
Siang hari nya, Fariz seperti biasa bekerja di tempat kerja nya. Tapi entah kenapa Fariz hari ini seolah kurang berkonsentrasi dalam melakukan pekerjaan nya, Fariz masih teringat kejadian tadi pagi di mana diri nya tidur dalam dekapan pria tampan yang selama ini tinggal di apartemen milik nya.
" Haish, kenapa aku tidak bisa menghapus nya dalam pikiran ku?" Fariz menggeleng kan kepala nya seraya menepuk - nepuk nya beberapa kali. Entah kenapa, dalam kepala Fariz saat ini selalu terlihat wajah tampan Yuichi yang sedang menutup mata nya tadi. Apa lagi Fariz melihat nya dengan jarak yang begitu dekat.
" Kamu kenapa? Aku lihat kamu bersikap aneh hari ini" Ferdi yang melihat kelakuan Fariz yang aneh di mata nya, langsung duduk di kursi kosong di hadapan Fariz. Saat ini restauran lumayan lenggang dan Fariz baru saja tiba dari mengantarkan pesanan nya, sehingga Fariz memutus kan untuk beristirahat sebentar dan duduk di salah satu meja yang kosong.
" Bos ini mengagetkan ku saja" Fariz yang memang sedang melamun, merasa kaget dengan kehadiran Ferdi di dekat nya.
" Kamu sedang memikir kan apa sih? Sampai - sampai aku datang pun kamu tidak menyadari nya" Ferdi mendengus kesal.
" Aku tidak memikir kan apa pun, aku hanya tidak melihat kedatangan bos saja" jawab Fariz beralasan. " Ada apa, apa ada orderan lagi untuk ku?" Fariz menengadah kan sebelah tangan nya.
" Ya, tapi ini lumayan jauh. Dari hotel xx" Ferdi memberikan secarik kertas pada tangan Fariz. " Dan mungkin akan membutuh kan waktu yang lumayan lama dalam perjalanan" tambah Ferdi lagi.
" Ck, itu bukan masalah bagi ku. Siapa tahu saja aku mendapat kan tips yang besar dalam pengiriman ini" ucap Fariz dengan penuh percaya diri.
" Ish, kau ini" Ferdi terkekeh saat mengatakan nya.
" Baik lah bos, aku pergi dulu. Semangat" Fariz langsung berdiri seraya mengangkat tangan nya yang sudah terkepal dengan gaya ceria nya, dan setelah itu dia pun melangkah mengambil makanan di atas meja kasir dan langsung pergi ke arah motor nya yang terparkir di depan restauran itu.
Ferdi hanya tersenyum seraya menggeleng kan kepala nya melihat tingkah lucu gadis yang kini berjalan menjauh dari diri nya. Itu lah yang membuat Ferdi menyukai gadis itu, Fariz selalu saja ceria dan bersemangat setiap kali mengerjakan pekerjaan nya walau dalam kondisi apa pun itu.
Akhir nya Fariz pun melaju dengan menggunakan sepeda motor nya menuju ke alamat yang dia tuju saat ini, kebetulan arah nya pergi melewati jalanan sepi tempat di mana diri nya bertemu dengan Yuichi dulu.
" Kenapa di sini sangat ramai sekali, seperti nya mereka sedang mencari sesuatu" batin Fariz saat melihat begitu banyak orang yang menggunakan seragam bertuliskan Tim SAR di belakang nya tampak menyusuri sungai besar yang ada di sana. " Apa terjadi kecelakaan lagi di sini ya, ish menyeramkan sekali" Fariz brigidig ngeri membayang kan kecelakaan yang terjadi di mana sang korban masuk ke dalam sungai yang aliran air nya sangat deras dan berwarna coklat.
Fariz hanya melewati saja keramaian yang ada di sana dan melanjut kan perjalanan nya menuju tempat tujuan nya saat ini. Setelah menempuh perjalanan selama empat puluh lima menit dengan menggunakan sepeda motor kesayangan nya, akhir nya Fariz sampai juga di depan hotel xx. Dimana orang yang memesan makanan dari restauran tempat Fariz bekerja berada.
