My Love My SPG

My Love My SPG
Bukan Licik Hanya Cerdik



"Apa yang terjadi dengan adik saya Pak Doni?" Tanya Ria saat Doni mengantarkan Adri ke kediaman mereka.


"Nanti kita bicarakan di dalam saja bu" Jawab Doni sedangkan Adri sudah tak berdaya lagi, bahkan untuk bicara pun ia harus menahan perih disudut bibirnya.


Setelah sampai didalam Doni pun menceritakan kejadian antara Adri dan Adnan. Ria hanya menatap adiknya dengan tatapan tak percaya bahwa adiknya sungguh berani membuat masalah dengan keluarga Brawijaya.


"Adri kan Kakak udah bilang, kamu jangan buat masalah dengan keluarga Brawijaya. Kenapa kamu buat kita kaya gini?" Geram Ria.


"Kakak diem ajalah. Ini urusanku biar aku yang selesaikan. Kakak nggak usah ikut campur" Jawab Adri dengan nada tinggi sambil menahan sakit.


"Sebaiknya anda panggil dokter saja Bu Ria, soalnya tadi saya mau bawa Pak Adri ke Rumah Sakit tapi beliau tidak mau" Ucap Doni.


"Kau kira aku mau mempermalukan diriku sendiri masuk Rumah Sakit gara-gara kalah berkelahi?" Bentak Adri.


"Seharusnya anda berfikir seperti itu sebelum mengusik wanitanya bos, sekarang ada baru memikirkan tentang malu itu sudah terlambat" Batin Doni.


"Lalu kau mau bagaimana? Apa kau tahu aku sudah pusing mengurus masalahmu dengan wanita-wanita jal***mu" Pekik Ria.


"Kak, diamlah. Aku akan menghubungi pengacara kita untuk menuntut Adnan bre***** itu" Geran Adri.


"Apa kau ingin menambah masalah lagi?" Pekik Ria sambil memijat pelipisnya.


"Maaf pak Doni lalu bagaimana tentang kontrak kita atau masalah adik saya?" Tanya Ria.


"Maaf bu, untuk masalah itu biar pak Adnan yang membahasnya dengan anda. Saya disini hanya untuk mengantarkan Bapak Adri" Jawab Doni.


"Kalau begitu, saya permisi dulu " Pamit Doni lalu pergi meninggalkan kediaman mereka.


Setelah keluar dari kediaman Keluarga Adri, Doni langsung menghubungi Adnan.


📞 " Bos, kayaknya Adri mau bawa masalah ini ke jalur hukum? Apa yang akan kita lakukan?"


… … …


"Baiklah kalau bos maunya kaya gitu, aku siapin semua berkasnya" Ucap Doni lalu mematikan panggilan.


* * * * *


"Ayo pulang sayang, masalah kerjaan besok lagi aja" Ajak Adnan sambil membelai pipi Ishi.


"Iya nak, kamu pulang dulu. Istirahat di rumah kalau mau nyelesein kerjaan besok lagi aja, nggak akan ada yang nuntut kamu kok walaupun kamu nggak nyelesein kerjaan kamu disini. Iyakan pak Manager?" Ucap Nita sambil memandang Hanif.


"Be.. benar bu, anda tidak perlu memikirkan masalah pekerjaan" Ucap Hanif gugup.


"Ayo kita pulang saja, masalah kerjaan nggakbusah difikirkan. " Ajak Hendro.


Ishi pun menjawab dengan anggukan kepala.


Drrrt... Drtttt


ponsel Adnan berdering, setelah memastikan siapa yang menghubungi Adnan lalu mengangkatnya.


"Sebentar ya sayang, Abang angkat telpon dulu. "


📞


"Kenapa Don, ?"


……………


"Jadi dia maunya masalah tadi dibawa ke jalur hukum. Oke, kamu siapin file-file kontrak kerjabkita dengan PT. Bina Citra. Ayo temui mereka, kau kirim saja alamat kediaman mereka. "


Ucap Adnan lalu mematikan sambungsn telepon. Semua orang yang ada di ruangan itu mendengar percakapan antara Adnan dan Doni mereka pun menduga-duga kalau Adri akan melaporkan ke pihak kepolisian.


"Dari kak Doni? Jadi Adri mau laporin Abang ke polisi?" Adnan pun menganggukan kepalanya.


"Maaf ya Bang, gara-gara aku... " Belum sempat Ishi Melanjutkan kalimatnya namun sudah dihentikan oleh Adnan.


"Hei, ini bukan salah kamu. Mereka nggak akan berani buat laporin Abang. Paham?" Kata Adnan sambil mengusap pucuk kepala Ishi.


"Hem" Jawab Ishi singkat.


Adnan pun menghubungi Ria selaku pihak dari PT. Bina Citra.


📞


"Siang Ibu Ria? Ini saya Adnan Brawijaya, ada yang mau saya bicarakan tentang kesepakatan kerjasama kita dan kelakuan adik anda"


…………


"Baik, kalau begitu saya akan datang ke kediaman anda" Ucap Adnan lalu mematikan sambungan telepon.


