
Dari semua temanku di pabrik, kebanyakan memang cowok. Dari dulu pun aku jarang memiliki teman cewek. Kenapa? Karna aku selalu punya cerita tak menyenangkan berteman dengan teman cewek. Karna terlalu sering bergaul dengan Mas Ramlan CS, aku jadi merasa begitu dilindungi dan aku merasa kedekatanku dengan salah satu temanku yang bernama Fery seperti ada sesuatu. Saat itu aku tak benar-benar memahami situasi. Aku hanya merasa senang ada seseorang yang begitu peduli dan perhatian padaku kadang juga begitu memanjakanku. Fery memang bukan seorang yang memiliki wajah rupawan bahkan banyak yang bilang aku dan Fery seperti langit dan bumi. Sebenarnya aku tak begitu memperhatikan fisik dari seseorang. Banyak sekali yang menentang kedekatanku dengan Fery namun aku tak begitu peduli. Saat itu yang kupikirkan, aku hanya ingin diperhatikan dengan kasih sayang oleh orang-orang di sekitarku.
"Lu suka sama si Fery, Nda?" kata Mas Ramlan memastikan.
"Nggak tau juga. Aku hanya merasa nyaman aja waktu kita bareng-bareng."
"Nih gue kasih tau lu, Nda." sambung Mas Ramlan sambil menunjukkan isi chat Fery.
"Ini beneran mas?" kataku girang.
"Ya iyalah lah emang gue pernah boong sama lu?"
"Nggak nyangka aku, mas."
"Jadi iya apa nggak?" kata Mas Ramlan memastikan pilihanku.
"Iya deh. Gue chat Fery lagi."
Aku pun mulai mengirim chat pada Fery dengan sedikit basa-basi untuk memancing Fery jujur mengatakan perasaannya. Dan sesuai dengan harapanku, Fery pun akhirnya mengatakan bahwa dia menyukaiku bahkan saat dia pertama kali melihatku. Fery bilang dia begitu minder mendekatiku. Aku menenangkannya dan mengatakan pada Fery bahwa aku tidak mematok perasaan seseorang hanya dengan tampilannya. Lalu aku bercerita pada Fery bahwa aku selalu salah pilih hanya dengan melihat penampilan seseorang. Aku pun berkata pada Fery bahwa aku tak lagi ingin berpacaran karna tujuanku kali ini adalah memperbaiki diri dan menikah. Fery pun setuju untuk menjalani hubungan ini dan mencari kecocokan karakter kami.
Kabar berhembus begitu cepat. Seluruh karyawan pabrik mengetahui hubunganku dan Fery. Awalnya aku ingin menutupi hal itu karna aku ingin hal itu menjadi privasiku saja. Banyak sekali yang begitu kecewa dengan keputusanku. Bahkan Ryan jadi semakin mengejekku karna dia berkali-kali menyatakan perasaannya namun selalu kutolak begitu saja.
"Fanda Fanda, demi seseorang yang tampangnya jauh dari gue, elu nolak gue berkali-kali? Mata lo udah rabun ya." kata Ryan mengejekku sambil merangkulku.
"Masalahnya apa sama lo, Ryan?" jawabku sambil menyingkirkan tangan Ryan.
"Masalahnya elu cantik sedangkan Fery? Mukanya aja begitu masa lu mau sih ama dia? Sedangkan gue, gue jauh lebih baik secara penampilan dari Fery."
"Lu tau nggak kenapa gue selalu nolak elu?"
"Kenapa?"
Sesampainya di dalam ruang produksi, Fania dan yang lainnya sudah menungguku untuk diintrogasi. Aku melihat semua mata tertuju padaku. Aku merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Aku hanya mengacuhkan segala pandangan itu.
"Fanda, beneran nih kabar lo sama si Fery?" kata Fania sambil terus mengikutiku.
"Kenapa pada kepo sih?"
"Tinggal jawab aja.. Iya apa nggak?"
"Iya."
"Mata lo nggak lagi sakit kan Fanda?" kata Fania sambil memegang kepalaku dan memeriksa mataku.
"Apaan sih, Fan?! Gue masih sehat oke!"
"Kenapa lu bisa jadian sama si Fery?"
"Nggak tau, gue ngerasa nyaman aja."
"Nyaman dalam hal apa Fanda? Kalo itu bukan karna hati mending jangan lu terusin. Jangan jadi cewek jahat yang PHP-in cowok. Awas loh kalo sampe si Fery bener-bener udah ngasih hatinya sama lu malah elunya nggak cinta."
"Bener juga kata lo, Fan. Harusnya gue lebih bisa memahami situasinya."
"Nah kan jadi sekarang baru nyesel nih?"
"Nggak juga. Karna udah terlanjur lebih baik gue lebih mengenal dia aja dulu. Perkara lanjut apa nggak kan bisa sambil jalan."
"Ya saran gue aja sih, jangan terlalu kasih harapan."
"Iya beb."