My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 13



BAB 13


Bela hanya tidur 2 jam. Pagi ini dia kembali mengerjakan tugas yang diberikan Donie dengan hati-hati dan teliti. Bela cukup cermat mengerjakan hal-hal seperti ini. Ia bekerja dengan sebaik-baiknya agar nanti siang ia bisa mengantarkan berkas itu ke rumah bosnya.


Drrttt.....dddrrrtt......ddrrtt.....


“Hallo Vir.” Bela menjawab telepon dari sahabatnya.


“Hallo kriwil cantik. Elo lagi apa? Jalan-jalan yok.”


“Sorry Vir... gue lagi ada kerjaan dari bos gue. Nggak bisa keluar hari ini.”


“Tapi kan ini weekend say.....?”


“Iya, tapi ini mendadak. Ini gue dihukum.”


“Hah ? dihukum kenapa?”


“Kemarin, gue lagi pergi sama bos ubur-ubur, terus di lift ketemu sama Tomy. Inget Tomy nggak?”


“Tommy? Temen kita waktu SMA itu?”


“Iya. Gile, dia tambah genteng Vir...”


“Oh ya...? terus?” Virni jadi kepo banget.


“Terus gue ngobrol sama Tommy dan lupa gue kalo gue bawa barang-barang si bos. Eh karena ngobrol itu,


gue ditinggal sama si bos. Barang-barangnya juga bos yang bawain. Jadilah gue apes sekarang. Harusnya weekend, jadi gue malah ngerjain proposal dan kontraknya si bos. Harus jadi hari ini. Besok mau dibawa.”


“Haha....elo ada-ada aja say. Kirain nggak bisa keluar karena ngedate sama pacar.”


“Pacar gue kan elo say.....hahaha....”


“Ya udah, gue pergi sendiri aja deh. Siapa tau ketemu cogan di Mall.”


“Hahaha....ngarep banget. Pengen banget lo cari pacar.”


“Ya iyalah.... nagih say. Elo sih kerja mulu.... nggak tau enaknya punya pacar.”


“Hahaha.... mana sempet gue. Lagian kan elo tau....pacar gue itu elo Vir.....hahaha.....”


“Jeruk makan jeruk ya say.”


“Gue lanjut kerjaan dulu yah.....”


“Ok deh. Selamat berkerja. Bye anak cantik.”


“Bye Virni sayang.”


Jam menunjukkan pukul 12.00. Bela telah selesai dengan pekerjaannya.


Dddrrrtttt.....dddrrrtt.....


“Hallo pak.”


“Sudah selesai tugasnya?”


“Sudah pak.”


“Nanti antar ke apartemen saya sekitar jam 2 siang.”


“Baik pak.”


Tak lama kemudian.


Ting...


Suara wa masuk ke Hpnya.


Donie mengirimkan lokasi apartemennya.


Masih ada 2 jam. Gue bisa istirahat, tidur dulu ah.


Bela menarik selimut dan tertidur di ranjangnya.


***di apartemen Donie***


Pukul 14.00


Mana si Bela? Belum datang juga? Apa tadi dia berbohong, bahwa tugasnya sudah selesai. Tapi seharusnya dengan kemampuan Bela, pasti tugas gue sudah selesai dikerjakannya. Dia gadis yang tekun dan detil dalam mengerjakan sesuatu.


Saat Donie di kamar mandi


Ting tong......ting tong....ting tong....


Duh, lama banget si bos. Nggak keluar keluar sih....


Ting tong....ting tong....ting tong....


Aduh pak, cepet bukain pintunya...


Bela berjongkok di depan pintu apartemen bosnya.


Klek...


Pintu dibuka dari dalam.


“Bela, kamu ngapain jongkok di situ?”


“Bapak lama banget sih bukain pintunya. Pak....numpang, mau ke kamar mandi. Nggak tahan....”


“Tuh... kamar mandi sebelah sana.”


“Bela berlari menuju arah yang ditunjukkan bosnya.”


Gubrak.......


“Aduh.... sakit....”


Bela menabrak meja di ruang tamu dan terjatuh.


Donie seegera berlari ke arah Bela dan membantunya berdiri.


“Bela...Bela... lagi-lagi kamu tidak hati-hati.”


“Saya buru-buru pak.”


Dengan terpincang-pincang Bela menuju ke kamar mandi.


Tak lama kemudian Bela keluar dari kamar mandi.


“Pak.... berkasnya masih di luar.”


“Di luar mana Bel?”


“Di depan pintu.”


“Kamu ceroboh sekali.” Donie menggeleng-gelangkan kepalanya dan mengambil berkas di depan pintu.


“Bagaimana kakimu?”


Bela melihat ke kakinya.


“Haaa??? Pak, jendol biru. Aduh....gimana ini.”


“Sini saya liat.”


Donie berjongkok memeriksa kaki Bela. Ternyata kakinya yang terbentur meja bengkak dan berwarna biru.


