My Love My SPG

My Love My SPG
Dosa Apa Aku Dikehidupan yang Lalu.



Malam itu semua keluarga Brawijaya berkumpul di ruang keluarga untuk membicarakan masalah resepsi pernikahan Adnan dan Ishi.


"Bang, kalian nggak ada rencana untuk adain resepsi pernikahan apa?" Tanya Nita.


"Nanti aja bu, nunggu sehabis ulang tahun perusahaan kita aja" Jawab Adnan.


"Itukan masih satu bulan lagi, kamu ingin apa nanti saat Ishi pakai gaun pengantin perutnya udah kelihatan besar" Ucap Nita.


Sedangkan Adnan tampak berfikir mengenai ucapan sang Ibu.


"Terserah mereka bu, mau adain resepsi atau nggak. Jangan dipaksa " Ucap Hendro mencoba menengahi.


"Kalau kamu gimana sayang?" Tanya Ibu Nita pada Ishi.


"Kalau aku terserah Abang Bu" Jawab Ishi.


"Ya baguslah Bu, berarti Abang sudah menunjukkan kejantanannya kalau waktu resepsi perut Ishi udah gede" Canda Nata.


Buuuk


Ibu pun melemparkan bantal kearah Nata.


"Kamu ini, kasian Ishi kalau perutnya udah besar. Nanti dia kecapean " Ucap Nita.


"Adnan lagi konsen ke acara peringatan ulang tahun perusahaan kita Bu. Nanti setelah itu Adnan pasti adain resepsi" Ucap Adnan.


"Lagian kehamilan Ishi baru akan masuk empat bulan jadi belum kelihatan waktu kita adain resepsi" Tambah Adnan.


"Sekalian aja besok diulangan tahun perusahaan kamu mengumumkan pernikahan kalian" Ide Hendro.


"Kalau masalah itu gampang Yah" Ucap Adnan.


"Masalah Abang udah selesai, terus kamu gimana Nata?" Tanya Ibu Nita pada Nata.


"Emangnya aku punya masalah apa Bu?" Tanya Nata bingung.


"Memangnya kamu mau dateng ke acara ulang tahun perusahaan sendirian ?" Tanya Ibu Nita.


"Nanti kalau Nata bawa pasangan malah jadi heboh Bu. Ia kalau jadi kalau nggak gimana? Malu Bu" Bantah Nata.


"Pintar juga kamu kasih alasan ya!" Ejek Adnan.


"Reseh.... !!!" Dengus Nata.


Setelah selesai berbincang-bincang mereka pun memasuki kamar masing-masing.


Sesampainya Ishi di kamar, ia langsung merebahkan tubuhnya diranjang.


"Capeknya" Gerutu Ishi. Ia lalu mengambil ponselnya yang terletak diatas nakas.


"Abang kebawah dulu ya!" Pamit Adnan Ishi pun hanya menganggukkan kepalanya.


Di kamar Nata, nampak ia sedang sibuk dengan komputernya sambil mendengarkan lagu.


"Dek, beliin Abang sate kambing Ibu Rodiyah sih" Pinta Adnan yang tiba-tiba masuk kamar Nata.


"Giliran ada maunya dia manggil aku dek. Abang nggak ada akhlak" Batin Nata.


"Abangkan bisa beli sendiri ngapain nyuruh aku sih! Ngapain juga Abang masuk kamar aku nggak ketok dulu. Kebiasaan" Oceh Nata.


"Nanti Ishi sama siapa kalau Abang pergi. Kamu nggak kasian lihat orang hamil keluar rumah malam-malam?" Jawab Adnan sambil membaringkan badan diatas ranjang.


"Tapi aku lagi sibuk bang" Bantah Nata.


"Heleh, sibuk apa sih kamu ini? Perasaan kerjaan udah mau selesai terus pindah. Alasan !" Gerutu Adnan.


"Kayaknya Abang jarang loh minta bantuan kamu"


"Jarang dia bilang? Terus yang kemarin-kemarin itu apa? Bantuan sosial?" Batin Nata.


"Kamu ini dek, cuma dimintain tolong aja susah. " Gerutu Adnan.


"Iya-iya, aku berangkat. " Dengus Nata karena tidak tahan dengan ocehan Abangnya.


Setelah keluar dari kamar Nata, Adnan turun ke dapur untuk membuatkan susu buat Ishi.


Cekleek.


Suara pintu dibuka.


"Udah mainan ponselnya. Ini susu buat kamu. Habisin ya!" Icap Adnan sambil memberikan segelas susu pada Ishi.


"Cuma buat susu kok Abang lama banget keluarnya?" Selidik Ishi.


"Kenapa? Kamu kangen? Baru juga ditinggal sebentar." Goda Adnan.


"Ih, PD. "Dengus Ishi.


"Hahaha. Abang tadi ke kamar Nata ada perlu" Jawab Adnan sambil tertawa.


Ishi pun meminum susu yang dibuatkan Adnan sampai habis.


Drrrt... Drrrt


Ponsel Adnan bergetar. Ia pun minta Izin ke Ishi untuk menjawab panggilan tersebut.


"Sayang, Abang angkat telepon dulu ya" Ishi pun hanya menjawab dengan anggukan kepala.


Took.. Tok


Suara pintu kamar Adnan diketuk. Ishi pun membukanya.


"Nih sate kambing yang kamu minta" Ucap Nata sambil memberikan bungkusan makanan.


"Sate kambing?" Jawab Ishi sambil mengerutkan keningnya.


"Aku nggak minta kok kak"


"Pesenan Abang udah dateng ya?" Ucap Adnan dari arah ruang kerja.


"Jadi ini yang minta Abang bukan Ishi?" Ucap Nata dengan tatapan tidak percaya. Adnan pun hanya menganggukkan kepalanya.


"Astaga" Tambah Nata dengan nada frustasi.


"Makasih ya dek" Ucap Nata sambil mengambil bungkusan makanan dan langsung membawanya ke bawah.


"Ayo kak kita makan sama-sama" Ajak Ishi.


"Dosa apa aku Dikehidupan yang lalu sampai kau siksa aku lewat keinginan kedua saudaraku Tuhan" Gumam Nata yang masih bisa didengar Ishi.


Ishi pun hanya dapat tersenyum mendengar perkataan Nata.


Sesampainya mereka di meja makan, Ishi menyiapkan makanan yang Nata untuk mereka bertiga.


"Ternyata rasanya enak seperti yang digembar-gemborkan Doni" Ucap Adnan sambil menikmati sate kambing tersebut.


"Jadi ini Abang yang ngidam, hah... ! Aku merasa dibodohi" Gerutu Nata.


"Udah kak nggak usah ngomel terus" Jawab Ishi.


"Nih, makan. Biar sebelnya hilang" Katanya sambil menyodorkan seporsi sate.


"Ckckck....!! Kalian ini sungguh pasangan yang serasi" Decak Nata. Sedangkan Adnan tidak menghiraukan ocehan Nata karena sibuk makan sate.


"Ishi sejak kapan kamu ketularan sikap Abang yang seenaknya sama orang?" Tanya Nata.


" Ya sejak dia nikah sama Abanglah!" Jawab Adnan dengan mulut penuh makanan.


"Bang, telen dulu itu makanan yang ada dimulut. Aku nanya Ishi bukan Abang" Dengus Nata.


"Maaf deh kak Nata. " Ucap Ishi sambil cengengesan.


"Heeem" Ucap Nata lalu memakan sate yang ada dihadapannya.