
" Untuk apa kamu membawa ku kesini?" Fariz melihat dengan aneh ke arah depan, tepat nya sekitar tempat yang kini dia sedang datangi bersama dengan Azkha.
" Tentu saja untuk bersenang - senang, bukan kah saat kita masih kecil kamu paling suka datang ke tempat seperti ini?" Azkha tersenyum manis.
" Dia masih ingat dengan apa yang aku suka, apa dia benar - benar serius ingin menjadi suami ku?" Batin Fariz menatap Azkha dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
" Jadi kita akan memain kan apa dulu?" Azkha terlihat sangat bersemangat. " Fariz" tambah Azkha lagi saat melihat Fariz hanya diam saja sambil melihat ke arah nya.
" Ya" Fariz tersadar dari lamunan nya. " Apa kata mu?"
" Aku bilang kita akan bermain apa dulu? Kita datang kemari bukan hanya untuk bengong di sini saja kan?" Azkha berbicara dengan lembut.
" Ish, siapa juga yang ingin bermain dengan mu? Lagi pula sekarang aku sudah besar, sudah dewasa Azkha. Aku tidak mungkin masih suka datang ke tempat seperti ini" Fariz mendengus kesal.
Saat ini Azkha dan Fariz sedang berada di sebuah taman hiburan yang lumayan besar di Jakarta, Azkha sengaja mengajak Fariz ke sana karena Azkha tahu persis apa yang di sukai gadis itu. Jujur saja Fariz juga sangat senang Azkha membawa nya ke tempat itu, tapi Fariz gengsi saja mengakui kalau apa yang di lakukan Azkha pada nya membuat diri nya senang. Lagi pula Fariz memang sering memimpikan datang ke tempat seperti itu bersama dengan seorang pria yang istimewa, namun sayang nya Fariz kini malah datang bersama dengan Azkha, pria yang tidak di harap kan oleh Fariz saat ini.
" Sudah lah, aku tidak butuh pendapat mu. Sekarang temani aku untuk bermain, sudah lama aku tidak bermain seperti ini lagi" lagi - lagi Azkha menarik tangan Fariz dengan seenak nya.
" Ish, dasar suka seenak nya" Fariz lagi - lagi harus kembali mengikuti kemana Azkha mengajak nya pergi. Dan tanpa sepengetahuan mereka, ada sepasang mata yang mengawasi pergerakan mereka dengan wajah yang terlihat kesal.
" Kenapa dia memegang tangan Fariz ku?" Ucap seorang pria yang memakai jaket hoody hitam dan celana jeans, jangan lupakan sebuah topi dan kaca mata hitam yang dia gunakan untuk menutupi wajah nya saat ini. Siapa lagi kalau bukan Yuichi.
Tadi sebenar nya Yuichi datang ke mansion keluarga Balendra untuk mengajak Fariz berjalan - jalan, namun baru saja mobil Yuichi akan memasuki gerbang menuju mansion. Yuichi melihat sebuah mobil melaju keluar dari Mansion, dan kebetulan Yuichi bisa melihat siapa yang ada di dalam nya dari kaca mobil yang terbuka. Dan pada akhir nya Yuichi pun memutuskan untuk mengikuti kemana mereka akan pergi. Tentu saja Yuichi tidak rela membiar kan gadis yang sangat di cintai nya itu berduaan dengan pria lain, apa lagi pria itu merupakan saingan cinta nya.
Yuichi pun terus mengikuti ke mana langkah Fariz dan Azkha pergi, bahkan ketika Fariz dan Azkha menaiki beberapa wahana yang lumayan ekstrim untuk di naiki. Padahal Yuichi sejak kecil sangat tidak suka menaiki wahana semacam itu.
" Ish, kenapa mereka malah menaiki wahana ini?" Yuichi menatap wahana roller coaster dengan brigidig ngeri karena sejak usia Yuichi masih kecil, Yuichi sama sekali tidak suka bahkan anti untuk naik wahana yang seperti ini. Seperti nya Yuichi sangat mewarisi sifat sang ayah yang juga tidak suka menaiki wahana semacam ini. " Demi cinta, fighting" Yuichi memberi semangat pada diri nya sendiri sebelum dia melangkah mengikuti Fariz dan Azkha yang sudah masuk lebih dulu ke area wahana.
