
Keesokan paginya, Ishi disibukan dengan kegiatan pagi seperti mempersiapkan keperluan suaminya.
"Sayang, kamu hari ini shift apa?" Tanya Adnan.
"Shift siang, kenapa?" Tanya balik Ishi.
"Sepi, Abang pulang tapi nggak ada kamu di rumah" Jelas Adnan.
"Maaf ya bang, aku egois. Aku masih tetep aja pengen kerja" Kata Ishi dengan wajah menunduk.
"Nggak papa. Abang sabar kok nunggu kamu sampai kamu mau resign sendiri tanpa harus Abang paksa" Kata Adnan sambil mengelus pipi Ishi.
"Makasih ya bang buat pengertiannya " Jawab Ishi sambil tersenyum.
Setelah kepergian Adnan, Ishi melanjutkan dengan beres-beres rumah.
Drrrt... Drttt
Ponsel Ishi pun bergetar ternyata ada panggilan masuk dari keluarganya di kota B.
📞
"Assalamualaikum bu" Kata Ishi.
"Wa'alaikum salam nak. Kamu apa kabar?" Tanya Ibu Ishi.
"Baik bu, kabar Ibu sama Ayah gimana?" Tanya Ishi.
"Alhamdulillah baik. Kamu masih kerja ya nak?" Tanya Ibu hati-hati.
"Iya bu, memang ada apa bu?" Tanya Ishi.
"Kamu nggak kepikiran buat berhenti? Kan kalian udah rumah sendiri. Nanti siapa yang ngurusin suami kamu?" Tanya Ibu Ishi.
"Tapi Abang nggak pernah larang aku buat kerja kok bu" Jawab Ishi.
"Ya memang bener suami kamu nggak ngelarang tapikan kamu punya tanggung jawab buat ngurusin dia. Kamu nggak usah fikirin kami yang ada disini. Ibu udah cukup bahagia kalau lihat anak ibu bahagia. Kami disini udah baik-baik aja. Biaya sekolah adik kamu juga udah lunas semua. Kamu nggak perlu mikirin kami lagi. Yang namanya suami pasti bakalan bahagia kalau saat pulang kerja istrinya menyambut di depan rumah. " Jelas Ibu Ishi.
"Iya bu, nanti Ishi fikurin lagi" Jawab Ishi.
"Ya udah hati-hati disana ya nak. Assalamualaikum " Pamit Ibu Ishi.
"Wa'alaikum salan" Jawab Ishi sambil mematikan sambungan telepon dari orang tuanya.
"Benar kata Ibu, aku terlalu egois mikirin diri aku sendiri tanpa mikirin gimana perasaan Abang. Mungkin udah saatnya aku keluar dari tempat kerja " Batin Ishi.
"Hai shi, kenapa bengong aja" Tegur Indri saat mereka berada di ruangan istirahat.
"Nggak papa. Ayo masuk" Ajak Ishi.
"Hai, kenapa kamu nggak bales pesan dari aku?" Tanya seseorang ketika Ishi berada di dalam Mall.
"Maaf, saya sedang sibuk" Jawab Ishi mencoba menghindar dari pertanyaan Adri karena saat bekerja tidak diperbolehkan menerima tamu pribadi.
"Baiklah istirahat nanti aku tunggu di restoran itu" Kata Adri sambil menunjuk salah satu restoran.
"Maaf saya tidak bisa" Jawab Ishi.
"Kalau kamu tidak bersedia, maka aku akan terus mengganggumu" Ancam Adri.
"Tolong jangan seperti ini, saya sedang bekerja" Kata Ishi dan ketika dia menoleh tak jauh dari tempat mereka berbicara ada Gita yang memperhatikan mereka.
"Kalau kamu masih menolak maka aku tidak akan pergi dari sini" Kata Adri.
"Baiklah" Ucap Ishi yang terpaksa mengiyakan ajakan Adri karena takut dengan Gita.
"Enak banget ya kamu disini terima tamu pribadi. Udah mulai berani melanggar SOP" Tegur Gita ketika Adri sudah meninggalkan Ishi.
"Maaf mbak, tadi cuma temen yang menyapa saya" Alasan Ishi.
"Awas aja lain kali kamu ketahuan kaya gitu lagi" Ancam Gita lalu pergi meninggalkan Ishi.
"Selamat" Batin Ishi sambil mengelus dadanya.
"Shi, tadi itu orang yang kemarin minta nomor kamu kan?" Tebak Rika.
"Iya" Jawab Ishi.
"Mau apa dia kesini lagi? Jangan diladeni inget udah punya laki" Saran Rika.
"Iya paham kok. Tadi dia ngajak makan bareng terpaksa aku iyain. Habis tadi ada si Nyonya Lampir yang merhatiin kita. Dia juga nggak mau pergi sebelum aku jawab iya" Jelas Ishi.
"Mending kamu izin sama suami kamu deh. Takutnya ntar ada salah paham" Saran Indri yang tiba-tiba datang.
"Tumben anak Emak pinter" Kata Rika sambil mengacak-acak rambut Indri.
"Apaan sih mak, emang aku pinter dari dulu" Dengus Indri.
"Iya, nanti aku izin Abang dulu" Kata Ishi.