My Life is Gloomy

My Life is Gloomy
Candu



Kejadian malam itu tidak akan pernah aku lupakan. Dosa terindah yang aku lakukan dengan Kak Rio. Kehilangan keperawanan tidak membuatku merasa hina justru merasa ketagihan. Bahkan aku ingin melakukannya lagi dan lagi tiap kali aku teringat akan malam itu. Surga dunia itu memang benar-benar nikmat. Hal yang bisa membuat setiap orang terasa melayang. Kini aku benar-benar merasa seakan lupa diri jika mengingatnya. Tiap kali teringat selalu saja aku mulai berfantasi liar. Mengingat kembali kenikmatan sentuhan demi sentuhan di sekujur tubuhku. Mengingat bagaimana Kak Rio meraba bagian vitalku dengan begitu lembut penuh kenikmatan. Ah sial! Aku benar-benar merasa kecanduan.


Beberapa hari ini aku tak pernah melihat Kak Rio di rumahnya. Chika sendiri pun tak tahu kemana perginya kakaknya itu. Aku sempat merasa kecewa karna sejak kejadian malam itu aku tidak bisa bertemu dengannya bahkan tak bisa menghubunginya. Aku berfikir jika Kak Rio akan mengabaikanku setelah ia mengambil keperawananku.


Suatu malam ketika aku dan teman-temanku berkumpul di rumah Chika, salah seorang tetanggaku yang bernama Sally datang dan agak sedikit mabuk. Yang aku tahu, Sally memang suka minum alkohol. Dia datang dan langsung duduk di antara kami. Tanpa basa basi dia langsung mengambil handphone-nya dan menunjukkan kami film-film porno.


"*Hei, kalian mau lihat nggak?! Ini nih yang bisa bikin *!"


"Ah apaan sih! Aneh-aneh aja lu! Kalo abis minum mending pulang aja sono malah gangguin kita lagi ngobrol!". Jawab Chika dengan nada agak risih.


"Ah lu semua pada kuper banget sih! Nih gua kasih lihat film porno. Gua aja tiap kali liat langsung jadi **". Tak peduli keadaan, Sally langsung memutar salah satu koleksi film porno-nya dan menunjukkan pada kami.


"Mana coba liat! Gue jadi penasaran sama tontonan lu tiap hari". Ucap Emma dengan penuh penasaran.


Emma menonton dengan serius. Teman-teman yang lain pun jadi ikut penasaran termasuk aku sendiri. Kami menonton dengan penuh keseriusan. Beberapa film sudah kami tonton, namun teman-temanku masih saja betah melihat film-film itu karna penasaran. Berbeda denganku yang merasa panas sekujur tubuh setelah melihat film-film itu. Aku merasa seakan ada gejolak dalam diriku yang membuatku semakin bergairah. Dalam pikirku, aku ingin sekali melakukannya lagi dengan Kak Rio. Fantasiku mulai tak terkendali. Tak tahan dengan hasratku, aku pun pergi ke kamar mandi dan melakukannya seorang diri di dalam kamar mandi. Tak lama pun aku masturbasi. Nikmat memang meski tak senikmat ketika aku melakukannya dengan Kak Rio.


Sepulang dari rumah Chika, aku mulai ketagihan untuk menonton film porno. Aku merasa itu menjadi kebutuhanku. Aku pun mulai mencari film-film porno di internet. Semakin sering aku menonton, semakin besar pula gairahku. Namun sayangnya hingga saat ini pun aku masih belum bisa menghubungi Kak Rio. Entah apa yang sebenarnya terjadi pada Kak Rio. Aku hanya tak ingin Kak Rio mencampakkanku begitu saja setelah kejadian itu.


"Maaf ya, aku hilang tanpa kabar".


"Iya nggak apa-apa. Ku kira kamu mau mencampakkanku!".


"Nggak akan! Kamu tenang aja!". Sambil mengusap rambutku, Kak Rio melanjutkan perkataannya.


"Fanda, maaf. Kalau ada apa-apa kamu kasih tau aku ya! Aku nggak bisa tenang memikirkan ini. Aku takut kamu hamil!".


"Iya Kak. Nggak masalah".


"Kalau mau melakukannya lagi mending pake pengaman aja ya!".


"Siap!". Seakan saling merindukan, gairah kami membuat kami berhasrat untuk melakukannya lagi. Siang itu, kami kembali beradu hingga benar-benar merasa nikmat tiada tara. Oh Kak Rio, kamu benar-benar membuatku merasa candu.