My Silly Secretary

My Silly Secretary
Episode 25



BAB 25


Doni melirik Bela yang berjalan ke arahnya. Ia berdiri menyambut Bela dengan senyumnya.


Bela berusaha tidak luluh dengan senyum manis kekasihnya itu.


Ingat Bela, gue lagi marah. Bela membatin sendiri.


“Bela kamu tidak apa-apa?”


“Siapa bilang tidak apa-apa?” Bela cemberut melihat Donie.


“Bela, sebentar, jangan marah dulu. Ada yang harus aku jelaskan.”


“Aku pengen nonjok muka kamu mas.”


“Boleh. Tonjok aja kalau bikin kamu lega. Sini........kalau dari situ nonjoknya, nggak kena, sayang.”


Bela memajukan bibirnya.


“Itu kode minta dicium atau gimana?”


“Apaan sih?”


Bela segera duduk di samping kursi yang tadi Donie duduki. Donie pun mengikuti Bela duduk kembali di samping Bela.


“Sekarang mas jelasin semua ke aku. Nggak boleh ada yang ditutupi.”


“Aku minta maaf Bela. Maaf sekali. Apa yang kamu lihat di artikel gosip itu tidak seperti kelihatannya. Kami tidak memiliki hubungan spesial seperti yang diberitakan. Kami memang bertemu malam itu, tapi untuk membahas kerjasama. Dan memang Stefanie Hotman itu menjadi incaran para wartawan. Apapun yang dilakukannya selalu menjadi berita. Nah, karena waktu itu kami bertemu di tempat umum, maka ada gosip seperti ini. Aku juga tidak memperkirakan akan menjadi seheboh ini. Mungkin memang sosok Stefani sangat terkenal melebihi artis. Stefi itu teman lamaku sewaktu SMP. Papi dan mami juga berteman baik dengan orang tua Stefi.”


Bela tidak sepenuhnya memerima penjelasan Donie. Ia membuang muka ketika Donie menatapnya.


“Apa lagi yang harus aku jelaskan?”


“Kenapa dia tadi datang ke kantor?”


“Mau ketemu Reino.”


“Ngapain?”


“Bicara bisnis sayang.”


“Kenapa datengnya ke ruangan kamu?”


“Mau membicarakan artikel gosip itu sebelum ketemu Reino.”


“Terus dia seneng digosipin sama kamu?”


“Bukan begitu. Dia malah minta maaf karena aku jadi masuk berita gosip.”


Donie menghela nafas panjang. “Sudahlah sayang, stop ngambeknya. Kepalaku pusing melihat kamu ngambek begitu.”


“Jadi bener, kamu nggak selingkuh?”


“Siapa yang selingkuh Bela? Kamu cemburu? Pacarku yang cantik ini tidak bisa membuatku berpaling.”


“Ih.... gombal....”


“Bener lho sayang. Di hatiku hanya ada kamu seorang.”


“Aku butuh bukti mas, bukan sekedar kata-kata gombal.”


“Ok. Aku buktikan. Kamu nggak akan pernah menyesal menerimaku sebagai kekasih.”


Dan..... cup..... Donie mengecup bibir Bela.


“Iiiihhh..... baru juga baikan. Udah cium cium.” Pipi Bela merona merah.


“Bel.... bibir kamu dingin.” Donie memegang bahu Bela dengan kedua tangannya.


“Ya ampun, kamu basah. Ini pasti hujan-hujanan tadi ya?”


“He...em.... mas.”


“Ya udah, sana ganti baju dulu. Nanti kamu sakit.”


“Terus mas mau pulang?”


“Itu sih terserah kamu. Kalo diusir, aku pulang. Tapi kalo kamu mau ditungguin, aku di sini aja.”


Bela diam sejenak. Ia melihat ke arah Donie. Ia merasa kasihan. Pasti sudah berjam-jam ia menunggu di sini.


“Bentar lho ya.... nggak lebih dari 15  menit. Lebih dari 15 menit, aku pergi.”


