My Life is Gloomy

My Life is Gloomy
Was Was



Sejak malam itu hubunganku dan Andika jadi lebih serius. Bahkan kami sudah tidak merasa sungkan lagi. Kami tidak pernah menutup-nutupi kepribadian kami yang sebenarnya. Dan dalam bercanda pun kami sudah begitu bebas membahas segala sesuatu bahkan tentang hal yang begitu vulgar. Andika sering sekali membahas hal yang begitu vulgar dan menantangku.


"Dingin-dingin gini enaknya ngapain ya?" Tulis Andika dengan emot ngiler.


"Enaknya ya yang anget-anget lah." jawabku santai sengaja menantang balik.


"Uh pengen bgt nih yang anget-anget."


"Apaan emang?"


"ML."


"Emang berani?"


"Aku mah berani bgt lah. Kalo kamu berani enggak?"


"Nantangin nih ceritanya?"


"Jawab aja mau nggak?"


"Berani bgt lah. Ayo kapan, aku tantang balik."


"Ah kamu pasti nggak berani."


"Berani 100%."


"Yakin nih?"


"Iya lah. Ngapain juga boong."


"Oke. Aku tagih janji kamu malming besok ya. Awas kalo ingkar janji. Hehehe."


"Oke siap. Aku mah pantang menyerah. Wkwkwkwk."


Dan dari candaan itu semuanya justru jadi semakin serius. Aku menyadari bahwa apa yang diucapkan Andika hanyalah candaan saja. Namun aku sudah terlanjur menanggapi hal itu dengan serius. Disaat aku menagih janji Andika, aku melihat Andika begitu cemas. Mungkin Andika memang enggan melakukan hal itu, namun semua itu sudah terjadi.


Malam itu di Sabtu malam, kami menyewa sebuah hotel. Kami hanya mengobrol sambil tiduran dan menonton TV. Entah mengapa aku merasa malu memandang Andika. Sekilas aku pun melihat Andika juga merasa malu. Hingga di dalam keheningan, Andika mulai meraih tanganku dan langsung menciumku. Kami mulai melakukan fore play dan larut ke dalamnya. Aku mulai mengambil kendali. Cukup lama kami bergelut dalam kenikmatan hingga akhirnya Andika mencapai klimak. Malam itu berakhir dengan sebuah pelukan dan kami mulai terlelap.


Langit sudah mulai terang. Kami terbangun karna terkejut dengan suara ketukan pintu. Kami sempat merasa was-was saat itu. Takut ada penggrebekan. Karna saat itu kami belum resmi menikah. Aku bersembunyi di kamar mandi, sementara Andika mencoba membuka pintu.


"Siapa tadi yang ketuk pintu?" kataku penasaran.


"Layanan kamar. Nih dapet nasgor sama teh anget. Ayo makan, laper kan?" jelas Andika.


"Ayo buruan makan mumpung masih panas."


Melihatku begitu lahap memakan nasi goreng. Andika pun mulai berbicara.


"Fanda, kalo ada apa-apa kamu bilang sama aku ya." kata Andika dengan sedikit rasa cemas tergambar di wajahnya.


"Iya pasti." jawabku sambil terus melahap nasi goreng.


"Kamu beneran sayang nggak sih sama aku? Kamu beneran mau seriusan sama aku kan, Fanda?" sambung Andika.


"Ya serius lah aku sayang sama kamu. Aku juga udah sering bilang kalo aku udah bener-bener klik sama kamu kan. Jawabanku masih tetap sama, aku mau seriusan sama kamu."


"Makasih sayang. Sayang bgt sama kamu." kata Andika sambil memelukku dan mencium keningku.


Pagi itu setelah selesai makan dan cukup mengobrol, kami langsung bergegas pulang. Sebenarnya saat itu aku masih ingin bersama Andika. Masih ingin menghabiskan waktu libur itu bersama Andika. Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan bersih-bersih. Saat sedang bersantai di sofa, Andika mengirimiku pesan chat BBM.


"Udah mandi belum yank beb?"


"Udah lah. Udah wangi tau."


"Masa sih?"


"Iya lah. Sini deh kalo nggak percaya cium sendiri."


"Hehehe. Kangen aku sama kamu."


"Baru juga pisah bentar udah kangen?"


"Ya iyalah. Emang kamu nggak kangen?"


"Ya kangen sih. Sebenernya masih pengen sama kamu. Katanya seharian bakal kita habisin bareng."


"Kamu nggak bilang kalo masih pengen berduaan sih."


"Ah kamu mah selalu gitu."


"Hehehe besok-besok deh kita habisin waktu sehari buat seneng-seneng ya."


"Oke siap."