My Life is Gloomy

My Life is Gloomy
Survive



Hatiku sangat hancur saat menerima pesan dari Faisal. Bagaimana tidak, isi pesan itu dengan halus menyuruhku untuk melupakannya.


"Maaf akan lebih baik kalau kita jadi kakak-adik aja. Aku masih akan terus peduli sama kamu. Aku akan memperlakukanmu seperti biasanya tapi aku tidak bisa meneruskan hubungan ini. Mohon kamu mengerti."


"Aku nggak mau kayak gini! Apa ini karna dia?"


"Maaf, Fanda."


Saat aku mencoba untuk meneleponnya lagi, nomor teleponnya sudah tidak aktif lagi. Seketika aku menangis tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Jalanku benar-benar buntu. Kenapa harus seperti ini. Dulu ketika aku mengandalkan seseorang sebagai pelarian, aku selalu ditinggalkan setelah memanfaatku dan saat ini ketika aku tulus mencintai seseorang, aku kembali ditinggalkan. Apakah ini karmaku karna dulu aku pernah menyia-nyiakan perasaan Kak Fahmi?


Aku menjalani hari dengan penuh kemurungan dan kesedihan hingga teman-temanku tak tega melihatku seperti ini. Mereka selalu memberiku dukungan dan selalu menyemangati aku untuk segera move on. Mungkin benar, tapi tak semudah itu melupakan hal yang sudah membekas di hati yang paling dalam.


Di Minggu pagi aku baru saja jogging bersama teman-temanku. Tak sengaja aku melihat Faisal di depan kos-nya yang sepertinya sedang menunggu seseorang. Aku sangat bahagia akhirnya bisa bertemu dengannya, namun aku merasa Faisal mulai menghindariku.


"Faisal." Berjalan menghampirinya.


"Oh hai, Fanda. Kamu mau kemana?" Pandangannya agak merasa kurang nyaman karnaku.


"Aku mau pulang. Oh ya, Faisal...." Belum selesai berbicara, Faisal sudah menyelaku.


"Oke." Aku pun pergi dengan hati yang hancur berkeping-keping.


Bagaimana bisa begini? Kenapa rasanya setiap kali aku menggunakan perasaanku justru aku harus merasa tersakiti seperti ini? Apakah perasaanku ini tak berarti apa-apa? Dari nenekku, Ibuku dan semua orang yang aku sayang, kenapa harus hatiku yang dihancurkan. Saat itu juga aku berfikir bahwa tak akan pernah menggunakan hati untuk kesekian kalinya. Mulai saat ini juga aku akan menjadi seorang yang berhati batu!


Sejak benar-benar berpisah dari Faisal, aku cukup banyak berdiam diri di rumah. Bahkan teman-temanku sampai heran kenapa aku bisa berubah 360° dari biasanya. Kali ini aku berubah menjadi seseorang yang gampang sekali marah, bahkan jika ada seorang yang menyinggungku, aku langsung saja memakinya habis-habisan. Melihatku seperti tidak ada tujuan, Emma menasehatiku untuk melepas segala kekesalan di hatiku termasuk melepas segala kenangan bersama Faisal.


"Fanda, kenapa harus seperti ini sih? Nggak asik tau! Move on dong lepasin semuanya. Masa gara-gara satu orang cowok lu jadi gini. Biasanya aja lu deket sama banyak cowok. Ayo dong jadi Fanda yang biasanya!"


"Bodoamat ah! Gue lagi badmood!"


"Fanda, dunia ini nggak akan hancur hanya karna satu cowok doang! Lebih baik lu maen keluar cari temen yang banyak syukur-syukur dapet gebetan dan lupain itu Faisal. Udah ya stop! Gue nggak mau liet lu gini lagi, oke beb?"


"Iya oke. Makasih Emma lu emang sahabat gue yang paling baik."


"Sama-sama beb."


Waktu berlalu begitu cepat. Aku menuruti saran Emma untuk banyak bergaul dengan banyak orang dan perlahan aku bisa melupakan Faisal.