Donie mengambil salep dari kotak obat. Dengan lembut ia mengoles kaki Bela dengan salep.


Deg...deg....


Duh, jantung gue kenapa yah?


Gleg.....


Bela tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya melihat Donie mengeoles salep di kakinya.


Setelah mencuci tangannya, Donie duduk di samping Bela. Ia membuka berkas yang dibawa Bela dan


memeriksanya dengan teliti.


Ketika Donie tenggelam dalam urusannya, Bela merasa jantungnya makin berdetak cepat. Donie duduk terlalu dekat dengannya. Bahkan kakinya menempel di kaki Bela. Hari ini Donie memakai celana pendek selutut berwarna coklat muda dan t-shirt putih yang pas di tubuhnya. Wangi tubuh Donie tercium hidung Bela. Bela merasa  jantungnya semakin berdetak. Bahkan ia merasa takut jika Donie mendengarnya. Bela menarik nafas perlahan, mencoba mengatur detak jantungnya.


“Good job, Bela... it’s perfect. Sesuai dengan yang saya harapkan.”


Doni menatap Bela. Ia melihat wajah Bela yang tertunduk, namun merona merah.


“Kamu kenapa? Sakit?”


Ah, muka gue pasti kayak kepiting rebus.


Bela menggeleng.


Tiba-tiba Donie tersadar. Ia duduk terlalu dekat dengan Bela. Tapi ia menyukainya. Ia menyukai aroma shampo dari rambut Bela.


Donie membelai rambut Bela. Memegang dagunya dan mengangkat wajah Bela dengan ujung jarinya sampai


dekat ke wajahnya.


“Kamu cantik Bela.”


Bela diam saja. Donie menempelkan dahinya pada dahi Bela. Dan hidung mereka bersentuhan.


“Pak.....jantung saya mau copot.”


“Hahaha.... Donie tertawa dan memeluk Bela.”


“Bagaimana kalau begini? Jadi copot jantungnya?”


Hmmm bau tubuh pak Donie harum sekali. Bela menikmati pelukan Donie.


Pak Donie bikin hati gue ambyar....


“Bela, besok saya berangkat ke Kalimantan. Mungkin 3 – 4 hari. Kamu bakalan merindukan wajah tampan saya.”


Donie melepas pelukannya dan tersenyum di hadapan Bela.


Oh, senyumnya. Lesung pipinya.... manis sekali..... Wajahnya tampan sekali.


Donie memperhatikan wajah Bela yang semakin memerah. Dan....hap...Donie mencium bibir Bela. Manis....


Tidak ada penolakan dari Bela. Ia menunduk malu tersipu-sipu.


“Pak, saya malu.”


“It was your first kiss?”


Bela mengangguk pelan.


Oh....Donie kaget. Namun ia merasa bangga. Laki-laki pertama yang mencium Bela.


“Ini untuk yang kedua dan ketiga.”


Donie mencium bibir Bela kembali. Dia mengulangi yang ketiga kalinya. Kali ini Donie ******* dengan


lembut, membuka mulut Bela, dan lidahnya bermain-main di dalam mulut Bela.


Ini merupakan hal baru bagi Bela. Serasa gairahnya menyala. Ia menikmati ciuman lembut dari Donie. Mereka berhenti sejenak untuk mengambil nafas. Donie mengulang lagi ciumannya.


Tangan Bela meremas sandaran sofa. Ciuman Donie turun ke leher Bela.


Ehmmm.....


Bela mendesah.....membuat Donie semakin ingin menciumi Bela. Tangan Donie masuk ke dalam kemeja Bela dan mengusap punggung Bela. Kulit punggung Bela bersentuhan dengan telapak tangan Donie. Donie mengusap dengan lembut.


Bela kembali mendesah. Matanya kini terpejam menikmati perlakuan Donie.


Dddrrrttt......dddrrrttt.....dddrrrttt....


Sial, HP sialan. Donie mengumpat dalam hati dan melepaskan Bela.


Ia mengambil HP yang tergeletak di meja tamu.


“Hallo No.”


“Ada di apartemen bro?”


“Kenapa?”


“Gue mau mampir. Sekalian lewat.”


“Besok aja.”


“Lo lagi keluar?”


“Lagi tanggung. Lo kalo nggak penting-penting amat, gak usah telepon gue hari ini.”


“What?”


.......


“Pak, saya pulang dulu.”


Donie melirik ke arah Bela. Ia tidak menjawab, tapi masuk ke dalam kamar. Mengambil kunci mobil.


“Sebentar saya antar.”


Donie mengantar Bela sampai ke rumah. Suasana masih canggung. Bela merasa sangat malu dan buru-buru


keluar dari mobil.


Akh.... Donie memukul stir mobil dengan geram.


Kenapa gue diem aja?


Kira-kira begini gambaran Donie dan Bela


 


 


Hyun Bin as Donie



 Kim So Hyun as Isabela



HALLO READERS...


KIRA-KIRA COCOK NGGAK SAMA BAYANGAN READERS?