
"Ayo kita keluar, obati luka kamu" Ajak Nata sambil memapah Ishi, sedangkan Indri dan Rika mengikutinya dari belakang.
Setelah mereka keluar dari Gudang Nata mendudukkan Ishi di kursi khusus pelanggan yang digunakan untuk mencoba sepatu.
"Kamu nggak papa?" Tanya Nata sambil memperhatikan tangan Ishi yang luka karena cakaran Gita.
"Nggak papa kok kak" Jawab Ishi.
Banyak pasang mata yang memperhatikan mereka tak terkecuali Gita dan Hendri yang masih berada belum jauh dari situ.
"Waw, ada kejadian menarik rupanya disini" Celetuk salah seorang pengunjung. Sontak seluruh pandangan mengarah kearah sumber suara.
"Ternyata adik dan kakak punya selera yang sama kalau masalah wanita. Apa jangan-jangan kalian berbagi juga kalau masalah wanita?" Ejek ia lagi.
"Tutup mulut busukmu itu. Jangan cari masalah dengan kami. Atau kau tanggung akibatnya Adri!" Jawab Nata dengan tegas.
Orang itu adalah Adri yang sengaja datang untuk menemui Ishi namun ia malah menemukan kejadian yang menarik menurut dia.
"Aku nggak nyangka muka sepolos kamu bisa meluluhkan hati kedua pangeran Brawijaya" Kata Adri menghampiri Ishi dan akan menyentuh wajahnya namun sebelum tangan Adri menyentuh wajah Ishi sudah ditepis oleh tangan Nata. Sedangkan Ishi hanya memandang Adri dengan tatapan marah.
"Singkirin tangan busuk kamu atau kamu tahu akibatnya." Ancam Nata dengan nada tegas.
"Santai bro, aku cuma mau pegang aja nggak usah pakai emosi" Ucap Adri
"Boleh kali kita join, aku juga mau nyicipin gimana rasanya kalau diatas ranjang. Cukup kamu kasih tahu aja berapa harganya" Ucap Adri berbisik ditelinga Nata.
Buuuk,,
Nata pun memukul Adri tepat di mukanya sampai sudut bibir Adri berdarah.
"Ternyata bukan cuma sikap kamu yang busuk tapi juga ucapanmu" Ucap Nata mencibir.
Mereka pun menjadi tontonan orang-orang yang berada di situ. Ishi hanya dapat menutup mulutnya karena kaget dengan sikap Nata. Mereka yang berada disitu pun terkejut dengan sikap Nata yang selama ini dikenal baik, humoris dan penuh perhatian.
"Cih, kau kasar sekali. Kau tahu perusahaanku dengan perusahaan Brawijaya sedang ada proyek besar dan aku adalah penanggung jawabnya. Dan kau tahu berapa kerugian jika kami mundur dari proyek tersebut?" Ucap Adri sambil berdiri.
"Itu bukan urusanku, masalah proyek itu masalah di kantor pusat tidak ada hubungannya dengan kami yang berada disini" Bohong Nata. Sebenarnya ia tahu namun terlalu malas meladeni Adri.
"Kau lucu sekali, kau ini putra kedua keluarga Brawijaya tapi tidak tahu apa-apa!" Ejek Adri.
"Ada masalah dengan itu? Aku tidak terlalu tertarik dengan perusahaan" Kata Nata.
"Aku tidak akan memutuskan proyek tersebut asalkan kau berikan dia padaku, bukankah itu bukan hal yang sulit? Aku yakin jika Kakakmu tahu ini juga pasti dia mengizinkan kau memberi dia padaku" Gertak Adri sambil melirik Ishi.
"Kalau sampai kakakku tahu hal ini mungkin kau sudah hancur sebelum menyadari kesalahanmu." Balas Nata dengan tatapan tajamnya.
"Apakah wanita ini seberharga itu bagi kalian?" Tanya Adri sambil memandang Ishi dengan senyum devilnya.
"Pergi dari sini atau kau tahu akibatnya" Ancam Nata.
"Oke-oke aku hanya bercanda tidak usah diambil hati untuk masalah perusahaan, namun kau harus beri aku kompensasi atas apa yang kau perbuat terhadapku" Kata Adri sambil memandang Nata.
"Setidaknya biarkan aku memilikinya walaupun hanya semalam"
"Kau membuat masalah ini semakin rumit, bagaimana kalau sampai perusahaanmu tahu mempunyai wakil yang tak bermoral sepertimu?" Ejek Nata. "Apa kau tahu dia itu siapa?" Kata Nata sambil melirik Ishi.
