
"Bos, siang ini ada pertemuan dengan PT. Angkasa" Ucap Doni saat berada di ruangan CEO.
"Iya, nanti kalau perwakilannya udah dateng kamu suruh aja masuk ruangan saya" Ucap Adnan.
"Don, aku ingin makan soto ayam yang panas dan pedes. Bisa pesenin nggak?"
"Kalau yang panas ya beli di tempatnya langsung bos" Jawab Doni.
"Kamu nggak lihat kerjaan udah numpuk" Ucap Adnan.
"Kamu kan bisa nyuruh OB buat manasin kuahnya"
"Iya bos. CEO mah selalu benar" Cibir Doni.
"Jadi nggak ikhlas? Mau bonus bulan ini nggak keluar?" Ancam Adnan.
"Ampun bos, iya deh ini berangkat aku pesenin. " Ucap Doni lalu keluar dari ruangan.
"Istrinya yang hamil tapi suaminya yang banyak ngidam" Keluh Doni.
Setelah mengantarkan makanan pesanan Adnan dan menemani Adnan makan, Doni pun kembali ke ruangannya.
Tok.. Tok.. Tok
"Masuk" Terdengar suara Adnan dari dalam ruangan.
"Bos, perwakilan dari PT. Angkasa sudah datang" Ucap Doni.
"Iya. Persilahkan masuk" Jawab Adnan.
Masuklah seorang wanita berpenampilan sexy. Memakai kemeja dengan kacing atas yang terbuka dan rok diatas lutut.
"Siang Pak, perkenalkan saya Ana perwakilan dari PT. Angkasa" Ucap Wanita itu memperkenalkan diri pada Adnan.
"Adnan Brawijaya" Kata Adnan sambil menjabat tangan wanita itu.
"Ternyata aslinya lebih tampan . Sayang udah punya bini tapi bukan ana namanya kalau tidak bisa menaklukkan Adnan Brawijaya " Batin Ana.
"Apa-apaan wanita ini, pakaiannya tidak mencerminkan orang yang profesional tapi malah mendekati seorang wanita murahan " Batin Adnan.
"Siang Ibu" Sapa sang resepsionis pada Ishi.
"Siang juga, Abang ada? Maksudku pak Adnan" Ucap Ishi sambil tersenyum.
"Bapak ada diruangannya bu. Perlu saya antar?" Tawar sang resepsionis.
"Tidak perlu, biar saya sendiri saja. Saya permisi dulu " Ucap Ishi sambil berlalu meninggalkan meja resepsionis.
"Istri pak Adnan ramah ya" Kata resepsionis A.
"Iya, katanya dulu dia itu bekerja sebagai SPG di Mall Brawijaya tahu!" Ucap resepsionis B.
"Yang bener? Wih cinderella dunia nyata dong" Ucap resepsionis A.
Di ruangan CEO.
"Bos, saya permisi dulu buat fotocopy berkas ini" Pamit Doni setelah pembicaraan mereka selesai. Di ruangan itu ada tiga orang yaitu Adnan, Doni dan Ana.
"Kamu kan bisa suruh Erin buat fotocopy berkas" Jawab Adnan yang merasa risih jika harus berdua dan berada di satu ruangan dengan Ana.
"Erin lagi antar berkas ke Mall Brawijaya. Bos lupa?" Bantah Doni.
"Ya udah nggak usah lama-lama" Ucap Adnan yang enggan ditinggal Doni.
"Kesempatan " Batin Ana.
"Maaf Pak Adnan dasi anda miring" Ucap Ana sambil membetulkan letak dasi Adnan.
Adnan pun tidak dapat mengelak karena serangan Ana yang tiba-tiba.
"Abang..... !!!!" Tiba-tiba suara terdengar setelah pintu terbuka.
Bagaikan seorang suami yang sedang tertangkap selingkuh oleh istrinya. Begitulah Kira-kira ekspresi Adnan.
"Sa.. Sayang, ini nggak seperti yang kamu fikir" Ucap Adnan menyingkirkan tangan Ana dan beranjak menghampiri Ishi.
Ishi pun memandang dengan tatapan tajam sedangkan Adnan dibuat salah tingkah dengan pandangan Ishi.
"*Sial, gagal. Apa ini istrinya? Ternyata istrinya cantik juga " Batin Ana.
"Ih, apaan itu pakaiannya ? Mau kerja apa mau godain laki orang?" Batin Ishi*.
Ana pun langsung berdiri dan memperkenalkan diri pada Ishi.
"Perkenalkan Ana perwakilan dari PT. Angkasa rekan bisnis pak Adnan" Ucapnya sambil mengulurkan tangan.
