
Hari-hari pun berlalu dengan segala kegelisahan di hatiku. Aku masih menunggu kabar dari Marchel, dia bilang setelah semua urusannya selesai dia akan menghubungiku. Entah apa aku sudah mulai menyukainya ataukah karna aku hanya sedang membutuhkannya saja, aku begitu merindukannya. Aku selalu mengirim pesan line pada Marchel walau itu selalu terkirim namun tak satupun dari pesanku yang terbaca. Tiga hari berturut-turut aku selalu mengirim pesan pada Marchel dan masih saja pesanku tak terbaca oleh Marchel. Bahkan Emma selalu menghiburku. Sampai pada suatu hari ketika aku dan Emma sedang membicarakan Marchel, aku melihat pesan-pesan yang kukirimkan pada Marchel sudah terbaca 10 menit yang lalu. Aku langsung mencoba meneleponnya namun nomornya sudah tidak aktif lagi. Ya Tuhan haruskah ini terjadi lagi? Jika memang dia bukan takdirku maka berikanlah jalan padaku untuk menentukan pilihan. Digantungkan itu rasanya begitu menyesakkan hati. Aku tidak bisa menentukan pilihan, akankah lanjut atau berhenti. Lebih baik aku menemuinya sekali lagi dan memutuskan pilihan.
Aku meminta Emma untuk mengantarku menemui Marchel di tempat biasa adiknya berjualan kopi. Sesampainya disana, aku melihat Marchel tengah sibuk dengan teman-temannya yang lain.
"Marchel, bisa ngobrol sebentar?"
"Oke." kata Marchel sambil mempersilahkanku duduk di bangku sebelah.
"Ada apa Fanda?"
"Marchel, aku cuma mau kejelasan saja. Aku nggak mau menunggu tanpa kepastian."
"Fanda kamu tahu kan posisiku gimana?"
"Iya tau tapi dengan sikap kamu delcont kontak aku, chat line yang cuma dianggurin. Itu sama aja dengan ngehindarin aku Marchel."
"Kejelasannya aja, kalo lanjut ayo kita mulai lagi dari awal, kalo udahan juga aku bisa terima itu. Aku hanya nggak mau pusing dengan hal ini."
"Fanda maaf jika aku sudah mengecewakanmu, tapi lebih baik kita break dulu ya."
"Oke aku udah tau jawabannya. Terima kasih untuk waktu yang singkat ini. Kalo gitu aku pamit dulu ya."
Akupun langsung meminta Emma untuk segera kembali. Tak ada satu kata pun yang terucap sejak aku pergi meninggalkan Marchel. Mungkin benar apa kata Emma bahwa Marchel masih memiliki ego yang besar. Satu kesalahan yang kulakukan sudah menutup hatinya. Padahal kesalahan yang kulakukan hanya ingin terus berkomunikasi dengan Marchel. Karena aku ingin berbagi suka dan duka dengannya. Nyatanya hal itu justru menjadi bumerang untukku.
Hari-hariku masih cukup berduka. Dalam hatiku, Aku tidak bisa terus seperti ini. Aku harus melakukan sesuatu untuk melupakan rasa sakit hatiku. Aku mulai terpikir untuk mulai bekerja lagi. Aku tidak ingin menghabiskan waktuku dengan segala yang diberikan Ayah. Aku harus menutup segala kebutuhanku dengan uangku sendiri.
Selama beberapa hbesok.aku mencoba mencari pekerjaan. Namun hanya ada satu pekerjaan di sebuah pabrik yang tidak memerlukan ketentuan ijazah. Mengingat aku hanya tamatan SMP. Sungguh memalukan memang, bisa dibilang Ayahku sanggup menyekolahkanku hingga kuliah namun aku memilih berhenti sekolah hanya karna keadaan Ayah dan Ibuku bercerai. Sekarang aku sadar dengan hanya bermodal ijazah SMP saja tidak bisa mencari pekerjaan yang layak.
Baru sehari aku menyerahkan lamaran, esoknya aku sudah dipanggil untuk mulai bekerja. Aku sudah cukup mempersiapkan diri untuk mulai bekerja besok. Dengan segala kesiapanku, namun hati dan pikiranku masih saja merenungi pupusnya cintaku bahkan hal yang baru saja dimulai harus pupus bersama angin lalu. Akankah terus seperti ini, Tuhan? Tak bolehkah aku mengharap seseorang untuk mencintaiku?