My Love My SPG

My Love My SPG
Kamu Kemana?



"Bos, nggak ngejar Ishi? Kasian dia " Ucap Doni ketika memasuki ruangan Adnan.


"Biarin dulu dia tenang. Lagian dia kesini dianter sopir pasti langsung pulang. Ini tadi pihak dari PT. Kharisma minta bertemu dengan kita. Kita urus dulu masalah bisnis, Ishi nggak akan kemana-mana kok" Jawab Adnan, walaupun dia sendiri tidak tenang membiarkan istrinya pergi dengan amarah yang begitu besar.


"Ck, bos! Kelihatan jelas kalau bos ini sedang khawatir." Ucap Doni.


"Iya, tapi kerja sama ini juga penting don." Jawab Adnan frustasi.


"Kau tahu semenjak hamil mood Ishi berubah-ubah, kadang seneng tapi cepet marah, suka uring-uringan" Tambahnya lagi sambil menghela nafas.


"Katanya orang hamil emang kaya gitu bos! Jadi harus ekstra sabar" Ucap Doni.


"Iya don, tadi juga aku udah ngerasa bersalah sama dia cuma gara-gara hal sepele aku marah" Ucap Adnan.


"Ya udah bos, ntar nyampek rumah langsung minta maaf aja" Ide Doni.


"Kalau itu nggak usah disuruh juga bakal aku lakuin" Ucap Adnan.


"Ayo cepat selesaikan kerjaan kita. Semakin cepat selesai semakin cepat kita pulang"


Sepanjang perjalanan pulang, Ishi mencoba menahan tangisnya. Dilihatnya pemandangan sepanjang jalan. Fikirannya entah kemana.


"Pak, tolong berhenti di taman itu ya" Pinta Ishi pada sang sopir ketika melewati sebuah taman kota yang tidak begitu ramai karena memang masih belum terlalu sore.


"Bapak boleh pulang duluan. Saya masih ada urusan"


"Tapi non, kata den Adnan saya harus antar kemana aja non Ishi pergi" Jawab sang sopir.


"Nggak papa, nanti kalau Abang marah sama bapak biar saya yang tanggung jawab" Ucap Ishi.


"Terus nanti non pulangnya gimana?" Tanya sang sopir yang merasa tidak enak menurunkan majikannya dipinggir jalan.


"Nanti saya dianter temen. Udah pak berhenti didepan ya!" Perintah Ishi. Mau tidak mau sopir pun menurunkan Ishi di pinggir jalan dekat taman.


Setelah kepergian mobil itu, Ishi berjalan menyusuri taman dan duduk disalah satu kursi.


Ia pun bingung harus bagaimana air mata yang sudah ditahan tidak dapat dibendung lagi, mau ke kontrakan Rika nggak mungkin, minggat jauh apalagi alangkah kekanak-kanakan sekali jika ia melakukan hal itu. Yang ia inginkan hanyalah menghibur diri. Setelah selesai dengan tangisnya ia pun mengeluarkan benda pipih dalam tasnya.


📩 Ishi :" Kak Nata, temenin aku. Aku tunggu di taman XX"


Pesan singkat Ishi untuk Nata, karena ia fikir Natalah orang yang tepat untuk diajak jalan-jalan sekedar penghilang rasa kecewa.


Tiing,,,


Pesan masuk di ponsel Ishi.


📩 Nata :"Bentar, ini belum jam pulang. Kamu udah izin Abang belum?"


Ishi pun tak membalas pesan Nata. Ia masih duduk sambil memandang sekelompok anak kecil yang bermain disana.


"Kamu ngapain disini? Mau nyari apa? Udah Izin sama Abang belum?" Rentetan pertanyaan dari Nata ketika ia baru sampai.


Mendengar suara yang familiar itu ia pun mendongakkan kepalanya. Ia hanya membalas dengan senyuman atas semua pertanyaan Nata.


"Nih anak ditanyain malah senyum. Waras?" Tanya Nata lagi sambil duduk disamping Ishi.


"Ya kakak nanyanya borongan, kan bingung mau jawab yang mana dulu. Datengnya lama lagi. Udah kering ini nungguin kakak" Dengus Ishi.


"Ya deh maaf, jadi mau kemana? Udah Izin belum?" Tanya Nata lagi.


"Pengen cari yang seger-seger terus yang manis-manis.."


"Stop, kamu mau gemukin badan apa? Cukup itu perut nampung?" Canda Nata.


"Is, apaan sih kak. Ngidam nih" Dengus Ishi.


"Emaknya apa Agaknya?" Sontak Ishi hanya memandang nata dengan tatapan tajam mendengar pernyataan Nata.


"Santai Bu Boss, tapi udah izinkan?" Tanya Nata coba menyakinkan.


