
"Pipi kamu kenapa shi?" Tanya Rika saat Ishi datang dengan pipi merah.
"Kita cerita di gudang aja" Pinta Ishi lalu mereka berdua menuju gudang sepatu. Ishi pun menceritakan kejadian di ruang SPV tanpa ada yang ditambah maupun di kurang.
"Kurang ajar banget sih si Gita itu" Geram Rika.
"Ngapa kamu nggak ngomong aja kamu itu istrinya bigboss yang punya Mall, biar mereka tahu diri"
"Nanti akan ada saatnya" Jawab Ishi.
"Aw.. " Pekik Ishi sambil memegang perutnya.
"Kamu kenapa shi?" Tanya Rika panik.
"Perut aku kram ka" Kata Ishi sambil memegang perutnya.
"Ayo aku antar keluar dulu" Ajak Rika karena tak tega melihat Ishi menahan sakit.
Namun saat Rika memapah Ishi keluar dari gudang, tiba-tiba Ishi jatuh pingsan. Untung Rika dapat menahan badan Ishi agar tidak jatuh ke lantai.
"Hei, ada orang diluar. Tolong Ishi pingsan" Teriak Rika.
Lalu Indri dan Jul datang menghampiri Rika.
"Ishi kenapa?" Tanya Indri panik.
"Nanti aku jelasin. Sekarang lapor dulu ke SPV minta izin buat Ishi pulang. Jangan lupa minta minyak angin sama air" Perintah Rika.
Indri pun berlari ke ruang SPV dan menceritakan kejadian yang menimpa Ishi. Hendri dan Gita langsung menghampiri Ishi. Begitu pun Nata yang sedang berada di ruang SPV karena suatu hal jadi ia harus datang walaupun libur kerja.
"Huh, sok lemah banget sih kamu. Pakai pingsan segala" Cibir Gita ketika sampai di tempat Ishi.
Sedangkan Nata yang mendengar perkataan Gita merasa geram, belum sempat Nata menjawab ternyata sudah dijawab dahulu oleh Rika.
"Hati-hati itu mulut Mbak kalau ngomong. Kita nggak tahu apa yang akan terjadi kemudian" Kata Rika sambil menatap tajam Gita.
"Kalian ini malah ribut, Ishi belum sadar ini" Gerutu Indri yang sibuk mengoles minyak angin dibadan Ishi.
"Bawa pulang aja, sini biar saya antar pulang sekalian salah satu dari kalian ikut" Kata Hendri namun saat tangannya akan menyentuh Ishi Nata menahannya.
"Biar Ishi saya yang urus. Kalian lanjutin aja kerja" Kata Nata dengan muka serius.
Tidak ada yang berani membantah perkataan Nata karena mereka tahu siapa Nata. Kecuali Gita yang protes dengan aksi Nata yang menggedong Ishi ala bridal style.
"Kok jadi kak Nata sih? Sebenarnya apa hubungan Kakak sama Ishi" Pekik Gita
"Bukan urusan kamu" Jawab Nata lalu membawa pergi Ishi.
Sepanjang perjalanan banyak pasang mata yang memperhatikan mereka. Diam-diam ada yang memotret adegan itu, ternyata yang memotret kedekatan itu adalah orang yang sama dengan yang memotret Adnan dan Ishi tempo hari.
"Berita besar ini" Gumam orang itu.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit Nata pun menghubungi Adnan.
📞
Nata: "Bang, temuun aku di RS XX"
Adnan :" Siapa yang sakit, Abang mau siap-siap jemput Ishi"
Nata :"Ishi pingsan. Aku bawa dia ke RS"
Begitu mendengar kabar dari Nata, Adnan langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.
"Kebiasaan" Gerutu Nata.
Nata pun membawa Ishi ke RS XX. Ishi pun langsung ditangani oleh dokter.
"Kenapa Ishi bisa pingsan?" Tanya Adnan ketika sampai dan menemui Nata di ruang tunggu.
"Aku juga belum tahu bang. Tadi waktu aku tiba di Mall aku denger kalau Ishi pingsan, tapi anehnya dipipinya kaya ada bekas tamparan" Jelas Nata.
"Maksud kamu?" Tanya Adnan dengan alis yang menyatu.
"Ya aku sih belum tahu pastinya. Nanti kalau Ishi sadar mending Abang tanya aja" Ide Nata.
"Kalau sampai ada yang nyakitin Ishi, dia bakal dapet pembalasan yang setimpal" Geram Adnan dengan muka merah padam menahan amarah.
Nata pun bergidik ngeri dengan ekspresi Adnan. Pasalnya Adnan tidak pernah sampai terlihat mengerikan seperti itu.
"Keluarga pasien?"Kata dokter ketika keluar dari ruangan.
"Saya suaminya dok. Jadi istri saya sakit apa dok?" Tanya Adnan.