"Kamu udah ada rencana nak buat lawan mereka?" Tanya Hendro.


"Abang mau datengin rumah Adri? Aku ikut ya?" Rengek Nata.


"Kan kamu lagi kerja! Ngapain ikut ?" Jawab Adnan.


"Pokoknya ikut. Masalah kerjaan ada pak Hanif, benar kan pak?" Kata Nata sambil memandang pak Hanif dengan tatapan mengintimidasi.


"Be.. benar pak" Jawab Hanif gugup.


"Ajak aja adik kamu itu, selesaiin masalah ini dengan cepat" Perintah Nita.


Saat mereka semua keluar ruangan, banyak pasang mata yang memperhatikannya dengan tatapan heran. Bagaimana bisa seorang SPG sangat dekat dengan keluarga Brawijaya bahkan memimpikan saja mereka tidak pernah.


Setelah mengantarkan Ishi dan keluarganya pulang, Adnan dan Nata bergegas ke rumah Adri karena Doni juga sudah menunggu disana.


Tok.. Tok..


Suara pintu diketuk, setelah pintu dibuka nampaklah Ria menyambut kedatangan Adnan, Nata dan Doni.


"Silahkan masuk pak" Ucap Ria.


Mereka pun masuk ke ruang tamu dan ternyata disana sudah ada Doni beserta pengacaranya.


"Ternyata dia sudah mengundang seorang pengacara" Batin Adnan sambil mengangkat sebelah sudut bibirnya.


"Silahkan duduk pak" Ucap Ria mempersilakan mereka untuk duduk.


"Langsung saja, saya disini untuk menjelaskan "


"Kau tidak usah berbelit-belit, pada intinya aku akan melaporkanmu atas tindakan penganiayaan" Ucap Adri dengan memotong percakapan Adnan.


"Baik, kalau itu maumu" Ucap Adnan sambil menarik nafas.


"Aku pun juga bisa melaporkanmu atas tuduhan yang sama, apa kau ingat kau sudah memukul istriku?" Tanya Adnan dengan senyum devilnya.


"Bukan hanya itu kami pun akan memutuskan hubungan kerjasama antara kita. Memang pihak kami akan rugi tapi kalian juga pastinya akan rugi benar begitu bu Ria?" Ucap Nata.


"Mungkin pak Adri tidak terlalu paham akan isi kontrak kerjasama kita sehingga dia mengancam akan memutuskan kontrak secara sepihak" Tambahnya lagi sambil memandang tajam Adri.


"Don, berikan semua berkas kerjasama kita dan rekaman CCTV saat Adri melecehkan istriku dengan kata-katanya dan memukulnya dengan tangan kotornya itu" Ucap Adnan geram jika mengingat kejadian itu.


"Ini, silahkan anda lihat. Itu hanya salinan saja aslinya ada pada kami" Ucap Doni sambil meletakkan berkas diatas meja.


"Jadi pilihan ada pada anda Ibu Ria dan Pak Adri, jika kalian ingin melanjutkan ke jalur hukum saya siap. Mari kita sama-sama hancur tapi pasti akan lebih hancur keluarga anda dibandingkan saya. Kasus ini belum tercium media, bagaimana kalau sampai media tahu jika penerus Bina Citra masuk bui gara-gara kalah berkelahi karena mengganggu istri dari Adnan Brawijaya ?" Ucap Adnan dengan nada mengejek.


"Ternyata seorang Adnan Brawijaya sangatlah licik" Cibir Adri.


"Hei bung, aku bukanlah licik hanya cerdik memikirkan solusi yang baik untuk kita. Kau tahu di dunia yang kita geluti ini kadang sikap licik maupun cerdik sangat dibutuhkan" Saran Adnan.


"Baiklah Pak Adnan, mari kita berdamai saja" Ucap Ria.


"Kak, kenapa kau mudah sekali digertak?" Bentak Adri.


"Diamlah, sudah cukup masalah yang kau timbulkan. Jangan buat aku tambah pusing" Oceh Ria.


"Baik, tapi saya ingin satu syarat" Ucap Adnan.


"Kau breng***, kenapa kau minta syarat segala?" Bentak Adri.


"Kau berani memaki Abangku?" Ucap Nata langsung berdiri karena tersulut emosi.


"Nata" Ucap Adnan lalu Nata kembali duduk.


"Apa syarat anda?" Tanya Ria.


"Jangan pernah mengganggu istriku lagi dan minta maaflah atas ucapanmu kepadanya" Pinta Adnan.


"Aku tidak sudi" Pekik Adri.


"Hei, kalau kau jantan akui kesalahanmu" Ucap Doni.


"Kami akan memenuhi syarat dari anda" Ucap Ria.


* * * * * * *


Hai kesayangan Mimin. Maaf mimin telat UP banyak kerjaan di dunia nyata. Maaf kalau bab ini agak kurang kena tapi tenang pemirsa, akan ada hal lebih seru lagi dibab selanjutnya. Jadi baca terus karya Mimin.


Terima kasih buat yang udah setia dengan karya mimin. Jangan lupa kasih like vote yang banyak yaaaa.


Salam sayang Mimin. 🙆