
" Oh, silahkan duduk!" Devlin mempersilahkan tamu nya itu untuk duduk di atas sofa yang ada di sana, kenapa di sofa dan bukan di meja kerja nya? Karena Devlin pikir mereka akan lebih leluasa di sana karena meja dan tempat duduk nya lebih besar dari pada meja kerja nya. Apa lagi meting kali ini di perkirakan akan memakan waktu yang cukup lama mengingat ini menyangkut proyek yang lumayan besar.
Devlin pun langsung bangkit dari duduk nya dan langsung melangkah kan kaki nya menuju ke arah sofa di mana kini Nindy sedang duduk di sana di temani oleh Yoni yang berdiri tak jauh dari tempat duduk Nindy saat ini.
" Yoni, apa semua sudah siap?" Devlin menduduk kan diri nya di hadapan Nindy.
" Siap bos, ini proposal yang anda butuh kan" Yoni menyerah kan beberapa berkas yang di susun dalam berkas berwarna hijau dan merah.
" Terima kasih, duduk lah!" Devlin menerima berkas dari tangan Yoni. " Kita mulai saja pertemuan kali ini" tambah Devlin lagi sesaat setelah Yoni menduduk kan diri nya di samping Devlin.
" Baik lah, kita mulai" Nindy mengangguk dengan senyum manis di bibir nya.
Rapat pun di mulai, semua nya tampak serius membicarakan proyek yang akan mereka mulai kerjakan satu Minggu setelah pertemuan itu. Selama rapat berlangsung, Nindy seperti tidak pokus pada pekerjaan mereka karena yang dia perhatikan hanya wajah tampan Devlin yang sedang berbicara menjelaskan pekerjaan mereka dan Nindy hanya mengangguk setuju saja walau pun dia tidak begitu mendengarkan apa yang di ucap kan dua pria tampan di hadapan nya.
Tak terasa dua jam sudah rapat itu berlangsung, dan akhir nya mereka mencapai kesepakatan dengan ke dua belah pihak yang sama - sama tidak ada yang merasa di rugikan. Apa lagi Nindy hanya mengangguk setuju saja dengan apa yang di sampai kan Devlin dan Yoni sedari tadi.
" Baiklah, jadi rapat hari ini kita tutup saja sampai di sini" Devlin menutup berkas yang ada di hadapan nya. " Saya harap kita bisa bekerja dengan profesional dalam proyek ini" Devlin mengulurkan tangan nya untuk berjabat tangan dengan rekan bisnis nya yang tak lain adalah Nindy, begitu pun Yoni yang ikut menyalami CEO dari perusahaan lawan mereka itu.
" Ya, senang juga bisa bekerja sama dengan mu" Nindy tersenyum semanis mungkin pada Devlin. " Oh ya, sebelum kita mengakhiri pertemuan kali ini apa boleh aku berbicara empat mata dengan mu. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan" Nindy menatap Devlin dan Yoni secara bergantian dengan tatapan memohon nya. " Aku berjanji tidak akan lama" Nindy meyakinkan Devlin karena melihat keraguan di wajah tampan pria itu.
" Baiklah, Yoni kamu bisa tinggal kan kami!" Putus Devlin pada akhir nya walau pun wajah nya menunjuk kan keraguan.
" Baik bos" Yoni pun meninggal kan ruang kerja atasan nya itu dengan wajah yang terlihat ragu juga. Bukan apa - apa, Yoni juga tahu kalau bos nya itu selalu risih jika berhadapan dengan CEO dari perusahaan rekan nya yang satu itu. Karena Yoni juga tahu kalau Nindy sudah sejak lama memiliki perasaan pada bos nya itu, namun bos nya tidak pernah memperdulikan nya dan bahkan terkesan selalu ingin menghindari kontak langsung dengan wanita itu.
Blam
Pintu di tutup oleh Yoni dan kini yang tersisa di dalam ruangan itu hanya Devlin dan Nindy saja.
" Ekhem" Devlin berdehem untuk mencairkan suasana yang sempat hening beberapa saat setelah keluar nya Yoni dari sana. " Cepat katakan! Aku tidak punya banyak waktu" ucap Devlin dengan nada datar nya.
" Aku mencintai mu, sejak dulu sampai sekarang perasaan ku tidak pernah berubah pada mu" Nindy mengumpul kan segenap keberanian yang dia miliki untuk mengatakan perasaan nya itu pada Devlin.
" Apa sudah selesai?" Devlin seperti tidak peduli akan apa yang di katakan oleh Nindy pada nya barusan. " Seperti yang pernah aku katakan sebelum nya, aku tidak mempunyai perasaan apa pun pada mu" Devlin bangkit dari duduk nya. " Jadi seperti nya pembicaraan kita sudah cukup sampai di sini, silahkan anda keluar dari ruangan saya!" Devlin berkata dengan nada dingin nya.
" Tapi kenapa? Apa ada gadis lain?" Tubuh Nindy mulai bergetar menahan amarah dan rasa sesak di dada nya.
"Kalau iya kenapa? Itu bukan urusan mu juga" Devlin hendak melangkah kan kaki nya namun Nindy terlebih dahulu menubruk dan melingkarkan tangan nya pada pinggang Devlin dengan kencang.
" Bohong! Katakan kalau kamu sedang berbohong" Nindy semakin mengerat kan pelukan nya.
" Lepaskan!" Sentak Devlin dengan tangan yang berusaha mendorong tubuh Nindy dari tubuh nya agar menjauh.
" Tidak, aku tidak akan melepaskan mu" Nindy sedikit berteriak. " Apa yang bisa wanita itu berikan dan aku tidak? Katakan!" Nindy masih saja tidak mau melepaskan pelukan nya pada Devlin. " Aku bahkan bisa memberikan kepuasan untuk mu" dengan gerakan cepat dan penuh tenaga, Nindy langsung mendorong tubuh Devlin sampai tubuh pria itu terjatuh ke atas sofa dengan keadaan terlentang karena tubuh Devlin dalam keadaan tidak siap menerima serangan Nindy.
" Apa yang kau lakukan, dasar gila!" Devlin berteriak dan berusaha bangkit dari posisi nya, namun belum juga Devlin sempat bangun Nindy kembali mendorong tubuh Devlin dan duduk di atas pangkuan Devlin.
" Ya, aku sudah gila! Itu karena aku mencintai mu" Nindy seolah buta dan tuli dengan sentak kan yang di berikan Devlin pada nya, bahkan sekarang Nindy semakin memajukan wajah nya pada wajah Devlin dan hendak untuk mencium pria itu dengan paksa walau pun tangan Devlin jelas menahan tubuh Nindy agar menjauh dari nya.
Ceklek
Hanya tinggal beberapa senti lagi bibir Nindy akan menyentuh bibir Devlin saat pintu ruangan itu tiba - tiba terbuka dari luar, membuat Devlin terkejut dan langsung mendorong tubuh Nindy yang ada di atas tubuh nya.
" Almyra, ada perlu apa?" Devlin langsung berdiri dari posisi nya sesaat setelah terbebas dari Nindy dengan wajah yang sangat panik, tentu saja Devlin takut Almyra akan berpikiran buruk terhadap nya setelah apa yang terjadi barusan.
Jangan lupa like vote, dan komen. Jangan lupa juga klik tanda hati untuk menambahkan ke favorit kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