
Sejak aku dekat dengan Andika, aku merasa begitu nyaman bersamanya. Dengan kata lain, aku menemukan suatu hal yang aku cari ada pada Andika. Karakternya yang humble, suka bercanda dan selalu membuat kehebohan untuk mencairkan suasana. Bahkan sosok Andika ini terkadang mirip sekali dengan Ayahku. Sifat dan karakter Andika sudah paket komplit. Tiap kali bekerja, Andika selalu saja mengajakku mengobrol atau sekedar bercanda.
"Kamu nggak godain si Tika lagi, mas?"
"Nggak ah, godain kamu aja maunya." kata Andika berbisik.
"Bukannya kemaren kamu justru godain Tika ya bukannya aku?"
"Kamu cemburu ya?"
"Nggak biasa aja."
"Padahal kamu punya pacar loh kok bisa sih cemburu liat aku godain orang lain. Hahaha lucu deh kamu."
Mendengar kata-kata Andika, sejenak aku berpikir bahwa selama ini saat aku bersama Fery, aku tak pernah merasakan hal yang tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Dengan Fery, aku tak merasakan sesuatu yang bergetar dalam hatiku. Namun berbeda saat aku bersama Andika, aku selalu merasa ingin terus dekat dengannya. Hatiku selalu dag dig dug tak karuan saat bersamanya. Melihatku terdiam, Andika kembali berkata padaku.
"Lagi mikir apaan sih malah bengong?"
"Nggak ada kok."
"Pasti lagi mikir kalo kamu nyesel pacaran sama si Fery bukannya aku. Iya kan?"
"Pede amat sih."
"Tuh mukamu merah. Pasti bener kan tebakan aku?"
"Mukaku merah karna panas tau."
"Ah ngeles aja kamu tu."
"Biarin."
Jam istirahat pun tiba. Kali ini aku tak lagi bergabung dengan Mas Ramlan CS. Aku mulai menjauh dari Fery. Aku merasa inilah saatnya aku harus menentukan tindakan. Aku tak ingin menyakiti Fery terlalu jauh karna aku sama sekali tak memiliki perasaan padanya. Sebenarnya aku ingin langsung mengatakan pada Fery yang sebenarnya tentang perasaanku yang terlalu terbawa situasi dan menganggap kenyamanan bersama Fery sebagai sesuatu yang spesial. Nyatanya aku hanya terlalu senang dengan kebersamaan kamu yang begitu kompak.
"Kamu nggak mau ngopi?" kata Fery menawarkan kopi padaku.
"Aku udah bawa kok."
"Mau makan nggak?"
"Ini aku udah pesen nasgor."
"Loh tumben nggak makan disini."
"Takut nggak bisa balik. Bentar lagi ujan aku nggak bawa payung."
"Oh ya udah kalo gitu. Makan yang banyak ya."
"Iya iya."
Setelah nasgorku jadi, aku pun langsung masuk ke dalam pabrik. Suasana di dalam memang cukup ramai. Banyak orang yang tidak keluar karna saat itu langit sudah cukup gelap pertanda hujan lebat akan segera turun. Saat masuk ke bagian produksi, aku melihat Andika tengah bermusik dan bernyanyi bersama teman-teman yang lain. Aku pun duduk di sudut dan mulai makan. Baru saja membuka bungkus makanan, Andika datang dan duduk disampingku.
"Hmmm enak nih baunya."
"Boleh nih?"
"Ya boleh lah. Lagian ini porsinya banyak banget."
"Coba icip dikit kalo enak besok nitip ya."
"Oke deh."
Andika pun langsung mencoba nasi goreng yang aku beli.
"Ya lumayan rasanya. Kamu beli di kantin?" kata Andika sambil terus mengunyah.
"Bukan aku beli di depan pabrik."
"Berapaan?"
"Sepuluh ribu dapet segini banyak."
"Wah murah juga ya. Besok beli lah, beli satu porsi aja buat berdua."
"Hmmm maunya."
"Kan biar romantis gitu." sambung Andika sambil memelukku.
"Rokok makan gratis?"
"Hahaha sayang bisa aja."
"Ih pake sayang-sayang segala."
"Nggak boleh ya?"
"Ya boleh-boleh deh." kataku sambil melahap sesuap nasgor.
"Yes! I love you." sambung Andika sambil menatap mataku.
Mendengar kata-kata Andika membuatku tersedak. Lalu Andika mengambilkan air minum untukku.
"Pelan-pelan dong makannya. Baru aja bilang I Love You malah keselek."
"Kamu sih..."
"Aku kenapa?"
"Nggak apa-apa kok."
"Ya udah makan dulu aja."
"Oke."