
Pagi nya seluruh anggota keluarga Balendra berkumpul bersama di meja makan untuk sarapan seperti biasa nya, semua nya tampak makan dengan hening tanpa sepatah kata pun dari mereka, hanya dentingan suara sendok yang terdengar di antara mereka. Seperti nya semua nya sedang sibuk dengan pikiran mereka masing - masing.
" Daddy, apa daddy yakin dengan keputusan daddy?" Fariz dengan ragu mengungkap kan apa yang sudah membuat nya tidak bisa tidur semalaman.
Ya, setelah apa yang di katakan daddy Nanda semalam membuat Fariz tidak bisa tidur nyenyak setelah kepulangan Yuichi dari mansion. Fariz merasa takut kalau apa yang di ucapkan daddy nya itu ternyata benar, Fariz tentu saja tidak mau di jodohkan dengan pria yang bahkan tidak Fariz kenal. Apa lagi saat ini dalam hati Fariz sudah terpatri nama Yuichi di dalam sana.
" Tentu saja, apa kamu keberatan?" Daddy Nanda dengan santai nya meminum air putih yang ada di hadapan nya dan melap bibir nya dengan tisyu setelah dia menyelesai kan sarapan nya.
" Tentu saja aku keberatan, bukan kah daddy sudah bilang akan merestui ku dengan Yuichi" Fariz merengek manja.
"Daddy, Fariz benar! Apa daddy tidak keterlaluan kalau seperti ini?" Mommy Fika berusaha membantu putri nya.
" Kalau menurut ku, keputusan daddy itu yang paling benar. Bukan kah dia juga harus membuktikan cinta nya" Aydan menimpali.
" Ish, kakak diam saja! Lagi pula tidak ada yang meminta pendapat mu" Fariz mendengus kesal.
" Ck, dasar kau ini" Aydan menggerak kan tangan nya ingin memukul adik nya, namun Nara mencegah nya dan menatap tajam suami nya itu agar tidak melakukan nya.
" Sudah - sudah, kalian ribut pun tidak akan mengubah keputusan daddy" daddy Nanda menengahi pertikaian antara adik kakak itu. " Siapa suruh dia membohongi kita, bahkan dia masih belum berani mengatakan yang sebenar nya" tambah daddy Nanda lagi membuat Fariz tidak bisa mengatakan apa pun lagi. Dalam hati Fariz, dia membenar kan apa yang di katakan oleh daddy nya itu.
" Yui, apa kamu akan terus berjuang? Atau kamu akan menyerah di tengah jalan?" Batin Fariz meratapi kemungkinan yang akan terjadi.
🍓🍓🍓🍓🍓🍓
Sementara itu di tempat yang lain nya, Almyra seperti biasa datang ke perusahaan tempat nya bekerja, jika biasa nya dia akan pergi bekerja dengan riang nya maka berbeda dengan hari ini. Almyra tampak tidak bersemangat dengan mata yang sedikit sembab akibat menangis kemarin.
" Harus nya aku tidak datang bekerja hari ini" Almyra membuang nafas nya kasar seraya menghempaskan bokong nya pada kursi yang biasa dia gunakan untuk bekerja. " Aku harap aku tidak berjumpa dengan nya hari ini"
Orang - orang di kantor pun semakin ramai berdatangan dan jam kerja pun di mulai, Almyra memang sedang dalam keadaan hati yang tidak baik - baik saja namun dia akan tetap bersikap profesional dalam pekerjaan nya.
Hari itu Almyra bekerja seperti biasa nya, dan untung saja seharian itu Devlin tidak terlihat di sekitar ruang kerja Almyra. Seperti nya Devlin sibuk dengan pekerjaan nya. Bahkan saat waktu istirahat pun Almyra bahkan tidak mendapat kan kabar keberadaan Devlin di perusahaan, Yoni sang asisten juga tak terlihat batang hidung nya oleh Almyra.
" Selesai, saat nya pulang" Almyra mengambil tas yang ia simpan di atas meja dan memakai nya setelah dia mematikan layar laptop yang ada di hadapan nya.
" Almyra" baru saja Almyra akan berdiri untuk pulang, seseorang terdengar memanggil nama nya.
" Ya mbak, ada apa?" Ternyata itu Wulan, manager dari divisi tempat Almyra bekerja.
" Kamu jangan pulang dulu ya?" Wulan terlihat ragu saat mengatakan nya. Wulan merasa tidak enak hati pada karyawan nya itu, apa lagi saat melihat Almyra sudah bersiap untuk pulang.
" Kenapa mbak, apa ada masalah?" Almyra mengerut kan kening nya.
" I itu, pak Devlin menyuruh mu ke ruangan nya" sebenar nya Wulan merasa bingung dengan perintah bos nya itu yang bisa - bisa nya memberikan perintah di saat terakhir jam kerja kantor.
Beberapa menit yang lalu, Wulan di panggil oleh Devlin ke ruangan nya sesaat setelah kembali nya Devlin dari urusan pekerjaan nya di luar perusahaan. Devlin meminta Wulan untuk menyuruh Almyra ke ruangan nya di jam pulang kantor dengan alasan ada pekerjaan Almyra yang harus Almyra perbaiki di ruangan nya.
" Ada perlu apa ya mbak?" Almyra bersikap sebiasa mungkin, padahal hati Almyra saat ini sedang bergemuruh melawan rasa sakit nya setiap kali dia mendengar tentang Devlin.
Sungguh, kejadian kemarin tidak bisa Almyra lupakan dengan mudah. Almyra padahal sudah berusaha sekuat mungkin untuk tidak mengingat nya kembali, namun saat mendengar bahwa Devlin ingin bertemu dengan nya itu membuat Almyra kembali mengingat kejadian kemarin yang bahkan Almyra merasa sangat jijik saat mengingat nya.
" Aku juga tidak tahu pasti, tadi pak Devlin hanya mengatakan untuk memanggil mu ke sana. Kata nya ada beberapa pekerjaan mu yang harus di perbaiki" Wulan mengangkat ke dua bahu nya acuh.
" Benarkah, apa pekerjaan ku sangat buruk?" Almyra terkejut saat mendengar nya.
" Aku tidak tahu, kalau ingin lebih jelas kamu tanyakan saja langsung pada pak Devlin" setelah mengatakan itu, Wulan pun pergi begitu saja meninggal kan Almyra yang masih bingung dengan ucapan dari atasan nya barusan.
" Ck, aku kan sedang tidak mau melihat wajah nya" Almyra mendengus kesal. " Apa pekerjaan ku sangat buruk sampai dia ingin aku memperbaiki nya" Almyra masih terus menggerutu sambil bangkit dari duduk nya setelah dia kembali menyimpan tas nya di atas meja kerja nya.
Akhir nya dengan berat hati Almyra pun melangkah kan kaki nya menuju ke arah ruang kerja atasan nya itu, sungguh Almyra sangat berat melangkah kan kaki nya saat ini. Karena kalau bisa Almyra tidak ingin bertemu lagi dengan pria itu, pria yang sangat dia cintai sekaligus yang sangat dia benci saat ini.
Jangan lupa like, vote dan komen. Jangan lupa juga klik tanda hati untuk menambahkan ke favorit kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