“Hemmm mulai deh si bos.... nggak bisa dibantah.”


“Udah.... cepet sana.”


Bela segera masuk ke dalam rumah. Ia tergesa-gesa mandi dan berganti pakaian.


 


Tok....tok....tok...


“Bela.... pacar kamu di luar, disuruh masuk dulu. Dari tadi lho dia nungguin di luar. Nanti masuk angin.”


Lha.... Bang Ben tau kalo dia pacar gue? Siapa yang bilang? Apa dia sendiri yang bilang ya? Perasaan gue nggak pernah cerita. Dasar mas Donie.... kepedean dia cerita duluan ke abang sebelum gue cerita.


“Iya Bang... nggak papa di luar. Sebentar lagi kami mau keluar kok.”


“Ya udah. Tapi jangan tengah malem pulangnya. Aku udah tidur. Nggak ada yang bukain pintu.”


“Okay Bang.....”


Bela menjawab sambil berdandan di dalam kamar.


***


 


Bela sudah berada di dalam mobil Donie. Mobil sedan hitam itu membelah kota Jakarta yang masih hujan.


“Tadi siapa yang nganter kamu?”


“Virnie.”


“Virnie teman kamu SMA itu?”


“Iya mas.”


“Tadi aku lihat kamu hujan-hujanan. Aku panggil nggak denger. Terus disusul satpam pakai payung. Eh, malah kamu dijemput si Brio hitam tadi. Aku telepon berkali-kali nggak aktif. Kamu bikin aku khawatir. Jangan seperti itu lagi Bel.”


“Iya mas. Tapi memang hp aku habis baterenya. Ini aja belum hidup, belum sempat ngecharge.”


“Tuh.... ada power bank.... dicharge aja.”


“Kamu sehat kan?”


“Sehat mas. Kenapa mas?”


“Kamu kan tadi hujan-hujanan.”


“Aku nggak papa kok mas. Aku tadi sedih, mikirin kamu. Aku merasa nggak pantas aja jadi pacar kamu. Kamu kan ganteng, orang kaya mas, dari keluarga terpandang, dan banyak sekali yang mau sama kamu. Kamu lebih pantas bersanding dengan Stefanie Hotman dibandingkan denganku. Aku mah apa atuh, hanya seujung upil bagi kamu.”


“Pppffftttt.”


Sebenarnya Donie terharu mendengar kata-kata Bela yang duduk manis di sebelahnya. Namun ketika ia menyebut ‘upil’ rasanya Donie ingin sekali tertawa. Tapi ditahannya setengah mati. Ia tidak ingin menyakiti hati kekasihnya. Akhirnya ia menarik nafas..... tarik nafas lagi sampai tiga kali untuk menghilangkan keinginan tertawa.


“Bela, kamu jangan pernah ngomong begitu lagi ya. Kamu itu orang paling berharga bagi saya. Hanya kamu yang paling pantas bersama saya. Kamu tidak usah memikirkan hal-hal yang tidak perlu seperti itu. Cukup dampingi saya saja.”


“Saya....saya.........aku panggil pak lagi.”


“Iya, salah..... aku.”


“Semakin laper aku, mas. Mas cari restoran yang bagaimana sih, dari tadi kok nggak sampai-sampai.”


“Itu.... di depan ... sebentar lagi sampai.”


“Wah.... makanan Korea......”


“Kamu suka?”


“Belum tahu sih mas. Aku belum pernah nyobain. Hanya liat aja di drama-drama Korea, kayaknya enak.”


Wajah Bela berseri-seri. Donie tersenyum melihatnya. Melihat Bela berseri-seri seperti itu, membuat Donie merasa bahagia.


Donie memarkirkan mobilnya. Mereka berdua keluar dari mobil. Donie mendekati Bela dan menggandeng tangan Bela. Mereka memasuki restoran Korea dengan bergandengan tangan.


HAI READERS,


KIRA-KIRA BAGUSNYA DIKASIH MISTERI ATAU PELAKOR YA?