
" Tunggu!" Baru saja Almyra akan melangkah kan kaki nya, suara Devlin terdengar mencegah nya.
" Mampus, apa kak Devlin mengenali ku?" Batin Almyra dengan detak jantung yang berdetak sangat cepat.
" Ad ada apa lagi ya tuan?" Almyra pun dengan berat hati dan ragu - ragu memutar balik kembali tubuh nya dan menampilkan senyum di wajah nya dengan sebiasa mungkin, tak lupa tangan nya membenarkan kaca mata yang bertengger di atas hidung nya.
" Eemm, apa kita pernah bertemu sebelum nya?" Devlin menatap Almyra dengan tatapan menyelidik.
" Tidak tuan, kenapa tuan berpikiran seperti itu" Almyra tersenyum kikuk.
" Benarkah, tapi kenapa wajah mu rasa nya sangat familiar sekali ya" Devlin masih menatap Almyra dengan lekat.
" Oh, God, berhenti menatap ku seperti itu, atau aku akan ketahuan oleh mu saat ini juga!" Batin Almyra merasa gugup. " Ah, atau mungkin tuan pernah makan di kafe tempat saya bekerja dan tak sengaja melihat saya. Ya mungkin seperti itu" Almyra mencari alasan.
" Ya mungkin seperti itu" Devlin mengangguk setuju. " Kamu tahu, senyum mu sangat manis. Dan itu mengingatkan ku pada seseorang"
" Benarkah tuan, terima kasih atas pujian nya. Tapi banyak yang bilang kalau aku ini jelek, pasti tuan hanya ingin menghibur ku saja" Almyra tertawa kikuk. Tentu saja Almyra tidak percaya Devlin berkata seperti itu karena Almyra sangat tahu persis bagaimana penampilan nya saat ini, benar - benar jauh dari kata manis apa lagi cantik.
"Itu mungkin karena dandanan mu, senyum mu sangat manis sama seperti senyuman seseorang yang aku kenal" Devlin membayangkan wajah cantik Almyra yang sudah lama tidak dia lihat jika bersama dengan diri nya.
" Benarkan, apa orang itu sangat cantik?" Almyra terlihat bersemangat. " Apa maksud nya aku ya?" Batin Almyra tersipu malu. " Ah maaf, tuan tidak perlu menjawab nya" tambah Almyra saat melihat wajah Devlin yang berubah sedikit sendu.
" Kamu benar, dia sangat cantik" Devlin tersenyum hambar.
" Apa dia sangat berarti untuk tuan?" Entah keberanian dari mana Almyra menanyakan hal itu, tapi dalam hati nya yang paling dalam Almyra memang penasaran dengan tempatnya di hati Devlin.
" Dia__" baru saja Devlin akan berbicara, seseorang memanggil diri nya.
" Devlin, aku senang kamu bisa datang" itu adalah Nindy yang datang menghampiri Devlin dengan menggunakan gaun berwarna merah yang sangat seksi, dengan belahan dada yang terlihat jelas dan belahan rok di atas paha sehingga memamerkan bagian tubuh nya.
" Aku datang karena menghargai tuan Simon" Ucap Devlin dengan nada dingin nya, Devlin sebenar nya masih sangat marah dengan apa yang di lakukan Nindy pada nya terakhir kali yang membuat hubungan diri nya dan Almyra merenggang sampai saat ini, namun Devlin harus menghargai undangan dari tuan Simon yang tak lain adalah ayah dari Nindy yang merupakan pemilik perusahaan yang di pimpin Nindy saat ini.
" Ya, aku menghargai itu" Nindy seperti nya sangat kesal melihat Devlin yang bersikap dingin pada nya, namun Nindy bersikap sebiasa mungkin karena tidak ingin rencana yang telah di buat nya menjadi berantakan. " Kalau begitu ikut aku untuk menemui ayah ku" Nindy hendak memegang tangan Devlin namun Devlin langsung menepis nya.
