My Love My SPG

My Love My SPG
Aku Suka Itu



Setelah semua tamu pamit pulang, tinggalah Ishi, Adnan dan keluarga Ishi.


Ishi sudah pergi menuju kamarnya, sedangkan Adnan dan keluarga Ishi sedang berbincang-bicang.


"Den, anterin kakak ipar mu ke kamarnya biar istirahat" Perintah Anto


"Iya pak" Jawab Deni "Ayo kak aku antar" Tawarnya pada Adnan.


Adnan beranjak dari duduknya dan mengikuti Deni.


"Aku kasih tahu rahasia kak, kak Ishi itu tidak pernah pacaran, dia itu orangnya cerewet jadi kak Adnan jangan kaget" Kata Deni dalam perjalanan ke kamar Ishi.


"Iya, kakak tahu kok, makasih buat infonya." Jawab Adnan


"Itu kamar Kakak yang paling ujung, maaf ya kak rumah keluarga kami sederhana" Ucap Deni sambil menunjuk kamar yang ada di ujung.


" Semua rumah itu sama aja, makasih ya" Ucap Adnan sambil meninggalkan Deni.


Ceklek...


Terdengar suara pintu terbuka.


"Jangan masuk dulu, aku sedang.... "


Ishi terkejut dengan kedatangan Adnan ketika ia sedang ganti baju dan hanya menggunakan pakaian dalam.


"Naaf aku tidak tahu" Kata Adnan sambil menutup kembali pintu kamar Ishi.


Di balik pintu Adnan hanya bisa menelan ludahnya membayangkan apa yang barusan dia lihat.


"Aku ini lelaki normal yang akan bereaksi ketika melihat hal seperti itu, apalagi dia adalah istriku" Batin Adnan


"Silahkan masuk Pak" Kata Ishi sambil membuka pintu.


"Terima kasih" Ucap Adnan.


Mereka sama-sama diam dan tak membahas masalah tadi.


"Pak, ini handuk kalau bapak mau mandi, kamar mandinya ada di dekat dapur" Kata Ishi sambil memberikan handuk.


"Kita inikan sudah menikah, apa kau akan terus memanggilku Bapak" Kata Adnan sambil mengambil handuk dan pergi meninggalkan kamar.


" Lalu kau ingin aku panggil apa, sayang? Suamiku? Kakak? Mas? " Kata Ushi dalam hati.


Setelah itu Ushi menuju ruang tamu untuk membantu keluarganya membereskan sisa-sisa pesta.


"Mana suamimu? " Tanya Ibu Warni


"Lagi mandi Bu, " Jawab Ishi.


Setelah selesai membereskan semua nya mereka menuju ruang makan.


"Kak, aku panggil kak Adnan ya" Tanya Deni pada Ishi


"Kok kamu yang panggil bukan kakakmu" Tanya Warni


"Biarin Bu, dia lagi suka-sukanya punya Kakak baru " Jawab Anto


"Ya udah panggil sana" Kata Ishi


Beberapa saat, datanglah Deni dan Adnan ke meja makan. Mereka makan bersama dengan tawa, karena tingkah Deni.


"Abang mau makan ini nggak?" Tanya Ishi sambil menawarkan lauk pada Adnan.


Mendengar Ishi memanggilnya Abang membuat Adnan tersedak.


"Uhuk... "


Lalu Ishi mengambilkan minum dan memberikannya pada Adnan.


Mereka yang melihat kejadian itu hanya bisa tersenyum.


"Memangnya aku harus memanggilmu apa, aku hanya mengukuti panggilan Ibu kepada mu" Batin Ishi


"Panggilan mu membuat aku kaget setengah mati, tapi aku suka" Batin Adnan


"Kalian besok udah balik ke kota A,,? " Tanya Anto


"Iya Oak, kan Ishi cutinya cuma nyampek besok, lusa udah mulai kerja" Jawab Ishi.


"Apa? Kamu cuma dikasih cuti 2 hari? " Tanya Adnan kaget.


"Pelit sekali bos mu kak, apa dia belum menikah sehingga cuti mu cuma dikasih 2 hari... " Sahut Deni yang tak tahu kalau Mall tempat Kakaknya bekerja adalah milik Adnan.


