
"Abang, hari ini aku ikut ke kantor ya?" Bujuk Ishi ketika memakaikan dasi untuk Adnan.
"Di rumah aja, nanti kamu kecapean. Kamu kan hamil muda" Cegah Adnan.
"Aku bosen bang tiap hari dirumah, suntuk" Adu Ishi.
"Kamu itu nggak boleh kecapean sayang" Bujuk Adnan.
"Pelit, bilang aja Abang nggak mau aku ganggu" Dengus Ishi.
"Bukannya kaya gitu, Abang cuma nggak pengen kamu kecapean sayang" Bujuk Adnan.
"Halah, Abang nggak mau kan aku ikut, pasti Abang malu punya istri kaya aku" Ucap Ishi dengan mata berkaca-kaca.
"Bukannya kaya gitu sayang. Ya udah kalau kamu mau ikut" Akhirnya Adnan pun mengalah karena tak sanggup jika melihat Ishi akan menangis.
"Sabar Adnan, menghadapi bumil memang butuh stok sabar yang banyak" Batin Adnan.
"Shi, kamu rapi banget, mau kemana?" Tanya Nita saat melihat anak mantunya berpenampilan rapi ketika mereka sarapan.
"Mau ikut Abang ke kantor Bu!" Ucap Ishi dengan senyuman.
"Tumben kamu ikut suamimu nak?" Ucap Hendro.
"Bosen yah di rumah terus" Adu Ishi.
"Ikut Ibu aja ya nak, Ibu mau pergi ke butik. Besok lagi aja ikut Abang ke kantor. " Ajak Nita.
"Iya bu" Jawab Ishi setengah tidak ikhlas karena ia sangat ingin ikut Adnan ke kantor.
"Bujang Ayah tumben bangun telat" Ucap Hendro ketika Nata baru turun dari tangga.
"Banyak kerjaan yah, kemarin lembur" Ucap Nata.
"Kamu udah siap buat pindah?" Tanya Adnan.
"Udah bang, " Kata Nata sambil memakan sarapannya.
"Bentar lagi ulang tahun perusahaan kita. Apa kalian udah punya konsep buat perayaan tahun ini?" Tanya Hendro pada kedua putranya.
"Aku belum sempat membuat konsep Yah"
"Stop" Ucap Nita sebelum Adnan melanjutkan pembicaraannya.
"Ini meja makan, bukan meja kerja. Jadi jangan pernah bahas pekerjaan dimeja makan"
Ishi yang mendengar itu hanya senyum-senyum sendiri. Sedangkan Adnan, Ayah Hendro dan Nata diam tidak ada yang berani membantah perintah Ibu.
* * * *
Setelah selesai menemani Ibu mertuanya ke butik, Ishi meminta izin ke kantor untuk mengantarkan makanan buat Adnan.
"Bu, aku ke kantor Abang ya mau anterin makan siang" Izin Ishi.
"Iya, dianter sopir aja ya sayang. Inget jangan capek-capek " Pesan Ibu Nita.
"Siap Ibu" Ucap salah Ishi.
Sesampainya Ishi di kantor Brawijaya, banyak pasang Mata yang memperhatikannya mungkin karena memang ia tak berpenampilan seperti wanita kantoran. Dengan membawa tas yang berisi bekal makan siang untuk suaminya ia langsung menuju meja resepsionis.
"Mbak, ruangan pak Adnan lantai berapa ?" Tanya Ishi karena ia tidak tahu dimana letak ruangan suaminya.
"Maaf sudah ada janji sebelumnya?" Tanya sang resepsionis sambil memandang Ishi dari atas sampai bawah.
"Belum, saya ini... "
"Maaf Ibu, Bapak Adnan sedang meeting di luar. Ibu bisa menunggu di kursi sebelah sana" Potong sang resepsionis sambil menunjuk arah kursi tunggu.
"Mbak, saya ini is..."
"Maaf Ibu pekerjaan kami banyak jadi mohon kerjasamanya" Ucap resepsionis dengan nada tinggi.
Ishi pun memilih untuk menunggu Adnan di kursi kosong. Ia pun teringat untuk menghubungi suaminya.
namun ponselnya tertinggal di rumah.
"Ih, giliran diperluin ponsel malah ketinggalan. Nasib" Gerutu Ishi.
Karena sudah cukup lama Ishi menunggu Adnan yang belum kembali. Ishi pun tertidur dengan posisi duduk sambil menyandarkan kepala di tembok karena kursinya yang terletak di pojok ruangan.