" Maaf, kamar tiga ratus dua di mana ya?" Tanya Fariz pada resepsionis yang ada di sana.
" Anda naik saja ke lantai enam, di sana letak kamar tiga ratus dua" jawab resepsionis itu.
" Terima kasih" Fariz pun tak menunggu lama langsung pergi ke arah lift untuk naik ke lantai yang di sebut kan oleh resepsionis tadi.
Ting
" Tunggu!" Baru saja pintu lift akan tertutup, seorang wanita berumur sekitar empat puluh tahunan dengan wajah yang cantik dan terlihat masih muda tampak setengah berlari untuk mengejar lift itu. Fariz yang melihat nya pun langsung kembali memencet tombol lift untuk membuka kembali pintu nya.
" Terima kasih" wanita itu tersenyum manis pada Fariz dengan nafas yang terendah - engah. " Hampir saja aku terlambat" tambah wanita itu lagi.
"Sama - sama" Fariz sejenak tertegun melihat wajah wanita itu saat tersenyum. " Kenapa rasa nya senyum itu tak asing bagi ku?" Batin Fariz menatap wanita itu dengan tatapan menyelidik, untung saja wanita yang di tatap oleh Fariz sedang melihat ke arah depan, sedang kan Fariz berada di samping nya.
Ting
Pintu lift kembali terbuka, dan akhir nya Fariz sampai ke lantai enam yang merupakan tempat tujuan nya kali ini. Begitu pun wanita yang tadi, ternyata dia juga menuju ke lantai yang sama.
" Kamu turun di sini juga?" Tanya wanita itu dengan begitu ramah.
" Ah, iya nyonya. Saya mau mengantar kan pesanan pada salah satu penghuni kamar di sini" Fariz menjawab dengan kikuk.
" Oh ya? Kamu tahu, aku juga sedang menunggu pesanan makanan ku tiba. Aku melihat makanan yang terlihat sangat enak di media sosial dan mencoba memesan nya, aku tidak mau datang ke sana karena tempat nya lumayan jauh dari sini" wanita itu terkekeh saat mengatakan nya.
Tidak ada kecanggungan dari nyonya itu saat berbicara dengan Fariz yang hanya seorang kurir, padahal biasa nya orang kaya selalu bersikap tak perduli dan cenderung acuh pada kalangan kecil seperti seorang kurir.
" Benar kah, apa anda nyonya Yemi Arsyafina Nakamura?" Fariz pikir tidak ada salah nya untuk bertanya, siapa tahu kalau wanita itu adalah pemilik makanan yang sedang dia antar itu.
" Ya? Bagai mana kamu bisa tahu nama ku? Apa kamu seorang peramal?" Wanita itu yang tak lain adalah Yemi, tampak terkekeh saat mengatakan nya.
" Apa, peramal?" Batin Fariz dengan wajah tak percaya nya saat mendengar ucapan wanita paruh baya di hadapan nya, bisa - bisa nya wanita paruh baya seperti nya mengatakan hal yang tidak Fariz duga sama sekali." Saya bukan peramal nyonya, tapi saya pengantar makanan yang anda pesan" Fariz tersenyum kikuk.
" Oh jadi begitu, aku pikir kamu peramal" Yemi kembali terkekeh. " Kalau begitu ikut aku, kebetulan dompet ku ada di kamar" Fariz pun mengangguk dan mengikuti langkah wanita yang ada di hadapan nya sampai mereka tiba di depan sebuah kamar yang bertuliskan 302 pada pintu nya.
" Masuk lah dulu, biar aku ambil uang nya!" Ucap mommy Yemi sebelum masuk ke dalam kamar nya.
" Tidak usah nyonya, saya tunggu saja di sini"
Jangan lupa like, vote dan komen. Jangan lupa juga klik tanda hati untuk menambahkan ke favorit kalian dan berikan hadiah yang buanyak untuk karya ini. Terima kasih 🙏🙏