"Kan memang aku izinnya bukan cuti menikah tapi cuti biasa" Jawab Ishi santai.


"Kenapa nggak ngomong aja kalau mau nikah Shi? " Tanya Warni


"Kan Ishi memang nggak mau kalau orang tau Ishi udah nikah" Jawab Ishi keceplosan.


"Apa....?? " Teriak Deni, Anto dan Warni bersamaan sedangkan Adnan hanya diam mendengarkan.


"Kau sudah tahu hal ini nak Adnan? " Tanya Anto dan di jawab anggukan oleh Adnan.


"Ishi Bapak tidak pernah mengajarkan kamu untuk tidak mengakui suami mu" Katanya lagi pada Ishi.


"Pak, dengerin alasan Ishi dulu, Ishi menyembunyikan pernikahan karena Abang adalah pemilik Mall, Ishi tidak mau kalau sampai ada orang yang tahu apalagi Ishi cuma SPG takut buat malu Pak" Bela Ishi


"Kalau saya terserah Ishi Pak, semua keputusan ada sama Ishi" Jawab Adnan


"Kak Adnan yang punya Mall tempat kerja kak Ishi...? Wah... berarti kak Adnan kaya dong" Celetuk Deni.


"Kamu apa-apaan sih Deni, " Jawab Ishi


" Ya kenapa loh kak, aku kan cuma tanya,, " Sahut Deni


Adnan tersenyum melihat interaksi antara adik ipar dan istrinya.


"Kalian ini kaya anak kecil kalau kumpul, cepet selesaiin makannya" Kata Warni


Setelah selesai makan mereka masuk ke kamar masing-masing.


* * *


Di kamar Ishi.


"Maaf ya Pak, rumah saya sederhana di sini kamar mandinya cuma satu" Kata Ishi sambil memberikan baju tidur.


"Sudah aku bilang aku tidak masalah dengan itu, tapi aku mempermasalahkan panggilan mu kepada ku" Jawab Adnan sambil keluar menuju kamar mandi untuk berganti baju.


"Memang aku harus memanggilmu apa" Gumam Ishi setelah kepergian Adnan.


Setelah Adnan kembali dari kamar mandi ia melihat Ishi sudah terbaring di atas ranjang.


" Mungkin dia telalu lelah" Guman Adnan


dan Adnan pun langsung menuju ke atas ranjang untuk beristirahat.


Nenjelang subuh Ishi terbangun dan bersiap siap untuk menunaikan sholat subuh.


"Iya Oak" Jawab Ishi yang kaget mendengar kata kata Adnan


" Aku kira dia bukan seorang muslim yang taat" Batin Ishi.


Setelah mereka selesai sholat Ishi meminta izin untuk membantu Ibunya di dapur.


"Pak, saya mau bantu Ibu dulu di dapur" Izin Ishi


"Kenapa kau memanggilku Bapak jika kita cuma berdua sedangkan didepan orang tua mu kau memanggilku Abang, kau kira aku Bapakmu" Kata Adnan sambil melangkah dan memandang Ishi.


Ishi yang dipandang Adnan dari dekat merasa canggung


"Me... mangnya Bapak ingin aku panggil apa" Jawab Ishi terbata-bata


"Masa iya aku panggil kamu Bapak didepan orang tua ku" Batin Ishi


"Sama seperti kamu memanggil ku didepan orang tua mu" Kata Adnan tersenyum sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Ishi.


"Aaa... aabang" Kata Ishi pelan sambil memalingkan mukanya yang berwarna merah karena malu dengan sikap Adnan.


" Ucapkan sekali lagi dan lihat kearah ku" Kata Adnan.


"Aabang" Kata Ishi sambil melihat Adnan


"Cup"


Mendengar panggilan dari Ishi membuat Adnan memberanikan diri untuk mencium Ishi di keningnya.


"Aku tidak akan melebihi ini kecuali kau sendiri yang mengizinkannya, aku suka dengan panggilanmu" Kata Adnan tersenyum sedangkan Ishi diam mematung dengan tindakan Adnan yang tiba-tiba menciumnya.


