
Aku masih terus menjalani hari-hariku yang begitu berat. Masih dengan revisi harianku karna ulah Pak Toni. Aku hanya bisa bebas dan santai setelah jam kerjaku selesai. Aku selalu menghabiskan waktuku untuk online facebook. Facebook adalah cara satu-satunya yang bisa menyatukanku dengan semua teman-temanku. Aku masih bisa bercanda dan segala hal tentang kegilaan kami. Saat semua teman-temanku sedang offline, aku jadi bosan sendiri. Namun tiba-tiba ada yang mengirimiku pesan inbox. Dia memintaku untuk mempromosikan lagunya. Aku pun menyetujuinya untuk mempromosikan lagunya di beberapa akun sosmedku, kala itu hanya ada Facebook dan Twitter. Sesaat setelah aku selesai mempromosikannya, dia mengirimiku pesan inbox lagi.
***Wah terimakasih banyak ya. Nggak nyangka kamu beneran mau promosiin lagu aku.
Iya sama-sama.
Eh ngomong-ngomong aku boleh kenalan nggak?
Boleh.
Kenalin namaku Rudy. Kalo boleh tau namamu siapa?
Aku Fanda. Salam kenal ya.
Hi Fanda. Aku udah lama loh pengen deket sama kamu bahkan aku pernah inbox kamu tapi nggak pernah dibales. Kamu jutek bgt sih. Hehehe
Emang iya? Aku nggak inget.
Ya mungkin aku nggak terlalu penting buat cewek secantik kamu. Pastinya banyak bgt cowok yang deketin kamu.
Apaan sih. Biasa aja kali.
Oh ya ngomong-ngomong aku boleh minta nomer kamu nggak?
Buat apaan?
Ya biar bisa lebih deket sama Fanda. Boleh ya?
Emmmm. Oke boleh. Ini ya 0856-xxxx-xxxx
***Terima kasih Fanda
Sama-sama**
Tak menunggu waktu lama Rudy langsung menghubungiku. Dia tidak banyak modus atau mengirim pesan rayuan seperti laki-laki lainnya. Dia tahu bagaimana mengambil hatiku. Dia sering memberiku perhatian. Pikirku, tau aja ini orang aku lagi butuh pelampiasan. Ya, wajar saja kerjaanku kali ini benar-benar membuatku jenuh jadi aku ingin ada yang memanjakanku. Seringnya komunikasi membuatku merasa nyaman dengan Rudy. Bisa dibilang dia begitu ngemong. Segala perhatiannya membuatku luluh dan mulai ada sedikit rasa di hatiku. Dalam beberapa waktu akhinya benih-benih cinta hadir di antara kami. Begitu senangnya aku saat Rudy menyatakan cintanya padaku lewat pesan SMS.
***Fanda, kita sudah cukup dekat kan. Aku mulai merasa nyaman sama kamu. Apa kamu juga merasakan hal yang sama?
Kamu pasti tau jawabannya, Rudy. Dari sikapku menanggapi segala perhatian kamu mungkin sudah cukup untuk menjawab pertanyaan kamu.
Iya aku mau Rudy. Aku mau!
Terima kasih Fanda kamu sudah mau menerima cintaku. Selanjutnya aku akan menjaga cintamu selamanya dan kujadikan kamu satu-satunya. I Love You, Fanda Sayang.
Love You too My Rud. Aku pegang janji kamu***.
Aku begitu kasmaran hingga melupakan segala hal. Hari-hariku lebih ceria dan di sekitarku seperti bertabur bunga. Baru kali ini aku benar-benar merasa jatuh cinta yang begitu indah. Aku berharap seterusnya akan selalu begini. Aku tak ingin lagi bermain-main dalam cinta.
Setiap hari, setiap jam, menit, detik, Rudy selalu mengirimiku SMS perhatian. Aku merasa sangat dimanjakan. Ya, mungkin wajar karna baru jadian jadi semua hal terasa begitu indah. Di kantor yang biasanya selalu membuatku kesal kini jadi begitu indah sejak aku berpacaran dengan Rudy. Rudy selalu menemani waktu kerjaku dengan segala candaan dan perhatiannya. Walau kita belum pernah bertemu sebelumnya tapi rasanya seperti sudah saling mengenal lama.
Suatu malam saat kami sedang asik berbalas SMS, Rudy menanyakan suatu hal yang membuatku tak bisa berkata-kata. Dia bertanya tentang kesucianku.
***Sayang, aku ingin tanya sesuatu sama kamu tapi kamu harus jawab jujur ya.
Iya oke. Emang mau tanya apaan sih? Bikin penasaran aja kamu yank.
Janji ya harus jujur. Aku nggak suka diboongin.
Iya iya. Kamu mau tanya apa sih yank??? Jangan bikin tambah penasaran deh.
Sayang kamu masih perawan***?
Bagai petir di siang bolong, ini pertanyaan skak mat. Antara malu dan takut, aku tak langsung menjawab pertanyaan itu. Cukup lama aku terdiam. Bingung harus jujur atau bohong. Aku takut saat aku jujur, Rudy jadi benci dan meninggalkanku. Aku nggak mau hal itu terjadi. Seperti terdesak, aku hanya bisa berbohong padanya. Meski berat dalam hati harus berbohong.
***Aku masih perawan.
Kok lama jawabnya yank?
Iya habis dari toilet aku yank, maaf.
Oke. Tapi kamu beneran jujur kan?
Iya sayang***.
Tak lama Rudy langsung meneleponku. Dia kembali menanyakan kebenaran jawabanku. Rudy memastikannya sekali lagi. Aku hanya bisa pasrah dan terus berbohong. Aku belum bisa jujur padanya saat itu. Itu bukan wakti yang tepat. Terlebih kami baru saja jadian. Aku tak mau pupus begitu saja. Meski Rudy seakan mendesakku, aku mencoba untuk tetap tenang.