My Love My SPG

My Love My SPG
Bentuknya Saja Aku tidak tahu.



"Baiklah Pak Adnan, mari kita berdamai saja" Ucap Ria.


"Kak, kenapa kau mudah sekali digertak?" Bentak Adri.


"Diamlah, sudah cukup masalah yang kau timbulkan. Jangan buat aku tambah pusing" Oceh Ria.


"Baik, tapi saya ingin satu syarat" Ucap Adnan.


"Kau breng***, kenapa kau minta syarat segala?" Bentak Adri.


"Kau berani memaki Abangku?" Ucap Nata langsung berdiri karena tersulut emosi.


"Nata" Ucap Adnan lalu Nata kembali duduk.


"Apa syarat anda?" Tanya Ria.


"Jangan pernah mengganggu istriku lagi dan minta maaflah atas ucapanmu kepadanya" Pinta Adnan.


"Aku tidak sudi" Pekik Adri.


"Hei, kalau kau jantan akui kesalahanmu" Ucap Doni.


"Diam kau, aku tidak butuh saran darimu" Ucap Adri.


"Kami akan memenuhi syarat dari anda" Ucap Ria.


"Kak, jangan ikut campur urusanku" Pekik Adri namun tidak dihiraukan oleh Ria.


"Kalau masalah ini sudah selesai, kami pamit undur diri" Ucap Adnan lalu berdiri.


"Baiklah pak, terimakasih atas semuanya" Ucap Ria.


"Tidak perlu, disini kita satu sama" Ucap Adnan lalu pamit meninggalkan kediaman Adri bersama Doni dan Nata.


"Kakak ini apa-apaan, main mengiyakan semua syarat dari mereka? kakak nggak mikirin gimana muka aku?" Bentak Adri.


Plaak.


Sebuah tamparan mendarat dengan mulus dipipi Adri.


"Kalau aku yang jadi wanita itu, mungkin aku sudah menyuruh suamiku untuk membunuhmu saja! Sejak kapan adikku yang baik hati ini berubah menjadi baj*****? Aku tidak ingin mempunyai adik seperti dirimu!" Ucap Ria dengan mata berkaca-kaca lalu pergi meninggalkan Adri. Sang pengacara pun ikut pergi karena merasa sudah tidak diperlukan lagi.


Adri hanya terdiam sambil mengusap pipinya yang memerah akibat tamparan Ria. Ia pun merebahkan tubuhnya disofa sambil memikirkan tentang ucapan Ria.


* * * *


"Bang, lihat ini" Kata Nata sambil memperlihatkan ponselnya.


Saat Adnan melihat ponsel Nata raut wajahnya pun berubah.


"Siapa yang nulis berita kaya gini? Mereka ini asal tulis tanpa mencari dulu kebenarannya " Ucap Adnan dengan nada kesal.


"Maksud bos apa?" Tanya Doni yang sedang berada di kursi pengemudi.


"Beritanya udah keluar kak. Mau tahu nggak apa judulnya?" Ucap Nata yang berada di kursi samping kemudi.


"Emang apa?" Tanya balik Doni.


"Kedua Pewaris Brawijaya dan Bina Citra kepincut dengan Pesona Wanita Malam" Ucap Nata.


"Bisa-bisanya mereka bilang wanita malam? Emang mereka udah pernah lihat Ishi ada di diskotik?" Tanggap Doni dengan geram.


"Iya bang, kayaknya Abang harus cepat beresin masalah ini sebelum beritanya semakin bertambah besar. Ini baru di berita online, kalau sampai ke media cetak gimana?" Saran Nata.


"Biarin aja dulu, yang penting Ishi nggak lihat beritanya. Mau aku lihat sampai mana mereka membuat berita palsu kaya gini" Ucap Adnan dengan tenang.


Drrrrtt... Drrrtt


Ponsel Adnan bergetar, ia pun melihat siapa si penelpon. Setelah melihat si penelpon ia pun menggeser ikon warna hijau.


📞


Adnan : "Iya sayang?"


Ishi :" Mau rujak bebek"


Adnan :" Belinya dimana?"


Ishi :" Ya nggak tahulah, pokoknya pulang bawa itu. Awas kalau nggak"


Adnan :" Tapi Abang.. "


Tuuuut... Tuuuut


Sambungan telfon pun terputus begitu saja tanpa mendengar penjelasan dari Adnan.


"Kenapa bang?" Tanya Nata begitu mendengar helaan nafas Adnan.


"Kalian coba carikan di restoran mana yang jual rujak bebek?" Ucap Adnan.


"Emang di restoran mana yang jual bos?" Tanya Doni.


"Ya mana aku tahu, bentuknya saja aku tidak tahu" Ucap Adnan frustasi.


"Cari aja di penjual kaki lima, kalau di restoran nggak ada yang jual bang" Ucap Nata sambil memperlihatkan ponselnya pada Adnan. Ia sudah mencari tahu apa itu rujak bebek di mbah go****.


Setelah berkeliling dimana-mana mereka tidak menemukan satu pun pedagang rujak bebek. Sampai hampir memasuki magrib. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah dengan tangan kosong.


* * * * *


"Nak, masuk dulu udah mau magrib ini" Perintah Ibu nita yang melihat Ishi dengan setia menunggu Adnan di teras rumah.