"Hei,,,, katanya mau bantu Ibu, " Kata Adnan sambil melambaikan tangan didepan muka Ishi yang bengong.


"Ah... Iya" Jawab Ishi lalu berlari meninggalkan kamarnya.


"Lucu sekali ekspresinya, aku suka" Gumam Adnan sambil tersenyum.


"Gila... " Kata Ishi


"Siapa yang gila" Sahut Ibu di dapur.


" Nggak kok Bu" Jawab Ishi cengar-cengir.


Setelah selesai menyiapkan sarapan dan membereskan rumah, Ishi kembali ke kamarnya untuk menyuruh Adnan sarapan.


Sesampainya di kamar ia melihat Adnan yang tidur.


"Ganteng" Gumam Ishi sambil memandang wajah Adnan yang tertidur.


"Sudah cukup belum memandang wajahku" Kata Adnan sambil membuka mata.


"Aaku tidak memandangi Abang, ini handuk cepat mandi dan sarapan" Kata Ishi lalu pergi meninggalkan Adnan.


* * *


Mereka lalu sarapan bersama.


"Den, Kakak punya hadiah buat kamu" Kata Adnan


" Apa kak,,,? Tapi aku kan tidak pernah meminta kak nanti Bapak sama Ibu marah" Jawab Deni


"Ini hadiah dari Kakak, Ibu sama Bapak nggak akan marah,iya kan Pak Bu,," Kata Adnan


"Terserah nak Adnan saja" Jawab Anto


"Kalian pulangnya kapan nak? " Tanya Warni


" Nanti siang bu, " Jawab Ishi


Setelah mereka sarapan tiba-tiba ada beberapa orang yang mengetuk pintu.


Deni yang membuka pintu pun kaget melihat beberapa orang membawa sepada motor sport berwarna hitam.


" Maaf, ini rumahnya Bapak Anto?" Tanya pegawai itu.


"Iya, ada apa pak" Tanya Deni


"Ini kami mengantarkan motor pesanan Bapak Adnan untuk mas Deni" Kata pegawai itu


"Kak,, ini buat aku" Kata Deni berlari menghampiri Adnan yang berada di ruang tengah.


" Udah dateng to, iyalah buat kamu, kan Kakak udah bilang hadiah buat kamu" Kata Adnan


"Makasih kak" Kata Deni kegirangan sambil memeluk Adnan.


"Nak Adnan, jangan terlalu memanjakan Deni" Kata Anto


" Ini hadiah dari Kakak buat adiknya Pak" Jawab Adnan tersenyum.


Setelah motor diturunkan, Deni mencobanya untuk berkeliling sekitar rumah.


" Nak Adnan, jangan hambur-hamburkan uang buat hal yang tidak perlu, Bapak sama Ibu jadi tidak enak" Kata Warni


" Bu, Deni juga adik saya sekarang, jadi nggak usah merasa tidak enak kalau Ibu menganggap saya sebagai anak" Kata Adnan


* * *


Akhirnya Adnan dan Ishi berpamitan untuk pulang ke kota A.


"Pak Bu, Ishi berangkat dulu jaga kesehatannya" Kata Ishi sambil memeluk kedua orang tuanya.


" Iya nak, kamu sering-sering telpon Ibu sama Bapak ya nak" Kata Warni


"Den, jagain Bapak sama Ibu, jangan nakal, sekolah yang bener" Oceh Ishi


"Iya Kakak bawel" Kata Deni memeluk Ishi


" Pak, Buk Adnan pamit kalau ada apa-apa jangan sungkan buat hubungin Adnan" Kata Adnan sambil mencium kedua tangan mertuanya.


"Titip Ishi ya nak, iya nanti Bapak akan sering kasih kabar" Jawab Anto


"Hati-hati di jalan" Kata Warni.


"Den, jagain Bapak sama Ibu, sering-sering hubungi Kakak" Kata Adnan


" Iya kak" Jawab Deni tersenyum.


Mereka pun berangkat menuju bandara.


"Bang, kita naik pesawat pribadi apa komersil" Tanya Ishi


"Pribadi. Kenapa? " Tanya Adnan


"Nggak papa" Jawab Ishi singkat


#bersambung