
"Sayang, " Ucap Adnan ketika memasuki ruangannya.
Ishi pun menengok kearah suara tersebut.
"Udah selesai bang, ?" Tanya Ishi, Adnan pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Anak ayah bosen nggak ikut Ayah kerja?" Ucap Adnan sambil mengelus perut Ishi yang sudah nampak buncit.
"Nggak kok yah, aku seneng bisa ikut ayah kerja" Jawab Ishi sambil menirukan suara khas anak kecil.
"Ya udah, ayah kerja dulu ya sayang. Kalau butuh apa-apa bilang sama ayah!" Ucap Adnan sambil mengusap pucuk kepala Istrinya itu.
"Siap bos" Jawab Ishi dengan senyum lebarnya.
****
Tok
Tok
Tok
"Masuk" Ucap Adnan.
"Bos udah waktunya meeting sama PT. Angkasa" Ucap Doni sambil memasuki ruangan Adnan.
"Iya, semua berkas udah siap?" Tanya Adnan yang langsung dijawab dengan anggukan kepala.
"Saya tunggu dibawah" Ucap Doni lalu pergi meninggalkan ruangan Adnan.
"Sayang, kamu mau ikut Abang meeting diluar nggak? Sekalian makan siang. Kasian si Dede belum makan" Ucap Adnan sambil mendekati Ishi.
"Nggak ganggu Abang kerja?" Tanya Ishi pura-pura keberatan karena dia tahu suaminya akan bertemu siapa.
"Nggak kok, Abang malah takut kalau ninggalin kamu disini. Apalagi si dede kan belum makan" Ucap Adnan hati-hati takut kalau istrinya itu ngambek sambil mengusap perut Ishi.
"Tapi aku di meja lain aja ya, jangan satu meja sama Abang" Tawar Ishi.
"Loh kok gitu?" Tanya Adnan keheranan.
"Nggak enaklah bang, suami kan lagi urus masalah kerjaan masa aku ikut nimbrung" Jawab Ishi sambil tersenyum.
"Ya udah, nanti kalau Abang udah selesai Abang temenin kamu deh"
Adnan yang keluar ruangan bersama Ishi selalu menggandeng tangan istrinya itu dengan erat, sampai semua orang yang berpapasan dengan mereka pun berdecak kagum melihat bagaimana CEO mereka memperlakukan istrinya dengan sangat istimewa.
"Mau sih punya satu yang kaya gitu" Ucap salah satu karyawan.
"Kali istrinya bos pernah menyelamatkan satu negara di kehidupan yang lalu, sampai dikehidupan ini dia bener-bener beruntung " Gerutu temannya.
Sesampainya di restoran tempat pertemuannya dengan PT. Angkasa mereka mencari tempat duduk.
"Kamu duduk di meja sebelah situ ya?" Tawar Adnan sambil menunjuk meja yang tak jauh dari mejanya duduk.
Ishi pun menganggukan kepalanya. Ishi pun duduk tak jauh dari meja Adnan.
Lalu Adnan, Doni dan Nata duduk di meja sebelah.
"Maaf Pak, saya terlambat" Ucap Ana bersama dengan kedua rekannya.
"Mungkin kami yang datang terlalu awal" Jawab Adnan sambil menjabat tangan Ana.
Saat mereka membicarakan masalah pekerjaan pandangan Adnan kadang teralihkan menatap meja yang ditempati istrinya itu dengan senyuman yang tergambar jelas dimukanya. Melihat Istrinya yang lahap makan membuat hati calon ayah itu bahagia.
Ana yang sejak tadi melirik Adnan pun melihat kemana arah pandangan dari CEO Brawijaya itu memandang.
"Ck, ternyata dia bawa pawangnya" Decak Ana dalam hati.
Setelah selesai dengan urusan kerjaannya. Mereka pun berniat makan siang bersama mengingat ini sudah waktu makan siang.
"Maaf, kalian nikmati makan siang dulu, saya mau menemani istri saya" Pamit Adnan sambil beranjak dari kursinya menuju meja Ishi.
Dari kejauhan nampak Ana memperhatikan gerak-gerik kedua pasangan itu yang nampak mesra, makan siang yang diselingi canda tawa, Adnan yang begitu memandang istrinya dengan tatapan penuh cinta.
"Nggak usah berharap buat jadi orang ketiga di rumah tangga Abang saya" Ucap Nata sambil melirik Ana yang sejak tadi memperhatikan Adnan.
"Ma...maksud Bapak?" Tanya Ana kikuk.
"Saya tahu yang ada difikiran anda, tapi jangan coba-coba buat mengusik hidup orang kalau hidup anda tidak ingin diusik" Kata-kata Nata begitu menohok buat Ana.
Mereka yang ada di meja itu pun tidak ada yang berani bersuara karena tahu siapa keluarga Brawijaya.