
"Abang, bajunya aku taruj diatas ranjang ya!" Teriak Ishi ketika menyiapkan pakaian kerja Adnan.
Drrtt... Drtt
Ponsel Adnan yang terletak diatas nakas pun bergertar.
Ketika Ishi membuka pesan yang masuk ia pun dibuat terkejut pasalnya nomor yang mengirim pesan ke ponsel suaminya adalah nomor baru.
📩
+628xx : "Pagi Pak Adnan, ini saya Ana dari PT. Angkasa. Nanti kita jadi meeting diluarkan?"
"Sayang, kamu ngapain? Apa ponsel abang berdering?" Tanya Adnan ketika keluar dari kamar mandi dan melihat Ishi sedang memegang ponselnya.
"Nih, ada pesan dari klien Abang yang kegatelan" Ucap Ishi sambil memberikan ponsel Adnan, lalu ia pun pergi meninggalkan kamar dan turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan dengan muka cemberut.
Adnan yang melihat ekspresi istrinya itu bingung. Ia pun menerima ponsel dari tangan Ishi. Adnan pun paham mengapa Ishi cemberut setelah membaca pesan dari ponselnya. Ia pun tidak membalas pesan itu.
"Darimana wanita ini tahu nomorku. Bakal jadi masalah baru ini. " Gumam Adnan dengan helaan nafasnya lalu ia melemparkan ponselnya diatas ranjang dan segera siap-siap untuk menyusul istrinya.
"Sayang, " Panggil Adnan ketika turun dari tangga menuju ruang makan. Ia pun langsung mencium pipi istrinya ketika sampai di ruang makan.
"Masih pagi, nggak usah pamer kemesraan ngapa?" Protes Nata.
"Menikahlah biar kamu nggak iri sama Abang kamu" Jawab Mama Nita.
Sedangkan Nata hanya melirik kearah wanita yang telah melahirkannya dengan tatapan jengkel.
"Sayang, ayo kamu ikut Abang aja ya ke kantor?" Ajak Adnan pada Istrinya.
Ishi pun heran mengapa sang suami tumben mengizinkan ia ikut ke kantor. Ia pun hanya menengom mendengar ajakan sang suami.
"Ntar istri kamu kecapean bang, kalau kamu ajak ngantor" Ucap Ibu Nita.
"Kemaren aja dilarang giliran sekarang diajak" Cicit Nata.
"Berisik" Jawab Adnan sambil melirik Nata.
"Kan cuma ikut ke kantor ma, disana juga bumil satu ini cuma nemenin aku doang. Gimana sayang mau nggak?" Tanya Adnan sambil memandang Istrinya.
Ishi pun hanya menganggukkan kepalanya sebagai persetujuan.
"O ya, Ayah mau bicara sama kalian. Hari ini Ayah sama Ibu mau pergi ke kota E untuk mengurus bisnis kita yang disana" Kata Ayah Hendro.
"Kok tiba-tiba yah? Berapa Lama?" Tanya Nata kaget.
"Mungkin agak lama, tapi kami usahakan pulang sebelum Ishi tujuh bulanan" Jawab Ibu Nita gantian.
"Apa perlu Adnan aja yang pergi Yah, ?" Tawar Adnan.
"Istri kamu sedang hamil, Ayah nggak mau ambil resiko buat calon cucu Ayah"
"Nata aja yang pergi, kasian Ayah sama Ibu udah tua tapi masih ngurusin bisnis kita, kan ada aku juga yah!" Kata Nata.
"Ck, kalian ini, ! Ayah sama Ibu kan juga pengen punya waktu berdua. Hitung-hitung bulan madu lagi" Decak Ibu Nita.
"Lagian Ayah ini belum terlalu tua. Iya nggak Bu?" Goda Ayah sambil menaik turunkan alisnya.
"Nggak usah macem-macem disini ada anak belum cukup pengalaman" Jawab Ibu Nita.
"Belum cukup pengalaman ?" Kata Nata mengerutkan keningnya.
"Iyalah, umur sih udah cukup tapi pengalaman nol" Kata Ibu Nita.
Semua yang ada disitu pun tertawa.