Yuichi duduk tepat di belakang tempat duduk yang di duduki Fariz dan Azkha, dengan seperti ini Yuichi bisa mengawasi dengan jelas gerakan dari Azkha. Ya hanya berjaga - jaga siapa tahu Azkha akan melakukan hal yang tidak di ingin kan oleh Yuichi.
" Kamu takut?" Tanya Azkha dengan senyum mengejek pada Fariz.
" Cih, siapa juga yang takut" jawab Fariz dengan percaya diri, Fariz memang tidak takut menaiki wahana yang lebih ekstrim sekalipun. Bahkan Fariz bisa di bilang sangat menyukai nya.
" Aku yang takut sayang" batin Yuichi meringis seraya menatap Fariz dari arah belakang.
Tak lama roller coaster pun bergerak dan melaju dengan sangat cepat, membuat sebagian orang yang naik berteriak ketakutan. Ada juga yang berteriak senang dan Menik mati permainan dengan riang nya seperti Fariz dan juga Azkha, sedang kan Yuichi seperti nya berteriak paling kencang tanpa berani membuka kedua mata nya.
Uweek
Uweek
" Ish, kenapa mereka menaiki wahana seperti itu? Kenapa tidak komedi putar saja, atau kereta - kereta an?" gumam Yuichi dengan wajah kesal nya seraya meneguk minuman yang sempat dia beli dari pedagang keliling sampai habis dan langsung membuang nya pada tempat sampah yang ada di dekat nya setelah rasa mual pada perut nya sedikit menghilang.
" Sekarang mereka akan ke mana lagi?" Yuichi dengan tubuh yang masih lemas pun kembali melangkah kan kaki nya mengikuti langkah kaki Fariz dan Azkha yang sedang dia buntuti.
Beberapa waktu berlalu dan beberapa wahana juga sudah di mainkan oleh Fariz dan Azkha, jangan lupakan Yuichi juga dengan terpaksa mengikuti ke dua nya hanya demi mengawasi Azkha yang dia pikir akan mendekati Fariz dan merebut nya dari diri nya.
" Akhir nya mereka berhenti juga" Yuichi meneguk air putih yang ada di tangan nya seraya mengistirahatkan tubuh nya yang lelah di atas kursi di sebuah kafe.
Saat ini Fariz dan Azkha sedang berada di sebuah kafe yang ada di sekitar taman hiburan itu, seperti nya mereka sudah mulai lelah setelah tadi puas bermain dan bermaksud untuk mengisi perut mereka yang sudah mulai terasa keroncongan. Yuichi tentu saja ikut masuk ke dalam kafe itu dan duduk di meja yang agak jauh dari meja Azkha dan Fariz, Yuichi tidak mau mengambil resiko ketahuan jika duduk terlalu dekat. Walau pun tidak bisa mendengar apa yang mereka katakan, tapi Yuichi dapat dengan jelas melihat ke dua nya dari tempat nya saat ini sehingga Yuichi dapat mengawasi gerakan mereka berdua.
" Maaf tuan, mau pesan apa?" Di saat Yuichi sedang mengawasi Fariz dengan menutupi wajah nya dengan buku menu, seorang pelayan menghampiri diri nya.
" A aku pesan jus jeruk saja" ucap Yuichi kikuk karena merasa kaget dengan kedatangan pelayan itu.
" Baik lah tuan, ada lagi?" Ucap pelayan itu.
" Aku rasa cukup, kamu boleh pergi" Yuichi kembali memperhatikan Fariz.
" Emm, maaf tuan" pelayan itu berkata dengan ragu.
" Apa lagi, bukan kah aku sudah bilang cukup?" Yuichi mendengus kesal
" Buku menu nya boleh saya bawa, lagi pula tuan membalik menu itu. Pasti tuan sudah tidak membutuh kan nya" pelayan itu mengulum senyum di bibir nya karena merasa lucu melihat seorang pria membaca buku menu dengan posisi terbalik.
" Terserah pada ku, aku masih ingin melihat nya. Jadi tingal kan ini di sini" Yuichi berusaha bersikap tetap berwibawa walau diri nya sudah melakukan hal bodoh di hadapan pelayan itu seraya membenahi posisi buku menu itu.
Pelayang tadi pun langsung menjauh dari meja Yuichi dengan tawa pelan, menertawakan sikap konyol yang di lakukan Yuichi.
Jangan lupa like, vote dan komen. Jangan lupa juga klik tanda hati untuk menambahkan ke favorit kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