" Aku bisa jalan sendiri" Tanpa memperdulikan Nindy sama sekali, Devlin pun langsung berjalan mendahului Nindy ke arah di mana ada tuan Simon dan beberapa tamu sedang mengobrol di sana.
" Cih, dasar menyebal kan. Lihat saja sebentar lagi kamu akan bertekuk lutut di hadapan ku!" Nindy menggerutu kesal di belakang Devlin dan itu jelas sekali terlihat dan terdengar oleh Almyra yang sejak tadi belum beranjak dari sana.
" Kenapa kamu masih di sini? Cepat pergi sana, dasar menyebal kan" Nindy pun ikut melangkah mengejar Devlin masih dengan gerutuan nya.
" Ish, dasar Mak lampir" Almyra mendengus kesal seraya terus memperhatikan ke mana arah Devlin dan Mak lampir itu pergi. Bukan kah tujuan utama nya datang ke pesta itu untuk mengawasi dan menghenti kan rencana jahat dari wanita ular itu.
Beberapa menit telah berlalu, Almyra masih memperhatikan Devlin dan Nindy di pesta itu seraya mengerjakan tugas nya sebagai pelayan, yaitu menyodorkan minuman pada para tamu yang datang.
Semakin malam para tamu pun semakin banyak yang datang, ruang pesta pun semakin padat dan ramai juga. Itu membuat Almyra sedikit kewalahan untuk mengawasi Devlin dan Nindy di sana.
" Ck, kemana mereka? Bukan kah tadi mereka berada di sini?" Almyra celinguk kan mencari keberadaan Devlin dan Nindy di tempat tadi dia melihat Devlin, Nindy dan tuan Simon mengobrol beberapa menit yang lalu. Namun ketika Almyra tak sengaja menumpah kan minuman yang di bawa nya dan harus membereskan kekacauan yang di buat nya, Almyra kehilangan sosok Devlin dan Nindy.
" Gawat, apa rencana nya sudah di mulai?" Almyra mengeluarkan ponsel nya untuk menghubungi Fariz dan menanyakan keberadaan nya, karena tempat pesta yang terlalu luas dan ramai sehingga Almyra dan Fariz menjadi kesulitan untuk bertemu satu sama lain.
" Halo Fariz, apa kamu bisa melihat kak Devlin dan Mak lampir itu dari tempat mu?" Almyra masih berjalan cepat seraya melihat ke setiap sudut pesta untuk menemukan Devlin.
" Maaf, aku belum melihat nya. Eh tunggu" jawab Fariz dari sebrang sana.
" Apa kamu melihat nya?" Almyra sedikit bernafas lega.
" Ya, aku kira begitu. Kamu datang lah ke ke lorong yang menuju arah lift, seperti nya mereka membawa Devlin ke sana" ucap Fariz masih melalui saluran ponsel nya.
"Benarkah? Apa kak Devlin baik - baik saja?"
" Cepat datang kemari, nanti kamu akan melihat nya sendiri!" Fariz pun memutus kan panggilan yang di lakukan Almyra dan langsung mengikuti langkah Nindy dan dua orang pria yang membawa Devlin yang seperti nya sudah tak sadar kan diri dengan langkah yang sangat hati - hati.
Sepuluh menit telah berlalu, Fariz masih menunggu kedatangan Almyra di depan pintu lift yang tertutup setelah tadi Nindy dan yang lain nya masuk dan naik ke lantai atas
" Kenapa dia lama sekali?" Gumam Fariz dengan wajah yang panik seraya berjalan mondar mandir di depan pintu lift, dan tanpa dia sadari seseorang berdiri di belakang nya.
" Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" Ucap seseorang yang menepuk pundak Fariz dengan pelan.
" Mampus, apa aku sudah ketahuan?" Fariz memejam kan mata nya.
Jangan lupa like, vote dan komen. Jangan lupa juga klik tanda hati untuk menambahkan ke favorit kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