
"Bang, nanti aku pergi bareng Indri sama Rika ya?" Izin Ishi ketika sedang memasangkan dasi sang suami.
"Mau kemana?" Tanya Adnan.
"Jalan aja. Aku kangen mereka" Rengek Ishi.
"Ya udah, tapi dianter sopir ya!" Ucap Adnan.
"Makasih" Ucap Ishi sambil mencium pipi Adnan.
"Heeem, pagi-pagi udah godain Abang. Kalau Abang kegoda bisa-bisa nggak berangkat kerja ini." Ucap Adnan sambil menaik turunkan alisnya.
"Awww" Pekik Adnan ketika Ishi mencubit perutnya.
"Dasar mesum" Decak Ishi.
"Mesum-mesum gini tapi kamu cintakan?" Goda Adnan.
"Terpaksa" Jawab Ishi ketus.
"Dimulut bilang terpaksa. Kalau udah dikadih jatah bisa nyampek merem melek" Goda Adnan.
"Abang.. !! " Pekik Ishi sambil melotot kearah Adnan.
"Maleslah, ngomong sama Abang sekarang banyak mesumnya" Ucap Ishi lalu pergi meninggalkan Adnan di kamar.
Setelah tiba di kontrakan mereka dulu, Ishi pun langsung menuju kamar mereka.
"Heeem, Rindunya sama kamar ini" Ucapnya sambil merebahkan tubuhnya diranjang.
"Bukannya kamar kamu yang sekarang lebih enak ya shi?" Tanya Indri.
"Iya, apalagi udah ada temen tidurnya" Tambah Rika.
"Iya sih, tapi aku tetep Rindu sama kamar ini. Sama kalian juga" Ucap Ishi lalu beranjak memeluk kedua sahabatnya itu.
"Ih, lebay deh. Kita kan masih bisa sering ketemu. " Ucap Rika sambil melepaskan pelukannya. Akhirnya mereka pun mengobrol di kamar Ishi dulu.
"Iya tapi buat dapetin izin Abang itu susah" Dengus Ishi.
"Enaklah ya punya suami protektif" Celetuk Rika.
"Banyak nggak enaknya" Jawab Ishi.
"Kok gitu?" Tanya Indri.
"Iyalah, kemana-mana nggak boleh. Harus selalu dianter sopir. Aku rindu hidupku yang dulu" Ucap Ishi.
"Ya walaupun semua buat kebaikan aku, tapi kadang aku rasa tuh Abang terlalu protektif" Tambahnya lagi sambil menghela nafas.
"Udah nikmatin aja, jangan dibuat beban. Syukuri, nikmati dan jalani" Ucap Rika.
"Iya, makasih ya sayang-sayang aku. Kalian selalu ada buat aku" Ucap Ishi sambil memeluk Rika.
"Kok cuma Rika yang dipeluk akunya nggak" Rengek Indri.
"Uluh-uluh sayang aku. Sini-sini aku peluk" Ucap Ishi lalu mereka kembali berpelukan.
Krruuuk... Kruuk
Suara perut Ishi berbunyi.
"Uluh-uluh ponakan tante laper ya? Mau makan apa sih?" Tanya Rika sambil mengusap perut Ishi.
"Mau makan rujak tahu tante kayaknya aku lagi pengen nih" Jawab Ishi sambil menirukan suara anak kecil.
"Ini emaknya yang pengen apa anaknya ya?" Goda Indri sedangkan Ishi hanya nyengir.
"Ya udah, ayo kita buat sama-sama. Tapi kayaknya harus beli bahan dulu. Soalnya disini nggak ada bahan masakan lengkap semenjak kamu nikah shi" Gerutu Rika.
"Belinya di Mall kamu aja ya shi. Males mau ke pasar udah panas ini" Ucap Indri.
"Mall aku?" Ucap Ishi bingung.
"Iyalah, Mall Brawijaya kan punya laki kamu otomatis punya kamu juga" Jawab Indri.
"Ya bukanlah, itu punya mertua aku" Jawab Ishi memutar bola matanya jengah.
"Iya tapikan kamu bininya" Ucap Indri ngeyel.
"Udahlah, punya Ishi apa bukan nggak ada hubungannya. Ayo cepet beli bahannya." Ucap Rika menengahi.
Akhirnya mereka pun menuju Mall Brawijaya menggunakan mobil yang mengantar Ishi.
