My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 16



BAB 16


 Sore itu, Bela duduk di depan recepsionist, menunggu Donie.


Hilda datang menghampiri Bela.


“Kok belum pulang Bel?”


“Belum mbak, lagi nunggu temen.”


“Temen atau temen?”


Bela menjawab dengan senyuman. Sementara Hilda melihat Bela dengan pandangan menyelidik.


Ddrrtt....ddrrtt...ddrrtt....


“Hallo.”


“Saya sudah di depan.”


“Iya pak.”


Bela segera meninggalkan ruangan. Namun dengan keponya, Hilda mengikuti Bela dengan diam-diam.


Itu kan mobilnya pak Donie?


Hilda melihat Bela dari pintu kaca kantor. Dilihatnya Bela masuk ke mobil Donie.


Hari ini pak Donie baru datang dari Kalimantan. Supri tadi menjemputnya di bandara. Oh, mungkin itu Supri yang ada di dalam mobil. Tidak mungkin pak Donie ke kantor sore-sore begini.


“Hai.....”


“Iya pak. Lho, pak Supri mana ?”


“Aku suruh pulang. Kamu suka makanan apa?” Donie berbicara informal.


“Apa aja pak.”


“Yang paling kamu suka. Biar aku tau kesukaan kamu apa.”


“Saya nggak pilih-pilih makanan pak. Yang penting tidak terlalu pedas. Tapi masakan Indonesia lho pak. Kalau masakan barat nggak cocok dengan lidah saya. Bahkan yang paling umum, hamburger atau pizza, saya nggak doyan pak. Rasanya nggak familier di lidah saya.”


“Sama dong selera kita. Ok lah kita makan di Pawon Desa saja.”


Mereka berdua terdiam, hanya suara alunan lagu dari Adele yang terdengar.


Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di restoran yang dituju. Donie memilih tempat VIP dan segera memesan makanan.


“Kamu juga pesan.”


“Iya pak.”


Setelah pelayan restoran pergi menyiapkan pesanan mereka, Donie menatap ke arah Bela. Bela merasa gugup ditatap seperti itu oleh Donie.


"Kamu nggak kangen sama aku? Dari tadi diem aja."


“Bagaimana dengan proyek di Kalimantan Pak?” Bela mengalihkan pembicaraan guna mengurangi rasa gugupnya.


“Lancar. Proses pembangunan perumahan akan dimulai bulan depan. Ada dua lokasi dan setelah kami lihat, aku tertarik bikin resort di sana. Mungkin aku dan Reino akan bolak balik ke sana. Aku pengen kamu juga sekali-kali ikut.”


“Ngapain saya ke sana pak?”


“Nemenin saya.”


“Kan ada pak Reino.”


“Biar aku nggak selalu rindu sama kamu.”


Deg.....deg.....deg.....dada Bela berdesir, jantungnya seperti berdetak lebih cepat. Wajahnya merona merah. Tiba-tiba ia menjadi serba salah duduk di depan Donie. Ia mengubah-ubah posisi duduknya.


Bela, kamu harus menjadi milikku.


“Kamu kenapa, duduknya nggak nyaman gitu?”


“Ehm.... nggak papa pak.”


Gimana nih, gue grogi. Beneran yah, pak bos ini? Atau dia tukang gombal ya?


Pelayan restoran datang dan menata makanan yang dibawanya di atas meja.


“Silakan Pak, Bu.”


Pelayan restoran meninggalkan Bela dan Donie.


Donie menatap Bela, membelai pipinya dengan lembut. “Jangan panggil aku ‘pak’ kalau lagi di luar kantor.”


“Terus panggil apa pak?”


“Ehm...... Abang atau Kakak atau Mas atau Aa ?”


“Sayang juga boleh.” Kata Donie sambil mengedipkan mata.


Uhuk....uhuk......Bela keselek minuman yang ia teguk.


“Hahaha......., kamu kaget? Nggak masalah lho. Aku senang kalau kamu manggil sayang.”


