
Semua orang yang melihat kejadian itu hanya bisa diam dan tak percaya dengan apa yang mereka lihat, karena menurut rumor yang beredar Bigboss mereka adalah orang yang kejam jika itu mengenai pekerjaan.
Setelah kejadian itu, banyak terdengar kasak-kusuk mengenai Bigboss mereka. Kejadian itu membuat mereka semakin mengagumi Big Boss mereka.
"Pak Adnan, apa tidak apa-apa memperlakukan pelanggan seperti itu. Takutnya nanti dia berkoar-koar yang tidak-tidak tentang Mall kita" Tanya Hanif dengan hati-hati.
"Tindakan kita sudah benar, walaupun itu pelanggan tapi saya paling tidak suka jika ada yang merendahkan orang lain. Jika nanti dikemudian hari ada masalah dengan kejadian ini biar saya yang mengurusnya" Terang Adnan.
Mereka yang mendengar hal itu merasa lega, pasalnya kalau sampai terjadi masalah akan menjadi hal buruk tentang citra Mall mereka.
Gita yang sedari tadi memperhatikan Adnan semakin dibuat kagum dengan sifatnya. Dia lalu mencari cara agar dapat lebih dekat dengan Adnan.
"Pak, ini kan udah masuk jam makan siang. Gimana kalau kita makan siang bareng?" Ajak Gita
"Apa jadwal kita abis ini Don? " Tanya Adnan pada Doni yang selalu ikut kemanapun ia pergi.
"Setelah ini jadwal kita kosong Pak" Jawab Doni
"Kalau begitu ayo kita makan siang bersama" Ajak Hanif.
Mereka makan siang bersama di dalam Mall tersebut. Setelah pesanan datang mereka menyantapnya sambil ngobrol santai. Terlihat gita sangat gencar mendekati Adnan dengan duduk disamping Adnan dan membantunya menyiapkan hidangan.
"Tidak usah repot-repot ibu Gita. Saya bisa sendiri. " Tolak Adnan secara halus. Namun Gita terlihat kecewa yang lainnya pun hanya bisa diam.
"Semoga omset kita akan semakin naik buat kedepannya" Kata Hanif
"Iya pak, kami juga selalu berusaha supaya tembus target" Tambah Hendri.
Tapi di sela-sela obrolan mereka dibuat heran dengan tingkah Adnan yang memindahkan sayuran dari piringnya ke piring Nata, karena mereka duduk bersebelahan.
"Abang, kamu ini kebiasaan loh. Kalo nggak suka sayur jangan dikasihin ke aku" Protes Nata.
Karena kebiasaan Adnan yang selalu memindahkan sayuran ke piring Nata karena Adnan tidak terlalu suka sayuran.
Mereka yang mendengar panggilan Nata terhadap Adnan pun semakin heran. (Lebih tepatnya Hendri dan Gita yang heran kan cuma mereka yang belum tahu kalau Adnan dan Nata adalah saudara kandung).
"Nggak baik buang-buang makanan. Inget kata Ibu diluar sana masih banyak yang butuh makanan" Bela Adnan.
"Eheeeemm" Suara Doni menghentikan perdebatan mereka.
Mereka tidak sadar jika bukan hanya mereka yang di meja makan tersebut.
"Oh maaf, mungkin Pak Hendri dan Ibu Gita tidak tahu kalau Nata adalah adik kandung saya. " Ucap Adnan memecah suasana yang agak canggung.
"Hahh...!!! " Ekspresi Gita sambil mulutnya menganga. (Bayangin aja sendiri gimana ya)
"Tahu gitu aku pepet juga Kak Nata. Lumayan nggak dapet Abangnya dapet adiknya juga nggak papa, sama-sama anak orang kaya,, kan MADECA kalo gitu" Batin Gita
"Loh, tapi di CV nggak ada keterangannya Pak, terus Pak Hanif dan personalia juga nggak ngomong apa-apa" Tanya Hendri.
"Karena memang itu maunya Abang. Katanya biar mandiri,tapi kalo bagian personalia dan manager tau siapa saya." Jawab Nata.
"Berarti yang nggak tau siapa Kak Nata cuma aku sama Kak Hendri doang ?" Tanya Gita.
"Iya Ibu Gita" Jawab Doni.
"Tapi kalian tidak usah khawatir, perlakukan Nata sama seperti yang lain jangan bedakan hanya karena stasus dia" Imbuh Adnan.
Setelah menyelesaikan makannya, Adnan dan Doni pamit untuk pergi.
"Kok kak Nata milih kerja jadi SPV sih kan Kak Nata anak yang punya Mall" Tanya Gita.
Semenjak ia tahu kalau Nata adalah anak ke dua keluarga Brawijaya ia semakin gencar mendekati Nata.
"Apa sih Mba Gita, nggak penting pertanyaannya" Jawab Nata sambil meninggalkan Gita.
"Pepet terus jangan kasih kendor" Ledek Hendri.
"Apaan sih Kak, lagi usaha ini. Nggak dapet kakaknya dapet adeknya juga nggak papa. Diapa tau jadi menantu keluarga Brawijaya dijamin MADECA..!! " Kata Gita
"Madeca...?? " Tanya Hendri bingung
"Masa depan cerah Kak Hendri. Gitu aja nggak tahu" Jawab Gita.