
Sejak Ibu memutuskan untuk pergi dari rumah, suasana rumah terasa sunyi. Tak ada lagi Ibu yang selalu marah-marah tanpa alasan, tak ada lagi Ibu yang selalu memukuliku, tak ada lagi pelampiasan amarah Ibu. Semua itu tak membuatku senang karna Ibu pergi, meski di dalam hati aku merasa kesal atas apa yang sudah Ibu lakukan padaku, aku masih tetap menghargainya sebagai Ibu yang sudah melahirkanku. Tidak ada lagi kebahagiaan di rumah ini. Setiap sudut dinding rumah ini menjadi saksi atas hancurnya keluargaku. Di sudut kamar aku masih melihat kesedihan dan amarah di wajah Ayahku, namun ia berusaha sebisa mungkin untuk tetap tegar menghadapi semuanya. Ia masih harus bekerja dan juga mengurusku dan kedua adikku. Rasa terpukulku seakan semakin membuatku tenggelam dalam kekecewaan. Merasa jenuh dengan semuanya, aku memilih untuk keluar bermain sepulang sekolah bersama teman-temanku hingga malam hari. Meski aku masih bermain didekat rumah, lebih tepatnya di rumah temanku yang bernama Chika. Aku bisa menghabiskan waktu hampir seharian disana bahkan sampai menginap. Aku merasa disini aku bisa melupakan semua masalahku sejenak. Aku bisa tertawa, bernyanyi bahkan bercanda dengan teman-temanku, namun akan kembali murung ketika aku pulang ke rumah. Hampir setiap hari aku lebih sering berada di luar rumah tanpa tahu waktu, namun tak pernah sekalipun ada yang memperhatikanku atau sekedar menegurku. Sesaat aku berfikir aku sudah tidak penting lagi karna kelurgaku saja sudah hancur. Disinilah aku mulai bebas melakukan apapun untuk melampiaskan segala beban di hatiku. Aku mulai bergaul dengan siapapun itu tidak peduli dia orang baik atau tidak, dalam fikirku selama aku bisa melupakan semuanya sejenak itu lebih baik. Dibelakang teman-temanku, aku mulai menjadi seorang gadis liar yang tak tahu aturan. Berada di lingkungan yang kurang baik membuatku hampir saja terjerumus dengan minuman keras. Saat itu aku pikir dengan banyak minum sampai mabuk aku bisa melupakan segala beban hatiku. Aku melihat orang minum sampai mabuk bisa lupa dengan segalanya. Namun di dalam hati kecilku, aku masih bisa menahan egoku untuk tidak terjerumus. Aku kembali berpikir bahwa dengan aku mabuk-mabukan tidak akan menyelesaikan semua masalah, yang ada hanya merusak diriku sendiri. Keseharianku bersama teman-temanku membuatku begitu dekat dengan semua keluarga dari teman-temanku ini. Bahkan aku sudah menganggap mereka seperti keluarga keduaku. Namun diluar pengetahuan teman-temanku, aku sempat begitu dekat dengan salah satu kakak Chika. Berawal dari sering bercanda bersama, aku mulai merasa nyaman dengan kakak Chika yang bernama, Rio. Hal yang tidak kudapatkan dari keluargaku sendiri bisa aku rasanya saat bersama Kak Rio. Ya, bersama Kak Rio aku bisa merasakan bagaimana itu kasih sayang dan rasa perhatian. Kedekatanku bersama Kak Rio pun terus berlanjut. Setiap malam setelah teman-temanku yang lain pulang, aku masih tetap tinggal di rumah Chika. Aku masih saja ngobrol dengan Kak Rio dan teman cowok yang lain. Hingga dalam keheningan malam Kak Rio berkata padaku, "Bolehkan aku menyayangimu lebih, Fanda?". Aku masih terkejut dengan apa yang Kak Rio katakan. Belum sempat aku menjawab, Kak Rio berkata lagi padaku, "Bolehkah aku memiliki bibir manis ini?" Sambil mendekatkan wajahnya padaku. Tanpa berkata, aku hanya bisa menjawabnya dengan membalas ciuman Kak Rio. Meskipun di depan kami masih ada satu teman cowok tapi kami tak peduli akan kehadirannya dengan terus berciuman, dia pun tidak peduli dan terus bermain dengan ponselnya.