“Mas saja, ya pak. Saya geli denger bapak bilang sayang.”


“Haha....kamu nggak suka?”


“Bukan sih pak. Geli aja.”


“Aku aja yang manggil kamu sayang kalau gitu.”


“Ha......??? Bapak......” Bela tidak tau lagi warna wajahnya. Mungkin seperti tomat.


Makanan ini enak-enak semua, tapi gimana gue mau makan banyak? Grogi banget gue makan di depan dia. Duh, bilang sayang lagi. Gue nggak nyangka tukang gombal juga dia.


Setelah menyelesaikan makan malam mereka di restoran Pawon Desa, Donie mengajak Bela ke bioskop yang dekat dengan restoran tadi. Ini untuk menghindari terjebak macet.


Setelah membeli tiket, Donie bermaksud untuk membeli makanan.


“Aku beli makanan dulu.”


“Pak, saya saja.”


“Hemmm?”


Bela tersadar ia salah menyebut pak. Ia masih belum terbiasa memanggil dengan sebutan yang lai. Bagaimanapun donie adalah bosnya. “Mas, aku aja yang beli.”


“Sayang, ini bukan di kantor. Aku mau beli untuk pacar aku.” Donie segera berlalu meninggalkan Bela yang keheranan.


Gleg....


Perut gue mules dengernya. Bos bilang gue pacar dan manggil Gue sayang. Seumur-umur baru kali ini ada cowok yang manggil gue sayang. Dan cowok itu ganteng banget. Siapa juga yang nggak mau sama cowok ganteng, tajir, dan baik walaupun kadang kadang agak nyebelin.


“Hei, kriwil cantik....” Bela mendengar ada yang memanggilnya.


“Eh.... Tommy.... Mau nonton juga?”


“Iya nih rame-rame. Tuh sama temen-teman kantor. Kamu sama siapa?”


“Ehm.....sama bos aku.” Bela sedikit berbisik ke arah Tommy yang ada di depannya.


Dari kejauhan Donie melihat Bela berbisik ke arah cowok di depannya. Ia terlihat marah. Apalagi ia tahu cowok yang berbicara dengan Bela adalah cowok yang ditemuinya sewaktu mereka di mall beberapa hari yang lalu. Donie segera menghampiri Bela.


“Sayang, ayo kita masuk.” Tanpa menghiraukan Tommy, Donie memeluk bahu Bela dari belakang walaupun tangan kanan dan kirinya membawa makanan.


Bela terkejut, tetapi menurut saja ketika Donie membimbingnya memasuki studio C di depannya. Sementara Tommy tertegun melihat sikap  Donie kepada Bela. Apalagi dengan sebutan yang tadi diucapkan kepada Bela, ‘sayang’.


Di dalam studio, Donie mengarahkan pandangannya menyapu tempat duduk untuk mencari tempat duduk yang


sesuai dengan tiket mereka. Tak lama kemudian mereka telah duduk di kursinya.


“Ih, mas apaan sih.... manggil sayang di depan orang. Aku kan malu.” Bela mencubit perut Donie.


“Hmmm kamu mulai genit yah, cubit-cubit perut.”


“Bukan gitu juga kali mas.”


“Ngapain mesti malu. Biar dia tau kalau kamu pacarku. Pokoknya mulai hari ini, nggak boleh ada cowok yang deketin kamu.”


“Memangnya aku siapanya kamu mas?”


“Pacarku. Ngerti? Kurang jelas aku ngomong?” Donie menjawab dengan nada tegas seperti tidak mau dibantah oleh siapapun.


“Iya, tau.” Kata Bela dengan pasrah.


Ingat Bela, aku tidak suka ditolak.


HALLO READERS, JIKA KALIAN SUKA, JANGAN LUPA YA BERI :


·         Komentar


·         Like


·         Favorit


·         Tip


SELAMAT MEMBACA


SILAKAN MAMPIR KE NOVELKU YANG LAIN “LOVE AFFAIR”