"Aku tidak peduli dia itu milikmu atau milik kakakmu, yang aku tahu aku menginginkannya dan harus mendapatkannya" Balas Adri sambil duduk disamping Ishi.
"Bagaimana cantik kau mau ikut denganku. Aku bisa memberimu apa saja melebihi yang mereka berikan" Tawarnya.
"Saya istri Adnan Brawijaya, anda kira anda sepadan dengan suami saya?" Kata Ishi berbisik yang hanya didengar mereka bertiga.
Mereka pun saling bertatapan. Ada rasa tak percaya dalam diri Adri ketika mendengar ucapan Ishi.
"Kalau anda tidak percaya, itu terserah anda tapi bukankah anda tahu bagaimana suami saya?" Pancing Ishi.
"Sebaiknya kau pergi dari sini" Usir Nata.
"Mana mungkin kau istri Adnan, kau jangan bergurau denganku. Baiklah mari kita buktikan seberapa berharga kau untuk seorang Adnan Brawijaya?" Balas Adri dengan senyum devilnya lalu ia memegang tangan Ishi dengan kuat sampai Ishi terlihat kesakitan.
"Mau kamu apa sebenarnya ?" Tanya Nata yang mulai emosi.
"Biarin aku pergi bawa dia. Kalau memang benar apa yang dia katakan, suruh orang itu menemuiku" Ucap Adri.
"Kau jangan gila, kau mau menggali kuburanmu sendiri?" Geram Nata.
"Kau tidak takut pihak media akan tahu tentang kejadian ini?"
"Aku tahu bagaimana keluarga Brawijaya selalu mengatur media, kau kira aku tidak tahu kalau kau sudah mengatur agar media tidak tahu tentang kejadian ini" Tebak Adri.
"Sudahlah kau tidak perlu menutupinya. Melihat ekspresimu aku sudah tahu"
"Bagaimana kalau tebakanmu salah? Apa kau siap dengan konsekuensi yang akan kau hadapi dengan para media?" Tanya Nata.
"Bagiku tidak masalah, setidaknya aku tidak akan hancur sendirian. Aku bisa katakan kepada media bahwa kedua pangeran dari Brawijaya Group merebutkan seorang wanita murahan" Ancam Adri.
"Jadi maumu apa? Jangan libatkan wanita dalam hal ini, terlebih dia!" Kata seseorang yang muncul dari belakang kerumunan.
"Bos, apa perlu saya urus agar kejadian ini tidak sampai diketahui oleh media ?" Tanya Doni berbisik disamping Adnan.
"Tidak perlu, biarkan media tahu. Sekalian pengumuman pernikahanku" Jawab Adnan dengan sudut bibirnya terangkat sebelah.
"Abang?" Panggil Ishi lirih.
"Akhirnya kau datang, niat awalku sebenarnya hanya ingin mendapatkan gadis ini tapi sepertinya sainganku sangat berat apalagi ada dua orang dari keluarga Brawijaya " Ucap Adri.
"Jadi bagaimana kalau kita taruhan siapa yang menang bisa mendapatkan dia" Katanya sambil memandang Ishi.
"Anda kira saya barang, otak anda ditaruh dimana?" Seru Ishi.
Plakk.
Adri pun menampar Ishi di depan Adnan.
Muka Adnan terlihat merah padam menahan amarah sambil menggertakkan giginya.
"Kau berani menyakitinya? Kau kira kau siapa?" Ucap Adnan lalu dia menarik tangan Ishi dan memukul Adri di tepat mukanya sampai ia jatuh tersungkur.
"Nata jaga Ishi, Abang mau kasih pelajaran buat baji**** ini" Ucap Adnan dengan sorot mata tajam. Ia pun membuka jas yang ia kenakan dan menggulung kemejanya, membuang asal dasi yang ia kenakan.
* * * * *
**Hai kesayangan Mimin apa kabar semuanya? Mimin mohon maaf kalau di bab ini agak kurang greget soalnya Mimin masih bingung buat merangkai kata seperti kejadian aslinya. Maklum ini karya pertama Mimin jadi masih banyak kekurangan.
Terima kasih buat yang udah dukung karya Mimin. Jangan lupa kasih like, vote yang banyaaaaak....
Salam sayang dari Mimin. 🙆**