My Pretend Wife

My Pretend Wife
Bab 69



" Aaakh" Almyra berteriak seraya menutup mata nya saat terdengar suara pukulan yang sangat nyaring di sekitar lorong hotel.


" Apa kamu baik - baik saja?" Yuichi menghampiri Fariz setelah dia membuat Doni tersungkur di atas lantai marmer yang sangat dingin.


Ya, Doni yang akan menyerang Fariz harus kembali tersungkur karena Yuichi melayangkan pukulan keras nya untuk melindungi Fariz.


" Aku baik, sekarang kita bereskan mereka berdua!" Fariz tersenyum dan kemudian kembali melayangkan serangan nya pada Doni dan juga Boim yang masih tersungkur di hadapan mereka.


" Apa pun yang tuan putri ingin kan" Yuichi membalas senyuman Fariz dan langsung ikut menyerang.


Hanya beberapa pukulan lagi yang di layang kan oleh Fariz dan juga Yuichi sampai Doni dan Boim sudah terkapar tak berdaya dengan wajah yang terlihat sangat menyedih kan. Beberapa luka lebam dan darah segar akibat kulit yang terobek tampak memenuhi wajah ke dua pria naas itu.


" Almyra, apa kamu baik - baik saja?" Fariz langsung menghampiri Almyra yang berjongkok dengan tubuh yang bergetar serta tangan yang menutupi ke dua mata nya.


" Fariz, kamu tidak apa - apa kan?" Almyra langsung memeluk tubuh Fariz dengan tubuh nya yang masih gemetar ketakutan saat mendengar suara Fariz yang menghampiri nya. " Di mana mereka memukul mu?" Almyra melepaskan pelukan nya dan dengan wajah yang masih panik langsung menelisik keadaan tubuh Fariz, karena Almyra menutup mata nya jadi Almyra tidak tahu kalau Yuichi datang tepat waktu untuk melindungi Fariz dari pukulan Doni.


" Aku tidak apa - apa, sekarang cepat masuk dan selamat kan pangeran mu itu!" Ucap Fariz dengan nada mengejek nya.


" Tapi dua pria itu?" Almyra terlihat ragu saat mengatakan nya.


" Dua pria itu maksud mu?" Fariz terkekeh seraya menggeser sedikit tubuh nya agar Almyra bisa melihat tubuh Boim dan Doni yang cukup mengenaskan di belakang nya.


" Daebak.. apa kalian yang melakukan nya?" Almyra membulatkan bola mata nya dengan wajah tak percaya.


Almyra bisa melihat tubuh Doni dan Boim yang sudah tergeletak tak berdaya dengan beberapa luka lebam di wajahnya, dan di tengah ke dua nya tampak Yuichi yang sedang menghubungi seseorang dengan menggunakan ponsel nya, seperti nya Yuichi memanggil petugas keamanan yang bekerja di hotel itu untuk membereskan orang - orang jahat itu.


" Tentu saja, menurut mu siapa lagi? Sekarang cepat masuk dan selamat kan pangeran mu itu!" Fariz mendorong tubuh Almyra agar segera masuk ke dalam kamar yang berada di dekat mereka. " Dan kamu Yui, temani Almyra! Biar aku yang mengurus sisa nya" tambah Fariz lagi


" Tapi aku tidak mungkin meninggal kan mu sendiri di sini sayang" wajah Yuichi terlihat cemas.


" Ya aku tahu, tapi" Yuichi masih enggan untuk menyetujui Fariz.


" Kamu tidak perlu khawatir, lagi pula apa yang bisa mereka lakukan dengan kondisi seperti itu?" Fariz terkekeh seraya menunjuk Boim dan Doni di bawah mereka.


" Baik lah, tapi kalau ada apa - apa berteriak lah!" Yuichi akhir nya setuju walau dengan berat hati, karena tidak bisa dia pungkiri bahwa apa yang di katakan Fariz memang benar Yuichi sangat menghawatirkan keadaan saudara sepupu nya itu.


Almyra dan Yuichi pun masuk ke dalam kamar yang tadi di jaga oleh Doni dan Boim yang mereka yakini kalau di sana lah Devlin berada.


