My Love My SPG

My Love My SPG
Dia segalanya



"Kau berani menyakitinya? Kau kira kau siapa?" Ucap Adnan lalu dia menarik tangan Ishi dan memukul Adri tepat di mukanya sampai ia jatuh tersungkur.


"Nata jaga Ishi, Abang mau kasih pelajaran buat baji**** ini" Ucap Adnan dengan sorot mata tajam. Ia pun membuka jas yang ia kenakan dan menggulung kemejanya, membuang asal dasi yang ia kenakan.


"Kau fikir dia barang yang bisa kau perebutkan?" Kata Adnan sambil memukul Adri lagi.


Belum sempat Adri bangkit Adnan lalu menendangnya tepat diperut.


"Biarkan saja, jangan ada yang membantunya. Apapun yang terjadi kalian diam ditempat. Jangan ada yang bertindak. Ini urusan saya dengan dia" Ancam Adnan pada beberapa orang yang hendak membantu Adri.


"Kau mau kita taruhankan? Memang kau fikir kau punya apa untuk dipertaruhkan?" Ejek Adnan.


"Bagaimana kalau aku putuskan kontrak kerja kita, kau tahukan berapa kerugian yang ditanggung Brawijaya kalau sampai kontrak itu gagal" Ancam Adri dengan terbata-bata.


"Apa sebegitu berharganya wanita itu untuk seorang Adnan Brawijaya"


"Kau tahu bahkan aku sanggup merelakan semua yang aku punya kalau untuk dia" Jawab Adnan lalu kembali memukul Adri.


"Apa kau fikir aku bodoh, kontrak kerja itu tidak ada harganya jika dibandingkan dia"


Mereka berdua saling baku hantam namun setiap pukulan Adri tidak dapat mengenai Adnan.


"Kak, pisahin mereka nanti Abang kenapa-kenapa!" Pinta Ishi dengan panik.


"Abang kalau udah emosi susah shi buat dihentiin. Biarin aja duli nanti kalau emosinya udah reda dia berhenti sendiri. Sejak dulu Abang nggak pernah semarah ini. Ini yang paling mengerikan. " Jelas Nata.


"Tapi Abang bisa luka kak. Apa kakak akan bertindak kalau salah satu diantara mereka sudah tidak berdaya?" Sanggah Ishi.


"Kamu tenang aja, bos itu pandai bela diri. Bos tahu kok kapan harus berhenti. Dia cuma mau kasih pelajaran aja buat baj***** kaya Adri. " Ucap Doni.


Mereka yang melihat kejadian itu hanya dapat menatap tanpa berani memisahkan Adnan dan Adri. Mereka baru tahu sengeri apa CEO mereka jika sudah marah.


"Aku saja tidak pernah berani untuk menyakitinya, bahkan berfikir untuk menyakitinya pun tidak pernah tapi kau berani sekali memukulnya dengan tangan kotormu itu. " Kata Adnan sambil mencengkeram kerah baju Adri.


"Apa perlu aku potong tanganmu yang kau pakai untuk memukulnya?" Tanya Adnan dengan senyum devilnya.


"Ternyata seperti ini sifat dari Adnan Brawijaya" Jawab Adri dengan senyum menahan sakit.


"Ini belum seberapa, jika kau berani mengusik lagi keluargaku aku pastikan kau akan membayarnya. " Ancam Adnan.


"Abang.... !!!" Teriak Ishi yang sudah tidak tahan dengan sikap Adnan yang mengerikan menurutnya. Mendengar Teriakan Ishi seketika Adnan menghentikan kegiatannya menghajar Adri. Ia pun melepaskan cengkraman tangannya dikerah baju Adri.


"Udah bang, jangan terusin lagi" Ucap Ishi sambil menangis di samping Nata. Adnan pun tak kuasa melihat tangis Ishi, ia pun menghampiri Ishi dan memeluknya.


"Kamu nggak papa? Masih sakit nggak? Apa perlu ke dokter?" Tanya Adnan sambil membelai pipi Ishi. Ishi pun hanya menjawab dengan isak tangisnya.


"Maafin Abang ya, nggak seharusnya Abang biarin kamu sama calon anak kita lihat Abang dengan sisi jahat kaya gini" Ucap Adnan penuh penyesalan.


"Lain kali jangan ulangi lagi ya. Aku nggak mau kalau anak kita lahir dia lihat ayahnya kaya gitu" Ucap Ishi sambil membenamkan wajahnya didada Adnan.


"Iya Abang janji sayang" Kata Adnan sambil mengecup pucuk kepala Ishi.


