
Hari itu, semua pegawai Mall disibukan dengan berbagi kegiatan untuk menyambut kedatangan CEO perusahaan Brawijaya. Semua pegawai kalang kabut untuk memberikan hasil yang terbaik, mulai dari bagian kebersihan, jajaran management dan tentu para pramuniaga yang ada di Mall.
"Katanya yang punya mall ini ganteng loh" Kata Indri
"Bukannya Pak Hendro itu udah tua ya, kok kamu bilang ganteng sih In" Kata Ishi heran dengan ucapan Indri.
"Ishi sayang, Pak Hendro itu udah nggak megang bisnisnya yang disini, sekarang yang gantiin kan anaknya" Terang Rika
"Katanya dia masih lajang loh. Mau kali punya jodoh. Kalau gitu dandan yang cetarlah siapa tau nanti dia lihat aku terus naksir. Hahaha" Kata Indri dengan centilnya.
"Ngarep banget, sadar Mak jangan khayal tinggi-tinggi kalau jatuh sakit" Jawab Ishi sambil geleng kepala melihat tingkah Indri.
"Ya siapa tahukan dia jodoh aku, berkah itu" Kata Indri dengan muka serius.
"Berkah buat kamu, buat dia musibah. Hahaha" Jawab Rika sambil tertawa.
"Terus aja ya kalian ngegrombol ngoceh sana-sini. Bukannya kerja yang bener malah pada ngerumpi semua" Oceh Gita dengan nada keras.
Mereka kocar-kacir setelah mendengar suara Gita yang udah kaya kaleng rombeng. Bukannya tidak berani menjawab hanya saja mereka terlalu malas untuk meladeni Gita. Mereka tahu, kalaupun ucapannya itu di jawab hanya akan menambah masalah dan akhirnya mereka memilih kabur seribu bahasa alias diam.
Setelah Gita pergi, mereka berkumpul kembali untuk melanjutkan obrolan mereka.
"Kok ya kita tadi nggak liat ada Lampir lewat" Ucap Rika sambil tengok kanan-kiri taku Gita balik lagi.
"Kalian sih, terlalu asyik ngobrol jadi mana sadar, kalo ada Nyonya Lampir lewat" Jawab Ishi
"Heleh, kaya kamu nggak ikut ngegosip aja Shi" Jawab Indri.
"Apa iya toh. Haha" Jawab Ishi sambil tertawa
"Hei, cepat siap-siap di tempat masing-masing Bigboss udah nyampek parkiran."
Terlihat dari jauh ada sosok yang sangat mencuri perhatian mereka yang tak lain adalah Adnan. Ia terlihat sangat tampan dengan jas berwarna navy yang dipadu dengan kemeja putih, wajah yang tampan, hidung mancung membuat setiap wanita mengidolakannya.
Adnan yang berjalan dengan dikawal oleh Doni dan Hanif selaku Manager dan disambut oleh staf petinggi Mall tersebut.
Terlihat iya memperhatikan hal-hal yang diterangkan oleh Hanif, tiba-tiba datanglah Hendri, Nata dan Gita. Mereka tampak saling memberikan penjelasan untuk Adnan.
Sedangkan disisi lain Ishi, Rika dan Indri yang nampak sibuk menghadapi pelanggan tetap mereka yang memang terkenal susah untuk dihadapi. Dengan sabar Ishi meladeni tingkah pelanggan itu.
" Bagaimana kalo model yang ini Kak? Ini model terbaru kami" Tawar Ishi sambil menunjukan sebuah model sandal.
"Apa tidak ada lagi model yang lainnya? Apa kalian sudah tidak bisa memenuhi keinginan pelanggan." Jawab pelanggan itu dengan lumayan keras dan terdengar sampai ketelinga Adnan dan jajaran petinggi Mall tersebut. "Aku kira barang yang ada di Mall ini adalah keluaran terbaru, nyatanya. Heh!" Terdengar nada mengejek dari pelanggan itu.
"Maaf Kak, semua model sudah tersedia di meja display. Kakak tinggal pilih saja nanti kami akan carikan ukurannya" Jawab Ishi dengan sopan.
Tapi terlihat pelanggan itu tidak puas dengan jawaban Ishi dan mencari-cari kesalahannya.
"Baiklah, aku ingin model yang itu. Carikan ukuran 39 "
Rombongan Adnan hanya memperhatikan tingkah mereka.
"Maaf kak ini sepatunya" Tawar Ishi sambil memberikan sepatu itu ke pelanggan.
"Pakaikan, bukankah kau dibayar untuk itu" Katanya dengan nada ketus
Ishi mulai memakaikan sepatu itu ke kaki pelanggan, Ishi melakukannya dengan menahan emosi tapi dia tetap memperlihatkan wajahnya dengan senyuman.
"Aaww. Apa kau ingin menyakitiku"