
Ditengah percakapan mereka ada sepasang mata yang terus memperhatikan mereka. Ia adalah Susan anak dari rekan bisnis Adnan.
"Bos, saya dari tadi melihat Susan sedang memperhatian kalian" Bisik Doni yang tiba-tiba menghampiri Adnan.
"Biarkan saja, jangan ambil tindakan sebelum dia melakukan sesuatu" Perintah Adnan
"Ada apa bang, kok kayaknya serius banget? " Tanya Nata
"Anak kecil nggak tau apa-apa" Jawab Adnan sembarangan.
"Aku ini udah gede bang, kalo Ibu ngizinin aku nikah duluan sebelum Abang kali aku udah nikah ngeduluin Abang" Jawab Nata
Ishi hanya bisa takjub mendengar percakapan kakak beradik itu. Ia tidak tahu bahwa atasannya yang dibilang orang kejam tapi bisa sangat lembut terhadap adiknya, sedangkan Nata yang terlihat cool bisa sangat manja didepan kakaknya.
"Kak Doni ada apa sih? Tanya Nata pada Doni .
Nata memang orang yang sopan ia tetap menghormati Doni walaupun Doni adalah sekertaris kakaknya. Karena bagi Nata jika umur seseorang lebih tua dari pada dia, dia akan memanggil kakak tanpa memikirkan statusnya.
"Kan tadi udah dijawab Abang mu" Jawab Doni singkat.
"Kalian ini memang pasangan yang cocok" Ucap Nata
"Ini? " Ucap Doni sambil melirik Ishi karena dia merasa tidak mengenal Ishi.
"Temennya Nata" Jawab singkat Adnan
"Perkenalkan Ishi" kata Ishi sambil mengulurkan tangannya
"Doni, usia 28 tahun pekerjaan sekertaris sekaligus sahabat dari Adnan Brawijaya golongan darah A, makanan favorit nasi goreng" Jawab Doni sambil tertawa
"Kurang panjang kalimatnya" Jawab Nata.
Drrrrt.. Drrrttt
Terdengar suara getar hp dari dalam saku celana Nata.
"Bentar aku terima telfon" Kata Nata sambil meninggalkan mereka.
Disisi lain terlihat Susan menghampiri seorang untuk menyingkirkan Doni dari meja Adnan.
"Don, apa kabar?" Sapa Fiki teman lama Doni yang ternyata adalah orang suruhan Susan.
"Baik, Fiki yaa? Apa kabar" Jawab Doni
"Baik juga, gimana kalo kita ngobrol disebelah sana. Ada banyak hal yang mau aku omongin ma kamu" Ajak Fiki
"Ayoo! Boss aku tinggal dulu ya" Pamit Doni tanpa merasa curiga dengan ajakan Fiki.
Adnan pun hanya mengangguk tanda memberi izin .
Setelah kepergian Doni tinggalah Adnan dan Ishi berdua. Ishi terlihat sangat canggung berduaan dengan Big Bossnya itu.
"Mana sih kak Nata, lama betul " Gerutu Ishi pelan. Namun didengar oleh Adnan
"Sabar, bentar lagi dia kesini" Jawab Adnan.
Ishi nampak terkejut dengan jawaban Adnan padahal ia merasa berbicara sangat pelan.
"Hai Adnan, apa kabar? Nih aku bawain minuman" Sapa Susan sambil membawa dua minuman dan ia memberikan salah satunya untuk Adnan.
"Baik, terima kasih" Jawab singkat Adnan tanpa memperdulikan Susan.
"Boleh dong iku gabung, ini siapa Nan..?" Tanya Susan sambil melirik Ishi
"Teman saya" Jawab Adnan "Kamu haus Shi, ini minum punya ku, aku tidak suka jus jeruk" Kata Adnan sambil memberikan minuman yang dibawa Susan untuknya karena melihat Ishi yang nampak haus.
"Terima kasih" Jawab Ishi sambil meminum minuman yang diberi Adnan.
Melihat hal itu Susan jadi salah tingkah.
"Gawat, minuman yang seharusnya di minum Adnan issh, mana minuman itu sudah aku beri obat perangsang, brengs** lebih baik aku pergi sebelum ketahuan" Fikir Susan
"Nan, aku pergi dulu ya, udah ditunggu teman. Duluan ya" Pamit Susan.
"Iya" Jawab Adnan
Drrt... Drtt
Ponsel Adnan bergetar, setelah dia melihat ternyata ada pesan dari Nata.
📩 Nata : "Bang nitip Ishi ya, tolong anterin dia pulang aku ada urusan, terus aku ambil cuti 1 minggu"
📩 Adnan : "Kamu kira anak orang itu barang main titip, ada urusan apa? "
📩 Nata: "Biasa, masalah Andin. Tolong ya Bang"
📩 Adnan : "Oke, tapi kamu hutang penjelasan sama Abang"
Saat Adnan sedang sibuk dengan ponselnya ntah mengapa Ishi tampak gelisah.
"Kenapa ini? Kenapa badan ku panas sekali?" Batin Ishi.
"Kau kenapa? Sakit? Ayo saya antar pulang. Nata ada urusan jadi dia pulang duluan" Terang Adnan yang nampak khawatir dengan keadaan Ishi.
"Panas sekali pak, badan saya rasanya terbakar" Kata Ishi
"Apa saja yang kau makan tadi? " Tanya Adnan dengan curiga
"Saya hanya minum minuman yang Bapak beri tadi" Jawab Ishi
"Kurang hajar, ayoo pulang dengan ku" Adnan menggandeng tangan Ishi
"Don periksa minuman ini ada apa di dalamnya sepertinya ada yang ingin menjebak ku" Adnan bicara pada Doni sambil menunjuk gelas bekas minuman Ishi.
Doni yang tiba-tiba datang kaget melihat kaeadaan Ishi.
"Bos, Jangan jangan" Tebak Doni
"Kemungkunan iya, kau bereskan yang disini. Aku akan membawa dia karena Nata pergi duluan" Kata Adnan sambil memapah Ishi.
Saat perjalanan ke luar pintu hotel, terlihat Ishi semakin kepanasan, bahkan ia hampir membuka bajunya di dalam lift tapi dihalangi oleh Adnan Beruntung lift yang dipakai adalah lift khusus milik keluarga Brawijaya.
"kemana aku harus membawa gadis ini dengan keadaan seperti ini, kedokter tidak mungkin? " Batin Adnan.