"Ishika istri Adnan Brawijaya "Jawab Ishi sambil menekan kata istri dan menyambut uluran tangan Ana.
"Anda datang kesini buat kerja atau buat goda suami saya?" Tanya Ishi to the point.
"Saya.... "
"Kalau anda niat bekerja seharusnya anda datang kesini untuk masalah pekerjaan bukan menggoda laki orang dengan sikap anda. Saya merasa miris dengan wanita seperti anda, berpendidikan punya karir yang cemerlang tapi sayang suka milik orang" Cibir Ishi memotong perkataan Ana.
Jleeeb.
Bagai tersambar petir mendengar perkataan dari Ishi, Ana pun menahan amarah dengan muka yang sudah memerah antara marah dan malu. Adnan hanya tersenyum melihat keberanian istrinya tersebut.
"Udah sayang" Ucap Adnan sambil menghampiri Ishi.
Cup
Ishi pun mengecup singkat bibir Adnan, sedangkan Adnan membelalakkan matanya kaget dengan serangan Ishi begitu pun Ana, ia merasa tercengang dengan sikap istri Adnan Brawijaya.
"Dia suami saya, punya saya dan ayah dari anak saya. Tidak ada ruang untuk anda jadi dari pada anda buang waktu silahkan cari lelaki lain untuk anda goda yang jelas itu bukan suami saya" Ucap Ishi sambil memandang Ana tajam.
"Saya harap kejadian seperti tadi tidak terulang lagi"
"Baiklah saya permisi" Pamit Ana dengan muka merahnya.
"Sial, ternyata istrinya mengerikan. Tapi jangan senang dulu aku tidak semudah itu berhenti. Kalau aku sudah menargetkan sesuatu maka aku harus mendapatkannya " Ucap Ana dalam Hati.
"Astaga" Ucap Ana yang berpapasan dengan Doni di depan pintu.
"Permisi" Tambahnya lalu pergi meninggalkan Doni.
Namun Doni tidak masuk kedalam ruangan. Ia menunggu didepan pintu karena tidak mau terseret dengan permasalahan antara Bos dan istrinya.
"Sayang.. "
"Jadi kerjaan Abang kaya gini? Ngomongnya kerjalah lemburlah ketemu klien. Nggak tahunya banyak bonusnya. Iya bonus, bonus lihat yang kaya gitu. Pantesan aja betah di kantor. Aku mau ikut juga nggak boleh yang alasan ntar capek, yang ini itu, hah... Jadi ini alesannya" Kesal Ishi.
"Nggak gitu sayang, Abang bisa..."
"Udahlah bang, nggak usah alesan. Aku ini lagi hamil bang, tapi Abang malah main gila sama orang. Aku nggak mau ya anak aku nanti waktu lahir tahu kelakuan ayahnya yang kaya gitu" Ucap Ishi dengan mata berkaca-kaca.
"Anak kita, bukan anak kamu doang. Kan Abang ikut andil dalam pembuatannya" Jawab Adnan mencoba mencairkan suasana.
"Abang ini terlalu ya, aku tuh marah sama Abang" Ucap Ishi sambil meletakkan kotak nasi yang dibawanya.
"Makanya dengerin penjelasan Abang." Ucap Adnan pandangannya pun tertuju pada kotak nasi yang dibawa Ishi.
"Ini buat Abang sayang?"
"tadinya mau buat Abang tapi nggak jadi ini buat kak Doni aja" Ucap Ishi.
"Kok buat Doni, suami kamu itu Doni apa Abang?" Ucap Adnan yang kesal dengan jawaban Ishi.
Tess,,
Mata indah Ishi pun mengeluarkan air mata yang sejak tadi sudah ia tahan. Adnan pun merasa menyesal dengan nada bicaranya pada Ishi.
"Abang itu bukannya jelasin masalah tadi tapi malah bentak aku cuma gara-gara jawaban aku tadi" Ucap Ishi dengan air mata yang sudah mengalir.
"Maaf bukan maksud Aba.. "
"Udahlah, aku mau pulang." Ucap Ishi lalu pergi meninggalkan ruangan Adnan.
Ketika Adnan hendak mengejar istrinya, ponselnya berbunyi. Ia tahu itu telfon penting makanya ia sempatkan untuk mengangkat telfon itu karena ia fikir masih bisa mengejar istrinya.
Diluar ruangan sudah ada Doni, Ishi pun tidak memperdulikan itu. Ia sibuk mengusap air matanya supaya tidak menarik perhatian karyawan di perusahaan suaminya.
"Gila, Ishi ternyata seberani itu. Bos aja nyampek diem tak berkutik. Istri mengerikan" Gumam Doni.