"Ishi, kamu nggak papakan Ibu tinggal?" Tanya Nita kepada menantunya itu.
"Nggak papa Bu, aku bisa jaga diri kok" Jawab Ishi sambil tersenyum.
"Siap Ibu Ratu" Jawab Nata.
"Ibu tenang aja, Ishi aman sama kami" Ucap Adnan.
Setelah sampai di perusahaan, mereka bertiga memasuki lift khusus petinggi perusahaan.
"Sayang, kamu ke ruangan Abang dulu ya,! Abang ada meeting bentar sama Nata dan Doni beserta manager yang lain. " Ucap Adnan sambil menggenggam tamgan Ishi.
"Meetinh disini apa diluar?" Selidik Ishi.
"Disini kok, paling cuma satu jam. Kalau butuh apa-apa ngomong sama sekretaris Abang aja" Jawab Adnan. Ishi pun hanya menganggukkan kepalanya. Sedangkan Nata hanya mendengus mendengar percakapan mereka.
Setelah keluar dari lift Ishi pun menuju ruang suaminya tanpa ditemani Adnan.
Ia pun sempat kaget dengan sosok seorang wanita yang duduk dibelakang meja yang berada di depan ruangan Adnan.
"Apa ini sekretaris Abang? Masih muda rupanya" Gumam Ishi.
"Maaf Ibu mau bertemu siapa?" Tanya sang sekretaris karena belum tahu siapa Ishi. "Pimpinan kami belum datang. Apakah anda sudah punya janji?"
"Kamu pegawai baru?" Tanya Ishi menjawab pertanyaan sekretaris itu dengan pertanyaan.
"Ditanya kok malah balik nanya" Batin sang sekretaris.
"Iya bu, baru seminggu ini saya bekerja" Jawabnya dengan senyum kikuk.
"Perkenalkan Ishika, istri Adnan Brawijaya " Ucap Ishi memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya.
"Maaf bu,saya tidak mengenali Ibu kalau anda adalah istri pak Adnan" Jawabnya dengan nada takut.
"Tidak papa, siapa namamu?" Tanya Ishi Ramah.
"Intan Bu, "Jawabnya.
"Jangan panggil Ibu, aku belum setua itu, panggil nama saja" Jawab Ishi
"Tapi anda adalah istri atasan saya"
"Panggil mbak aja, " Intan pun menjawab dengan anggukan. Mereka berdua pun tersenyum.
"Bang, tumben kamu ajak bini kamu kerja?" Tanya Nata.
"Nanti jadi masalah kalau dia ditinggal di rumah" Jawab Adnan sambil memijat pelipisnya.
"Masalah apa Bos?" Tanya Doni.
"Perwakilan PT. Angkasa tiba-tiba chat aku, ngingetin masalah meeting. Ntah dapet nomor aku dari siapa" Jelas Adnan.
"Wih, daun muda bang!" Celetuk Nata.
"Ambil noh kalau mau" Jawab Adnan sambil melempar bantal kursi kearah Nata.
"Dia mau coba jadi penggoda biar kerjasama kita lancar agaknya bos" Ucap Doni dengan cengengesan.
"Dia, mau godain Abang? Salah pilih target agaknya. Abang ini udah bucin akut ama bininya" Jawab Nata dengan tawa lepas.
"Biar nggak salah paham makanya Abang mau ajak Ishi buat ketemuan sama tu klien" Jawab Adnan.
"Iya bos, yang kaya gitu jangan dikasih kesempatan. Takutnya bos kegoda lagi kalau nggak bawa pawangnya" Celetuk Doni.
"Hahahaha, bisa aja kak Doni itu. Abang itu nggak akan berpaling. kan udah ketemu sama pawangnya. " Tambah Nata dengan tawa renyahnya.
"Dia itu belum tahu gimana bini bos kalau udah ngamuk, ngamuknya nggak pake kekerasan tapi ngamuk cantik. " Tambah Doni.
"Aku ikutlah nanti meetingnya. Siapa tahu bisa nonton drama secara live kan!" Ucap Nata.
"Sialaan" Umpat Adnan pada kedua orang tersebut.