"Sebaiknya Bapak ikut saya ke ruangan" Ajak dokter tersebut.
Adnan pun mengikuti instruksi Dokter namun Nata juga ikut.
"Ya nggak papa, pengen tahu kondisi Ishi aja" Jawab Nata nyengir.
"Jadi ada apa dengan istri saya dok?" Tanya Adnan ketika sudah duduk di ruangan.
"Begini pak, ini diagnosa awal saya, kemungkinan istri bapak hamil. Istri bapak mungkin mengalami kelelahan namun untuk lebih jelasnya nanti silahkan diperiksa pada Dokter kandungan" Jelas sang Dokter.
"Apa dok hamil?" Tanya Nata kaget sedangkan Adnan hanya terdiam antara bahagia dan kaget.
"Tapi pak, terlepas dari istri Bapak hamil atau tidak sebaiknya anda tidak melakukan tindak KDRT" Kata Dokter itu.
"Maksud Dokter?" Tanya Adnan sambil menaikan alisnya.
"Terdapat luka bekas tamparan di muka istri Bapak, seharusnya yang seperti itu tidak boleh dilakukan. Apalagi kalau istri Bapak hamil itu akan mempengaruhi emosi Istri Bapak dan mempengaruhi kondisi janin" Jelas sang Dokter.
"Saya mengerti dok, apa saya sudah bisa menengok istri saya?" Tanya Adnan.
"Silahkan, istri anda juga sudah sadar" Kata Dokter.
Lalu Adnan berlari menuju ruangan Ishi dirawat.
"Dok, apakah kakak ipar saya perlu rawat inap?" Tanya Nata mewakili Adnan karena Adnan sudah buru-buru keluar.
"Biarkan menginap sehari sekalian besok bisa diperiksa dokter kandungan" Jelas Dokter.
"Terima kasih dok" Kata Nata lalu pamit meninggalkan ruangan.
"Sebenarnya apa yang terjadi di Mall. Siapa yang menampar Ishi. Setahuku Ishi tidak pernah mempunyai musuh. Sebaiknya aku cari tahu sebelum Abang yang bertindak. Akan lebih mengerikan jika Abang yang turun tangan" Batin Nata. Ia pun menuju ruang Ishi dirawat.
Ketika Adnan masuk ruangan terlihat Ishi sudah sadar.
"Hai sayang, apa ada yang sakit?" Tanya Adnan sambil mengusap kepala Ishi.
Sedangkan Ishi hanya menggeleng.
"Ini merah kenapa?" Selidik Adnan sambil mengusap pipi Ishi.
Ishi dapat melihat dari sorot mata Adnan yang menahan amarah, jadi dia berinisiatif untuk tidak menceritakan dulu kejadian di Mall.
"Nyium tembok bang" Bohong Ishi.
"Kapan aku pulang?" Tanya Ishi mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Besok kamu baru boleh pulang. Sekalian periksa kesehatan" Jawab Nata yang datang.
"Emang aku sakit apa sih bang. Apa aku sakit parah?" Tanya Ishi dengan mata berkaca-kaca takut karena memang dia tidak pernah memeriksakan kesehatannya ke Dokter.
"Nggak kok, besok cuma cek kesehatan biasa aja" Jelas Adnan yang belum mau mengatakan tentang kehamilan yang belum pasti.
"Udah sekarang kamu istirahat aja. Apa mau makan? " Tanya Adnan.
"Pengen makan ayam gepreknya mang Habib deket Mall itu" Rengek Ishi.
"Kamu dengerkan nat, jadi sana kamu beliin. "Perintah Adnan.
"Kok jadi aku sih bang? Kan calon Bapaknya Abang" Pekik Nata.
"Kan Abang jagain Ishi" Sanggah Adnan dengan mata melotot kearah Nata yang menyebut calon Bapak.
"Kamu jangan ungkit masalah kehamilan dulu kalau belum pasti" Bisik Adnan.
"Calon Bapak apa sih bang?" Tanya Ishi penasaran.
"Nata cuma asal bicara" Kata Adnan
"Kamu mau berangkat apa nggak. Kalau nggak Abang bakal fikir ulang buat mindahin kamu ke kantor pusat" Ancam Adnan.
"Cih, beraninya ngancem. Iya aku berangkat nih" Dengus Nata.
"Adik pintar" Kata Adnan sambil mengusap kepala Nata.
Setelah Nata pergi Adnan pun duduk merenung dengan keadaan Ishi.
"Siapa yang berani nampar istri aku? Kenapa Ishi seolah menutupi kejadian itu? " Batin Adnan.
Sedangkan Ishi terlihat sibuk dengan ponselnya.
* * * * *
Hai kesayangan Mimin,
terima kasih buat yang udah ngikutin karya mimin dan atas dukungannya. Jangan lupa kasih like vote dan komen ya.
Salam sayang dari Mimin. 🙆