
Beberapa hari berlalu dan aku masih terus mengabaikan Kak Fahmi. Pesan dan teleponnya selalu aku abaikan. Aku bingung bagaimana harus bertindak. Hingga pada Sabtu malam aku mengajak Kak Fahmi untuk bertemu dan ia menyetujuinya. Aku menunggu Kak Fahmi di teras rumah cukup lama dan Kak Fahmi pun akhirnya muncul.
"Maaf ya kamu kelamaan nunggu."
"Tak apa Kak."
"Oh ya, tumben nih kamu ngajak aku ketemu ada apaan?"
"Ada yang mau aku omongin ke kamu Kak."
"Oh ya? Sebelumnya nih buat kamu." Kak Fahmi memberiku sekotak cokelat dan setangkai bunga mawar merah.
Dalam hatiku, aku merasa benar-benar tidak berguna! Bagaimana bisa aku menyakiti orang yang begitu tulus menyayangiku ini.
"Tapi ini bukan hari valentine kan."
"Memang bukan. Aku hanya bingung aja, gimana caranya biar kamu nggak cuekin aku lagi. Hehehe."
"Terima kasih sebelumnya. Tapi rasanya aku nggak bisa membalas ini semua."
"Tak apa. Aku hanya ingin bikin kamu seneng aja. Oh ya tadi katanya kamu mau ngomong sesuatu?"
Aku mencoba menghela nafas panjang untuk membuatku tenang. Rasanya gugup harus mengatakan yang sebenarnya. Sambil memandang langit yang mendung, aku mulai berbicara.
"Kak, apa kamu pernah merasa bingung ketika berada di ujung jurang yang saat itu kabut hitam melanda di sekelilingmu. Kamu ingin melompat tapi tak tau dimana jalannya."
"Kak Fahmi, maaf! Maaf benar-benar minta maaf. Aku nggak bisa terusin lagi. Aku nggak bisa membalas ketulusanmu."
"Kamu ingin kita putus?"
"Iya. Aku nggak mau terus bikin kamu kecewa."
"Tapi kita baru pacaran, Fanda. Apa kamu nggak bisa pertimbangkan lagi?"
"Maaf, Kak. Mungkin akan lebih baik jika kita berteman saja."
"Baiklah jika memang itu yang terbaik. Aku menerimanya dengan baik yang penting aku masih bisa berteman denganmu."
"Maaf Kak Fahmi"
"Sudahlah tak apa." Jawab Kak Fahmi sambil mendekapku.
Setelah itu Kak Fahmi pun pamit pulang dan berlalu tanpa menoleh lagi. Aku bersalah tapi ini hal terbaik yang bisa kulakukan.
Tiga bulan sudah aku putus dari Kak Fahmi dan seperti biasa, aku tak pernah bisa sendiri. Baru putus beberapa hari aku sudah mulai di dekati banyak laki-laki. Aku memang belum mau berpacaran lagi. Meski banyak yang mengutarakan hatinya tapi aku masih belum terlena pada seorangpun. Hingga pada suatu hari aku kenal dengan seorang laki-laki. Dia lumayan tinggi dan cukup menawan. Namanya adalah Awan. Dari banyaknya pria yang mendekatiku, hanya Awan yang bisa membuatku terlena akan kata-kata manisnya. Tak butuh waktu lama untuk kita berpacaran. Anehnya kenapa aku bisa tertarik pada seseorang karna gombalannya yang kelewat manis. Rata-rata laki-laki yang bermodal gombalan adalah laki-laki yang 'ada maunya' aja. Dan itu benar saja, karna baru saja kita jadian dia langsung saja mengajakku untuk berhubungan badan. Kami pun melakukannya di kamar kos-nya Awan yang kebetulan cukup dekat dengan rumahku. Cukup lama tak 'begituan' rasanya nikmat juga, aku cukup menikmatinya. Setelah puas bercengkrama, Awan mengantarku pulang ke rumah dengan jalan kaki dan sambil mengobrol. Sesampainya di rumahku, Awan mencium kening dan bibirku.
"Sampai jumpa lagi, baby. Love you!"
"Bye, sayang. Love you too. Hati-hati di jalan ya!"