"Gila, sekarang semua karyawan hormat sama kamu ya shi setelah tahu laki kamu" Ucap Indri.
"Pasti rasanya seneng ya shi, lihat setiap orang hormat sama kamu"
"Biasa aja rasanya, malah agak kikuk. Aku lebih suka kaya dulu semua orang mandang aku karna aku bukan karena embel-embel keluarga" Ucap Ishi.
"Dengerin ndri, nggak semua hal yang orang kaya dapet itu bisa buat mereka bahagia" Ucap Rika.
Setelah berkeliling ria mencari segala bahan diselingi candaan, mereka akhirnya selesai juga. Mereka pun menuju meja kasir untuk melakukan transaksi pembayaran.
"Ibu, kok nggak bilang kalau mau dateng belanja disini?" Kata Hanif yang tiba-tiba menghampiri mereka karena mendengar kalau istri Adnan datang berbelanja di Mall mereka.
Kedatangan Hanif yang tiba-tiba menghampiri mereka membuat ketiganya kaget.
"Hah,,, ? Nggak papa Pak. Saya kesini cuma belanja sendiri. " Ucap Ishi kikuk.
"Ada yang bisa saya bantu Bu?" Tanya Hanif.
"Kita udah selesai kok Pak." Ucap Ishi.
"Pak, jangan panggil saya Ibu, panggil aja nama saya" Pinta Ishi.
"Tidak bisa Bu. Ibu kan istri pak Adnan jadi kami harus manggil Ibu" Jawab Hanif.
Mendengar penjelasan dari Hanif, Ishi hanya dapat memutar bola matanya jengah sedangkan Rika dan Indri hanya senyum-senyum sendiri.
"Ya udah Pak, terserah Bapak saja. Saya permisi dulu mau bayar" Ucap Ishi sambil mendorong troli belanjaan.
"Nggak usah bayar Bu, bawa aja belanjaannya" Ucap Hanif
"Ya nggak bisa gitu Pak. Kalau itu suami saya nggak papa tapikan ini saya jadi saya harus bayar" Cegah Ishi.
"Tapi bu.."
"Saya nggak terima penolakan" Ucap Ishi memotong perkataan Hanif.
Hanif pun hanya dapat menganggukkan kepalanya.
"Gila, Ishi sekarang ketularan lakinya kali ya? Bisa-bisanya dia bentak Hanif kalau dulu aja boro-boro bentak ngomong sama dia aja nggak berani" Ucap Indri berbisik pada Rika.
"Hei..! Kakak ipar ngapain disini?" Tanya Nata menghampiri Ishi.
"Belanjalah kak, Masa tidor!" Ucap Ishi ketus.
"Bener dia udah ketularan sifat lakinya" Ucap Rika berbisik.
"Heeem, kamu ini lama-lama mirip Abang kalau ngomong. Haha" Ucap Nata.
"Ketularan ketusnya"
"Apa sih Kak?" Ucap Ishi.
"Ya udahlah males ngomong sama kamu kalau lagi emosi. Hati-hati kalau di luar rumah. Kamu dianter sopirkan?"
"Iya! Aku pergi dulu ya kak. Mari Pak" Pamit Ishi pada Nata dan Hanif sedangkan Rika dan Ishi hanya mengikuti Ishi sambil membawa barang belanjaannya.
"Sini biar kakak yang anterin sampai parkiran." Tawar Nata.
Setelah sampai di kontrakan mereka memasak dan menyantap masakan mereka.
"Segernya" Ucap Ishi.
"Enak banget" Tambah Indri.
Mereka makan diselingi obrolan khas alias ngerumpi sana-sini.
"Nanti aku pulang mau bawain buat Abang, sekalian mampir di kantor Abanglah" Ucap Ishi setelah selesai dengan kegiatan bersama sahabatnya
"Nggak kesorean Shi?" Tanya Rika.
"Nggak kok ini masih jam 2 jadi Abang masih di kantor" Ucap Ishi sambil melirik jam ditangannya.
"Aku pulang dulu ya, makasih buat hari ini" Pamit Ishi pada kedua sahabatnya sambil membawa bungkusan rujak.
"Iya hati-hati ya" Ucap Rika lalu mereka berpelukan.
Di kantor Brawijaya.
"Maaf Pak Adnan dasi anda miring" Ucap seorang wanita sambil membetulkan letak dasi Adnan.
"Abang..... !!!!" Tiba-tiba suara terdengar setelah pintu terbuka.