"Bentar lagi Bu, Abang belum dateng" Ucap Ishi.


"Ya udah, tapi kalau magrib masuk ya nak" Ucap Nita lalu pergi meninggalkan Ishi. Ishi pun hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Tiiin... Tiin


Suara klakson mobil milik Adnan. Ishi pun mendengar itu lalu berdiri dengan senyum sumringah menunggu pesanannya datang.


"Matilah kau Abang, Ishi udah nunggu di teras" Ucap Nata.


"Ya kan emang kalau dia dirumah selalu nungguin Abang dateng" Kilah Adnan.


"Tapi ini beda bos, kan pesanannya nggak dibawain. Siapa tahu dia nunggu pesanannya bukan nunggu bos" Ucap Doni.


"Nggak mungkin, dia itu orangnya pengertian kalau dibilang nggak ada ya nggak nuntut" Ucap Adnan.


Namun Doni dan Nata hanya mengangkat bahunya mendengar ucapan Adnan.


"Kita lihat aja" Ucap Doni.


"Assalamualaikum " Ucap Adnan.


"Wa'alaikum salam" Ucap Ishi sambil clingak-clinguk mencari pesanannya dan mencium tangan Adnan.


"Pesanan aku dibawain kak Nata ya?" Ucap Ishi ketika melihat Nata dan Doni keluar dari mobil.


"Jadi gini tadi Abang udah keliling sama mereka cari rujak tapi nggak ada" Kata Adnan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ishi pun memandang Adnan.


"Jadi Abang nggak beliin" Tambahnya sambil tersenyum kikuk.


Mendengar penuturan Adnan seketika mimik muka Ishi berubah, ia lalu pergi meninggalkan Adnan begitu saja.


"Hei, sayang kamu kenapa?" Tanya Adnan mengejar Ishi sampai ke ruang tamu.


"Abang ini cuma dimintain tolong beliin kaya gitu aja nggak sanggup, gimana kalau aku minta dibeliin pesawat" Ucap Ishi dengan mata berkaca-kaca.


"Kalau kamu mau dibeliin pesawat Abang beliin sekarang itu gampang,tapi rujak yang kamu minta Abang aja nggak tahu bentuknya gimana" Balas Adnan dengan nada agak tinggi.


"Ya Abang itu nggak ada usaha, aku tuh pengennya rujak nggak mau yang lain" Ucap Ishi dengan terisak.


Doni, Nata dan kedua orang tua mereka yang melihat kejadian itu pun kaget, pasalnya Adnan tidak pernah berkata dengan nada tinggi pada Ishi. Namun mereka tidak mau ikut campur dan hanya duduk di kursi ruang tamu.


"Kok kamu nangis? Maafin Abang kalau Abang ngomong kasar sama kamu" Ucap Adnan sambil mengusap pucuk kepala Ishi.


"tapi kamu ngertiin Abang dong, Abang capek pulang kerja belum ngurusin masalah tadi nyari-nyari rujak nggak ketemu jadi cari rujaknya besok aja ya?" Bujuk Adnan.


"Bang, istri kamu itu lagi ngidam turutin aja apa maunya. Kalau nggak ibu yang buatin mau nggak?" Ucap Ibu Nita.


"Aku udah nyari bu, tapi emang nggak ada" Ucap Adnan.


"Biar Abang aja bu yang buatin" Ucap Ishi.


"Abang nggak bisa sayang" Ucap Adnan.


"Abang bisa minta ajarin Ibu kan?" Sanggah Ishi.


"Ya udah, nanti abis magrib Abang buatin." Ucap Adnan mengalah.


"Don, Nata kalian berdua cariin bahannya ya" Ucap Adnan sambil memandang mereka.


"Ini anak Abang, bukan anak kak Nata atau anak kak Doni" Ucap Ishi lalu pergi menuju kamarnya.


"Yang sabar ya bang ngadepin istri ngidam, Ibu kamu dulu lebih parah waktu hamil kamu" Ucap Hendro sambil tersenyum.


"Istri ngidam harus dituruti, bahannya ada di rumah mangganya kamu petik aja bang di pohon belakang rumah" Ucap Ibu Nita lalu pergi bersama Hendro.


"selamat manjat pohon bos, aku pamit dulu" Ucap Doni lalu pergi meninggalkan kediaman Brawijaya.


"Dah Abang" Ucap Nata sambil melambaikan tangan ketika melewati Adnan.


"Eeit, mau kemana? Ayo manjat pohon sebelum magrib" Ucap Adnan sambil menarik kerah baju Nata.


"Aku mau mandi bang" Berontak Nata.


"Nanti aja, manjat pohon dulu" Ucap Adnan sambil melingkarkan tangannya dileher Nata dan mengapit kepalanya diketiak Adnan.


* * * * *


***Hai, kesayangan Mimin. Mohon maafkan mimin yang tidak bisa UP tiap hari. Minggu ini Mimin disibukan dengan kegiatan awal puasa. Semoga setelah ini mimin bisa UP tiap hari.


Terima kasih buat dukungannya. Jangan luoa kasih like vote dan komen yang baanyaaaaaaaaaaak buat karya mimin.


Salam sayang dari mimin. 🙆***