Sontal yang ada disitu bagaikan penonton yang lagi nonton drama secara live. Mereka pun bertanya-tanya sebenarnya ada hubungan apa antara Ishi dan juga sang CEO. Terlebih Hendri dan juga Gita yang kaget dengan adegan bak drama korea itu.


"Don, sisanya kamu urus aja sama Nata. Kalau ada tuntutan atau apa biarin aja, itu nanti urusan saya" Ucap Adnan.


"Nat, nanti setelah ini Abang mau jawaban dari kamu tentang masalah Ishi dengan orang yang menindasnya disini" Tambah Adnan.


Dweeeeerrrr


Bagaikan disambar petir disiang hari, Gita yang mendengar perkataan sang CEO pun dibuat cemas melihat apa yang diterima lelaki tadi setelah memukul Ishi.


"Apakah aku akan menerima hukuman seperti tadi? Atau bahkan lebih parah? Bagaimana ini, bagaimana aku bisa lepas dari masalah ini?" Gumam Gita dalam hati.


Mendengar ada keributan di Mall, Hanif selaku sang Manager pun langsung menghampiri mereka.


"Pak Adnan apa yang terjadi? Bagaimana bapak bisa kenal dengan SPG kita?" Tanya Hanif yang heran dengan kedekatan Adnan dan Ishi.


Adnan pun hanya menjawab dengan tatapan tajam yang artinya dia sedang tidak ingin diganggu.


"Ayo, " Ajak Adnan membawa Ishi ke ruang SPV. Adnan pun menggendong Ishi ala bridal style yang membuat muka Ishi merah merona.


"Abang turunin aku, malu dilihat orang"Rengek Ishi namun tak dihiraukan oleh Adnan.


Sedangkan Hanif, Hendri dan Gita mengikuti Adnan dari belakang.


"Ada bagian yang sakit nggak? Perut kamu nggak kenapa-kenapa kan?" Tanya Adnan sambil berjongkok didepan Ishi setelah menurunkannya di kursi.


"Aku nggak papa kok bang, dia juga baik-baik aja!" Ucap Ishi sambil mengusap perut ratanya dengan sisa tangisnya.


"Maafin Ayah ya sayang, lain kali Ayah janji nggak akan biarin kamu sama Bunda terluka" Kata Adnan sambil mengusap perut Ishi.


Hanif, Hendri dan Gita yang sedari tadi mengekori Adnan dibuat terkejut dengan sikap Adnan dan Ishi.


"Ayah? Bunda? Anak? Sebenarnya mereka ada hubungan apa?" Batin Hanif.


"Jadi saingan aku CEO Brawijaya rupanya, pantas saja Ishi menolakku" Batin Hendri


"Mampus, Ternyata bukan kak Nata targetnya tapi CEO. Lantas bagaimana dengan nasibku?" Batin Gita.


"Abang nggak papakan?" Tanya Ishi sesenggukan.


"Abang itu nggak papa. Kamu kok masih nangis aja. Dasar cengeng" Goda Adnan sambil tersenyum.


"Lain kali kalau kaya gitu liat aja, aku nggak mau ngomong sama Abang. Aku takut kalau lihat Abang marah kaya gitu" Ucap Ishi.


"Iya, tapi Abang nggak janji ya. Nanti kalau ada yang berani nyakitin kamu Abang akan kasih pembalasan yang lebih dari itu" Kata Adnan.


Bukk..


Ishi pun memukul lengan Adnan.


"Aw, kok kamu pukul abang sih?" Tanya Adnan sambil mengusap lengannya.


"Nggak boleh, Abang nggak boleh kaya gitu. Anak kita harus kenal ayahnya dengan sikap yang baik bukan yang jahat kaya tadi." Bentak Ishi.


"Iya maafin Abang ya" Kata Adnan sambil mengusap pucuk kepala Ishi.


"Sejak kapan Pak Adnan menikah? Tapi kenapa belum ada pengumuman atau pesta perayaan? Atau jangan-jangan mereka menikah tanpa restu orang tua?" Batin Hendri.


"Berani sekali dia membentak CEO Brawijaya. Apa benar mereka sudah menikah?" Batin Hanif.


"Bagaimana nasibku setelah ini? Bisa gawat ini" Batin Gita.


* * * * *


Hai kesayangan Mimin.


Maaf jika alur cerita tidak sesuai harapan ya.


Terima kasih buat yang udah dukung karya Mimin. Jangan lupa kasih like, vote jangan lupa juga kasih tip dong buat mimin 😁 yang banyak yaaaaaaa....


Salam sayang dari Mimin. 🙆