
" Ya, aku juga tidak menyukai nya" tiba - tiba Almyra sudah berada di samping Fariz lagi, Almyra juga menunjuk kan wajah tak suka nya seraya menekan kaca mata yang bertengger di atas hidung nya. " Tapi apalah daya kita, pesona yang di miliki oleh mereka tidak bisa kita halangi" tambah Almyra lagi dengan wajah yang di buat sedih.
" Kamu benar" Fariz ikut menunjuk kan wajah yang sama. " Tapi kita harus bersikap biasa, jangan menunjuk kan rasa cemburu kita" Fariz langsung merubah wajah nya dengan percaya diri.
" Setuju" Almyra mengangguk setuju.
" Ekhem" Yuichi mendekati Fariz yang sedang meminum sesuatu di dekat seorang pelayan yang tak lain adalah Almyra. " Kamu sudah lama di sini?" Yuichi menegur Fariz.
" Lumayan" jawab Fariz dengan singkat dan dengan wajah yang cuek.
" Aku senang kamu ada di sini, aku pikir acara ini akan sangat membosan kan. Kalau bukan Devlin yang memaksa ku untuk datang, aku malas datang ke tempat seperti ini. Tapi aku tidak menyesal sudah datang karena bisa bertemu dengan mu di sini" ucap Yuichi panjang lebar.
" Aku hanya mengajak mu, bukan memaksa mu" sangkal Devlin tidak mau di salah kan.
" Itu sama saja" Yuichi mendengus kesal.
" Cih, terserah pada mu. Lebih baik aku pergi" Devlin pun menjauh dari Yuichi dan Fariz dengan perasaan kesal nya.
Sementara Yuichi dan Devlin berdebat, Fariz tengah sibuk celingak celinguk seperti mencari seseorang. Sedang kan Almyra yang tadi bersama nya sudah pergi sejak Yuichi dan Devlin menghampiri Fariz.
" Fariz apa kamu mendengar ku?" Yuichi memegang ke dua pundak Fariz agar Fariz mau menatap nya. Saat melihat Fariz malah acuh dan terlihat mencari sesuatu.
" Aku mendengar mu Yui, lepaskan aku!" Fariz menepis tangan Yuichi.
" Sebenar nya apa yang sedang kamu cari,?" Yuichi ikut melihat ke arah pandangan Fariz.
" Aku sedang tidak mencari apa pun" Fariz mengangkat bahu nya acuh.
" Bohong, katakan apa kamu sedang mencari cacing Alaska itu?" Yuichi berkata dengan nada mengejek nya.
" Cacing Alaska?" Fariz mengangkat alis nya sebelah.
" Ya, cacing Alaska. Pria yang mengganggu hubungan kita"
" Apa maksud mu Azkha? Memang kenapa kalau aku sedang mencari nya, apa itu menjadi masalah buat mu?" Fariz memutar bola mata nya malas.
" Tentu saja, apa kamu tidak puas bersama dengan nya selama seharian ini. Bahkan kamu seperti nya sangat menikmati kebersamaan kalian" ucap Yuichi tanpa sadar.
" Tunggu dulu, kenapa kamu bisa tahu kalau seharian ini aku pergi bersama dengan Azkha?" Fariz menatap Yuichi dengan tatapan menyelidik. Fariz bersikap seolah dia tidak mengetahui kalau Yuichi seharian ini mengikuti diri nya dan Azkha di taman hiburan.
" A aku" Yuichi menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal. " Kamu bodoh sekali Yui, kenapa kamu bisa keceplosan seperti itu?" Batin Yuichi merutuki kebodohan nya.
" Apa?" Fariz menajam kan tatapan nya ketika Yuichi tidak juga menjawab pertanyaan nya. " Apa kamu akan mengakui kalau kamu sudah membuntuti kami?" Batin Fariz dengan perasaan kesal.
" Kalau iya kenapa hah?" Fariz berbicara dengan nada yang tak kalah tinggi, mata Fariz pun mulai berkaca - kaca dengan nafas yang naik turun. Rasa nya emosi Fariz naik saat mendengar tuduhan yang di katakan oleh Yuichi barusan, lagi pula kenapa dia yang harus di salah kan? Bukan kah yang salah di sini adalah Yuichi sendiri." Lagi pula apa hubungan antara kita hah, dan apa kah ada hubungan itu?" Fariz meluap kan kekesalan yang ada ada hati nya.
" Aku" tangan Yuichi terulur memegang pundak Fariz, Yuichi berniat untuk menenangkan gadis itu.