Flash back off


Matahari pagi telah bersinar menggantikan tugas sang rembulan yang sudah pulang ke peraduan nya beberapa waktu yang lalu, burung - burung kecil juga sudah mulai berkicau dengan riang nya. Dan tak lupa juga ayam jantan yang sudah berkokok membangunkan semua penghuni bumi untuk segera memulai kembali aktifitas mereka.


Sinar mentari bersinar dengan cerah memasuki celah - celah gorden sebuah kamar hotel yang berukuran luas, namun itu semua sama sekali tidak mengusik dua orang berlainan jenis yang malah semakin terlelap dalam dekapan masing - masing. Seperti nya mereka merasa nyaman dengan posisi mereka saat ini.


"Eeemhh" suara lenguhan terdengar dari bibir seorang gadis yang menggeliat kan tubuh nya di dalam dekapan sang pria di hadapan nya. " Eemm... Nyaman nya..." Sang gadis malah semakin memasuk kan diri nya dalam dekapan nyaman yang dia rasakan saat ini. " Eh tunggu dulu!" Tangan gadis itu mulai meraba apa yang ada di hadapan nya, karena seperti nya dia merasa aneh dengan sesuatu yang sedang dia peluk saat ini. Rasa nya guling yang selalu dia peluk saat tidur agak berbeda dengan apa yang dia peluk saat ini. Beberapa saat tangan gadis itu masih meraba dengan mata yang masih tertutup dan otak yang masih berpikir, sampai akhir nya dia menyadari sesuatu dan langsung membuka mata nya dengan sempurna.


" Aakh.. hmmpt" gadis itu berteriak dengan mulut yang dia bungkam saat diri nya merasa kaget dengan apa yang ada di hadapan nya. Wajah tampan seseorang yang selalu dia cintai seumur hidup nya. " Kak Devlin, ba bagai mana bisa?" Almyra tampak membulatkan bola mata nya saat melihat wajah tampan Devlin tepat berada di depan wajah nya. Dan apa ini? Bahkan tubuh Devlin saat ini sedang mendekap tubuh mungil nya.


Almyra kembali mengingat kejadian semalam di mana diri nya harus tinggal di kamar hotel menemani Devlin yang sedang tak sadar kan diri setelah petugas keamanan membereskan Nindy dan anak buah nya, sedang kan Yuichi dan Fariz pergi entah kemana karena harus menyelesaikan urusan mereka setelah Nindy mengatakan hanya memberi Devlin obat tidur dengan dosis yang cukup tinggi sehingga tidak terlalu berbahaya untuk tubuh Devlin. Jadi mereka bisa menyerahkan Devlin pada Almyra saja.


" Bukan kah aku tidur di atas sofa, bagai mana bisa aku jadi tidur di sini?" Ya, Almyra memang tidur di sofa semalam karena Almyra tidak enak hati pada Devlin bila nanti Devlin sadar dan Almyra tidur di samping nya. " Oh God, apa aku tidur sambil berjalan? Tidak mungkin , tidak mungkin" batin Almyra berpikir sendiri. " Aku kan sejak dulu tidak pernah seperti itu" tambah Almyra lagi masih dalam hati nya.


Tidak tahu saja Almyra, sebenar nya tengah malam menjelang subuh sekitar pukul 3 pagi. Devlin sudah tersadar dari pengaruh obat tidur yang di berikan oleh Nindy pada nya dan dia juga melihat Almyra tertidur pulas di atas sofa yang ada di dekat nya, namun karena Devlin tidak tega melihat Almyra tidur dalam posisi yang tidak nyaman di sana akhir nya Devlin memindah kan tubuh Almyra untuk tidur bersama nya.


" Tapi, bukan kah ini baik? Aku jadi bisa merasakan hangat nya dekapan kak Devlin, dan wajah ini" tangan Almyra terulur menyentuh wajah Devlin dengan tatapan mata yang berbinar dan penuh cinta. " Sangat tampan" Almyra tanpa sadar bergumam seraya tersenyum lebar dengan tatapan penuh kagum.


Jangan lupa like, vote dan komen. Jangan lupa juga klik tanda hati untuk menambahkan ke favorit kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