"Udah" Bohong Ishi.


"Oke, ayo kita kulineran" Ajak Nata sambil berdiri dari kursi.


Mereka pun berkeliling menjajaki kedai-kedai pedagang kaki lima. Sudah beberapa kali Nata mengajak Ishi untuk pulang, namun selalu ditolak dengan alasan masih ingin ini dan itu. Magrib pun mereka lalui dijalan dan berhenti di masjid. Setelah selesai menunaikan ibadah mereka melanjutkan perburuan makanan kaki lima.


Di kediaman Brawijaya.


Adnan yang sampai rumah setelah magrib, mencari sosok yang selama ini setia menunggunya pulang kerja. Biasanya istrinya itu akan menunggu di teras atau di ruang tamu. Namun ketika ia memasuki halaman rumah tak nampak istrinya.


"Oh, mungkin di ruang tamu" Fikir Adnan. Ia pun melangkahkan kakinya memasuki ruang tamu, namun ia masih tidak dapat menemukan sosok istrinya.


"Assalamualaikum " Salam Adnan.


"Wa'alaikum salam. " Jawab Ibu Nita.


"Bu, Ishi kemana kok nggak nungguin Adnan?" Tanya Adnan langsung.


"Loh, bukannya pergi sama kamu, tadi sore dia izin ke Ibu katanya mau anter makanan buat kamu dari tempat Rika" Jelas sang Ibu.


Adnan pun dibuat kalang kabut mendapati istrinya tidak berada di rumah. Ia pun keluar kembali meninggalkan rumah untuk mencari istrinya.


"Sebenarnya ada apa sih?" Gerutu Ibu Nita setelah kepergian Adnan.


"Kenapa Bu?" Tanya Ayah Hendro dari arah kamar.


" Ishi nyampek sekarang belum pulang terus Adnan tahu itu lalu pergi lagi" Jelas Nita.


"Biarin aja, urusan rumah tangga mereka. Jangan ikut campur" Perintah Ayah Hendro.


"Iya yah, Ibu tahu kok" Lalu mereka menuju ruang makan.


Di dalam mobil Nata sudah melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul Delapan malam.


"Shi pulang yuk, ntar dicariin Abang?" Ajak Nata.


"Bentar kak, Abang nggak akan nyariin. Aku masih mau beli itu" Tunjuk Ishi pada kedai angkringan.


"Masih muat itu perut?" Tanya Nata heran.


"Kok nanyanya gitu. Kakak nggak ikhlas ya nganterin aku?" Tanya Ishi dengan muka sedihnya.


"Hei, kakak ikhlas kok, tapi ini udah malem. Ya udah tapi ini yang terakhir ya, setelah ini kita pulang?" Bujuk Nata.


Ishi pun tak menjawab, ia hanya mengedarkan pandangannya di jendela mobil.


"Kamu ada masalah?" Selidik Nata yang curiga akan sikap Ishi.


Tidak ada sautan dari Ishi yang terdengar hanyalah suara isak tangisnya yang sudah dari tadi ia tahan.


"Hei, kenapa? Cerita sama Kakak? Jangan dipendam sendiri?" Kata Nata sambil menepikan mobilnya.


Ishi pun menceritakan semua kejadian yang dialaminya di kantor Adnan.


"Sebenarnya aku percaya sama Abang, yang buat aku marah itu Abang tega bentak aku padahal aku cuma asal jawab aja. Abang juga bukannya jelasin malah marah balik ke aku" Tambahnya lagi.


"Iya kakak tahu Abang salah, tapi kamu jangan langsung nggak mau pulang. Kalau Abang nyari n gimana? Pasti kamu bohong masalah izin?"


Ishi pun hanya menganggukkan kepalanya.


"Terus nanti kalau Abang nggak nemuin kamu terus dia frustasi, kecelakaan.."


"Stop kak, kok Kakak malah nakutin aku sih?" Ucap Ishi memotong perkataan Nata.


"Shi, Abang itu sayang banget sama kamu, Kakak jamin itu. Jadi ayo kita pulang. Hubungin Abang dulu, pasti dia panik nyariin kamu" Jelas Nata.


"Ponsel aku mati, pakai ponsel Kakak aja" Ucap Ishi sambil memperlihatkan ponselnya.


"Sama... " Mereka pun tertawa bersama.


Sedangkan di mobil lain, Adnan nampak bingung harus mencari istrinya kemana. Ia sudah mendatangi kontrakan kedua sahabatnya namun hasilnya nihil. Lalu ia mencoba menghubungi Nata tapi tidak tersambung. Berkali-kali ia mencoba menghubungi ponsel Ishi namun tidak tersambung.


"Kamu kemana sayang... ?" Gumam Adnan.