
Satu beban lagi sudah berkurang dari pundakku. Meski aku sudah mengakhiri hubunganku dengan Fery, aku masih saja merasa bersalah hingga saat ini. Namun takdir siapa yang tahu? Tidak ada yang menyangka jika jalannya harus seperti itu.
Hari berikutnya, aku bisa bebas melakukan apa saja tanpa terhalang status. Bahkan aku sudah tak segan lagi bercengkrama dengan Andika. Tiap jam istirahat seusai makan siang, aku selalu mendengarkan Andika dan kawan-kawan bermusik dan bernyanyi untuk melepas penat. Bahkan Andika sering menyanyikan lagu yang menggambarkan isi hatinya dan sengaja ditujukan padaku. Bahkan beberapa teman dekat Andika bisa membaca bahasa tubuh Andika dan mengetahui bahwa ada sesuatu di antara aku dan Andika. Saat itu Andika bersama yang lainnya sedang membawakan lagu 'Ketaman Asmoro'. Andika bernyanyi dengan cukup menghayati lagu itu. Salah seorang teman yang bernama Farhat langsung berceletuk usai Andika selesai bernyanyi.
"Wah wah wah menghayati sekali ya. Si Andika lagi ketaman asmoro beneran nih. Sama siapa sih, Dik?" kata Farhat sambil memberi isyarat padaku dan Andika.
"Adalah.. someone pokoknya." jawab Andika sambil sedikit tersipu.
"Sialan lo, Dik. Seorang Andika yang suka nyeleneh bisa jatuh cinta juga ya. Pepet terus Dik sampe dapet. Bras bres bras bres hahahaha." sambung Farhat sambil sesekali melirikku dan aku membalasnya dengan senyuman.
Hatiku begitu berdebar akan keadaan ini. Apakah ini memang rasa seorang yang sedang jatuh cinta, seperti lagu Ketaman Asmoro yang dinyanyikan Andika. Sejak aku resmi berpisah dari Fery, aku lebih terbuka dengan Andika. Bahkan Andika jadi lebih perhatian padaku. Andika jadi sering membawakan sarapan untukku bahkan juga membawakanku camilan untuk pengganjal perut.
"Fandaaaa!!! Bener-bener lu ya!" teriak Fania padaku.
"Apaan sih Fan pake teriak-teriak segala!"
"Elu bener-bener deh! Lu udah nggak sama si Fery lagi kan? Jadi bener lu putus sama Fery gara-gara Andika?"
"Ssstt.. nggak usah banyak pertanyaan kayak gitu lagi deh. Pusing pala gue dengernya. Yang harus lu tau, hati nggak bisa dipaksain. Udah gitu aja."
"Tapi bener nggak elu sekarang sama si Andika?"
"Iya apa nggak, apa urusan lo."
"Sialan lu Nda! Kasih tau gue dong." kata Fania memelas padaku.
"Dasar tukang gosip!" jawabku sambil menyentil jidat Fania.
Ketika aku sedang berada di toilet, aku mendengar beberapa orang sedang bicara. Samar-samar aku mendengar pembicaraan mereka. Aku cukup mengenali beberapa suara dari pembicaraan itu. Salah satunya adalah suara Bocil.
"Iya ya bener juga. Model kayak gitu ya cuma manfaatin keadaan aja. Mentang-mentang cantik banyak yang naksir jadi seenaknya gitu. Iya nggak Cil?" kata wanita lain yang aku juga tak tau namanya.
"Etdah dasar perempuan sukanya gosip mulu. Emang kalian kenal deket sama si Fanda? Gurih bgt sih ngomongin hidup orang." jawab Bocil dengan gaya santainya.
"Ya emang sih nggak begitu deket juga tapi kan keliatan bgt jomplangnya, Fanda yang cantik banyak yang naksir bisa sama si Fery yang mukanya pas-pasan gitu pasti ya cuma buat mainan doang."
"Bener tuh." sahut wanita yang lain menyetujui.
"Kalian ini nggak tau apa-apa tapi banyak ngomong." jawab Bocil dengan nada sedikit tegas.
"Emang lu tau gimana Fanda, Cil?"
"Ya tau bgt lah orang gue sering bareng sama Fanda. Bahkan gue kenal gimana Fanda. Dan gue juga tau alasan Fanda lebih milih Andika ketimbang Fery. Dari segi umur, Andika memang sudah diusia matang dan sifatnya lebih ngemong. Beda sama Fery yang masih seumuran sama si Fanda, Egonya belum stabil. Kalo gue liet juga wajar lah kalo Fanda lebih nyaman sama Andika. Makanya mbak-mbak kalo mau ngomongin orang cari tau dulu kebenarannya jangan asal ngomong ujung-ujungnya jadi fitnah." kata Bocil menjelaskan pada kedua wanita itu.
Setelah menguping, aku pun keluar dari toilet dan menjumpai mereka bertiga. Melihatku keluar dari toilet kedua wanita itu jadi gugup dan malu melihatku. Aku berjalan biasa seperti tak terjadi apa-apa. Sambil melewati Bocil dan kedua wanita itu aku berjalan sambil menepuk pundak Bocil.
"Thanks bro!" kataku sambil mengedipkan mata.
Seakan tahu maksudku, Bocil membalas ucapanku dengan mengacungkan jempol padaku di hadapan kedua wanita yang sedang kebingungan itu.
"Elu sih pasti ketauan kalo kita lagi ngomongin dia." kata salah satu wanita itu.
"Ih kok jadi gue sih! Mana gue tau kalo orangnya ada di dalem." sahut wanita yang lain.
"Hahahaha makanya jangan suka ngomongin orang." ejek Bocil pada kedua wanita itu dan berlalu pergi.