pasar tradisional, tentu saja bisa untuk membuka toko pakaian. “Ini


mahal semua lho. Mas boros sekali.”


“Sudahlah. Sekali-kali tidak apa. Jangan khawatir, aku tidak akan menghabiskan semua uangku.” Donie masih berdiri di rak pakaian yang memajang pakaian batik untuk wanita. “Sayang, tolong pilihkan untuk mami.”


“Mami suka pakaian warna apa mas?”


“Hmmm... aku kurang paham. Kupikir mami lebih suka warna-warna yang tidak telalu mencolok. Carikan saja yang


cocok, kira-kira untuk wanita seumuran mami.” Donie mempercayakan pilihannya kepada Bela.


Bela mengamati pakaian yang berjajar di rak dan pilihannya jatuh pada sebuah blouse batik berwarna putih hitam dan coklat.


Aku rasa, pakaian ini cocok dengan mami Lidya. Mami tidak suka berpakaian yang terlalu ribet. Pakaiannya terlihat simpel, namun menarik.


”Ini saja, mas.... aku rasa cocok dengan mami.” Bela menunjukkan pakaian yang dipilihnya. Donie mengangguk setuju dan membawanya menuju kasir. Bela berjalan menuju kursi yang disediakan untuk pelanggan toko.


Dddrrrttt.....


Ponsel Bela berbunyi ketika ia duduk di kursi pelanggan. Tertera sebuah nomor yang tidak dikenal. Ragu-ragu Bela


hendak menerima telepon itu. Akhirnya diputuskannya untuk menerima telepon masuk.


“Hallo....” Sapa Bela.


“Hallo Abel....”


Deg...deg...., Bela teringat suara bariton pria di seberang sana.


 


Kenapa kamu menghubungiku sekarang?