"Don, kamu siapin aja semua keperluan mengenai kerjasama kita.... " Ucapan Adnan terhenti ketika pandangannya menemukan sosok yang tak asing baginya.
"Dari jam berapa wanita itu disini?" Tanya Doni.
"Dari sebelum jam makan siang pak. Sekitar jam 11" Ucap resepsionis.
Doni pun membelalakkan matanya karena kaget dengan jawaban resepsionis.
"Hei, kau tidur nyenyak sekali. Pasti karena capek nunggu Abang ya. Maafin Abang ya sayang" Ucap Adnan sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Ishi.
Semua orang yang melihat CEO mereka berinteraksi sangat dekat dengan wanita merasa sangat kaget karena baru kali ini mereka melihat CEO mereka dekat dengan wanita.
Adnan pun langsung menggendong Ishi dan membawanya ke ruangannya. Sontak kejadian itu menjadi pusat perhatian para karyawan yang berlalu lalang karena ini jam masuk kerja setelah istirahat jadi banyak sekali karyawan yang berada di pintu masuk.
"Kalau kalian masih ingin bekerja disini, besok lagi kalau wanita itu datang, langsung antarkan saja ke ruang pak Adnan" Ucap Doni.
"Memangnya dia siapa pak?" Tanya sang resepsionis.
"Istri pak Adnan. Paham?!" Ucap Doni lalu membawakan tas yang dibawa Ishi dan menyusul Adnan ke ruangannya.
"Apa? Istri ? Ya ampun bisa gawat kalau sampai dia mengadu ke pak Adnan!" Ucapnya dengan khawatir.
"Hei, tadi itu siapa?" Tanya salah satu karyawan pada resepsionis.
"Kata pak Doni istrinya pak Adnan" Jawabnya
"Apa... ??!!! Istri?!! Seperti apa wajahnya?"
"Cantik kok"
"Wah, bos kalau sama orang lain dinginnya Kaya es tapi kalau sama istrinya romantis banget"
"Aku memang tahu kalau bos udah nikah tapi aku nggak nyangka kalau istrinya berpenampilan biasa seperti itu.
Begitulah obrolan para karyawan di lantai dasar.
Setelah sampai di ruangannya Adnan lalu membaringkan Ishi di kursi panjang di sudut ruangan.
"Bos... "
"syuuut" Ucap Adnan sambil menaruh jarinya dibibirnya agar doni menghentikan ucapannya.
"Aku taruh disini" Ucap Doni dengan gerakan bibir meletakkan tas dan juga bungkusan bekal yang dibawa Ishi.
Adnan pun hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah beberapa saat, Ishi membuka matanya dan melihat sekelilingnya yang nampak asing.
"Kau sudah bangun" Ucap Adnan mendekati Ishi.
"Abang kenapa perginya lama? Aku udah nunggu dari jam sebelas tahu, mana resepsionis dibawah nggak ngizinin aku buat ke ruangan Abang. Mereka nggak kasih aku... "
Cup.
Adnan pun mengecup singkat bibir Ishi.
"Udah ngomongnya? Maafin Abang ya? Abangkan nggak tahu kalau kamu dateng kesini. Kamu juga nggak kasih kabar ke Abang. " Kilah Adnan.
"Tetep aja aku kesel sama Abang. Aku kesel sama resepsionis itu dia nggak mau dengerin penjelasan siapa aku" Gerutu Ishi.
"Nanti biar Abang yang kasih tahu mereka" Ucap Adnan dengan sabar.
"Kamu udah makan?" Ishi pun hanya menggelengkan kepalanya.
"Ya udah ayo makan. Kasian jagoan Abang belum dikasih makan" Ucap Adnan sambil mengusap perut Ishi.
"Abang ini aja belum kelihatan besar, kok Abang manggilnya udah jagoan. Kalau cewek gimana?" Dengus Ishi.
"Ini jagoan kok, kan Abang yang buat ya Abang tahulah" Kekeh Adnan.
Setelah mereka menyantap bekal yang dibawa Ishi, Adnan pun melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan Ishi hanya berkeliling ruangan.
"Sayang, kamu pulang sama Abang aja ya? Biar Abang suruh sopir buat pulang" Ishi pun hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah pekerjaannya selesai, Adnan memutuskan untuk pulang cepat karena melihat Ishi yang sudah mulai bosan.
"Besok-besok kalau istriku datang jangan biarkan dia menunggu di kursi itu. Paham?" Ucap Adnan ketika melewati meja resepsionis.
Sepanjang perjalanan menuju pintu keluar banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Kebanyakan dari mereka merasa penasaran dengan istri sang CEO.