" Apa kamu pikir sebuah hubungan akan terjalin tanpa cinta?" Tangan Fariz menepis kasar tangan Yuichi dengan tubuh yang sudah bergetar menahan amarah. Sungguh saat ini Fariz sudah tidak bisa lagi menahan amarah dalam hati nya yang selama ini dia tahan. " Dan apa kan sebuah hubungan akan terjalin dengan baik tanpa ada nya kejujuran dan kepercayaan?" Fariz menjeda ucapan nya, sedang kan Yuichi tidak mampu mengatakan apa - apa saat ini.
" Bahkan aku tidak yakin apakah semua itu ada dalam hubungan kita? Bahkan aku ragu kalau hubungan ini benar nyata ada nya" Setelah mengatakan itu, Fariz pun langsung pergi dari hadapan Yuichi begitu saja dengan buliran bening yang jatuh begitu saja dari ujung mata nya meninggal kan Yuichi yang tertegun saat mendengar ucapan Fariz barusan. Dalam hati nya Yuichi membenar kan apa yang di katakan Fariz barusan pada nya, Yuichi bahkan tidak jujur tentang kesehatan nya apa lagi menyatakan cinta pada gadis itu.
" Dasar bodoh kamu Yui" gumam Yuichi merutuki kebodohan nya. " Mungkin saat ini adalah waktu yang tepat untuk aku mengatakan semua nya, ya aku pikir begitu. Fariz tunggu!" gumam Yuichi setelah cukup lama dia berpikir. Yuichi pun akhir nya memutuskan untuk pergi menyusul Fariz, namun Fariz seolah menghilang di antara keramaian pesta yang ada. Seperri nya Yuichi terlalu lama berpikir.
Sedang kan di sebuah lorong tak jauh dari ruangan pesta, Fariz tampak sedang bersandar pada dinding tembok dengan tangan nya yang sibuk mengusap sudut mata nya yang sudah basah. " Cih, riasan wajah ku bisa rusak kalau menangis seperti ini" gumam Fariz pelan dengan kekehan kecil di akhir kalimat nya. " Setidak nya aku sudah merasa lega karena sudah meluap kan kekesalan ku, apa dia akan mengerti maksudku ya? Ck, kalau dia masih belum mengerti juga, akan aku pukul kepala nya dengan keras. Awas saja!" Fariz mengepal kan tangan nya seraya membayang kan wajah tampan namun menyebal kan Yuichi.
Kembali ke dalam pesta.
" Nona, bisa aku minta minuman itu satu?" Devlin memanggil seorang pelayan wanita yang membawa nampan minuman yang ada di dekat nya. Setidak nya meminum sesuatu bisa mengurangi rasa bosan yang sedang di alami nya.
" Apa dia manggil ku, oh God, aku harus bagai mana?" Ya, yang di panggil oleh Devlin adalah Almyra yang sedang menyamar. " Apa aku harus kesana, ish kenapa dari sekian banyak pelayan dia harus memanggil ku?" Gumam pelan Almyra menggerutu kesal.
" Nona, apa anda tidak mendengar ku?" Sekali lagi Devlin memanggil pelayan itu karena pelayan itu hanya terbengong di tempat nya.
" Ah ya, tunggu tuan!" Akhir nya Almyra pun mau tidak mau harus menghampiri Devlin
" semoga kak Devlin tidak mengenai ku" batin Almyra seraya melangkah menghampiri Devlin.
"Silah kan tuan" Almyra menyodorkan nampan yang di pegang nya.
" Terima kasih" Devlin mengambil satu gelas minuman, Almyra pun hanya tersenyum seraya mengangguk kan kepala nya.
" Ada yang bisa saya bantu lagi tuan?" Almyra tersenyum ramah.
" Tidak, terima kasih" jawab Devlin juga dengan senyum ramah nya.
" Kalau seperti itu, saya permisi" Almyra pun membalik kan tubuh nya dan hendak melangkah menjauh dari Devlin. " Untung saja kak Devlin tidak mengenaliku" Almyra bernafas lega seraya mengusap dada nya berkali - kali.
" Tunggu!" Baru saja Almyra akan melangkah kan kaki nya, Devlin mencegah nya.
" Mampus, apa kak Devlin mengenali ku?" Batin Almyra dengan detak jantung yang berdetak sangat cepat.
Jangan lupa like, vote dan komen. Jangan lupa juga klik tanda hati untuk menambahkan ke favorit kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